AsiaCalling

Home Berita Afghanistan Masyarakat Afghanistan Tak Punya Waktu Mengurusi Politik

Masyarakat Afghanistan Tak Punya Waktu Mengurusi Politik

E-mail Cetak PDF

 Photo: http://msmagazine.com

Download Setelah 18 hari tidak minum dan makan, bekas anggota parlemen bernama Simin Barakzai menghentikan aksi mogok makannya.

Barakzai berunjuk rasa menentang korupsi politik.

Seperti yang dilaporkan Zubair Babakarkhail di Kabul, ini adalah satu cara yang tak biasa dilakukan bagi aktivis di Afghanistan.

Pada hari ke-13 mogok makan Simin Barakzai, polisi datang dan membongkar tendanya.

Dengan kondisi fisik yang sangat lemah, ia dibawa ke rumah sakit.

Keluarganya mengatakan, ia hampir meninggal.

Simin adalah perempuan pertama di Afghanistan yang mogok makan, tapi gagal.

Muhammad adalah suaminya.

“Orang-orang yang memilih dia di Provinsi Herat berdemonstrasi di sana untuk mendukung mogok makannya. Tapi Anda lihat, di negara-negara lain masyarakat dan pemerintah sudah megenal dan menghormati demokrasi. Sayangya di Afghanistan belum seperti itu. Demokrasi masih jadi hal baru dan masyarakat belum tahu banyak soal itu.”

Barakzai adalah salah satu dari sembilan anggota parlemen yang didiskualifikasi atas rekomendasi tribunal khusus yang didirikan oleh Presiden Hamid Karzai.

Para kritikus mengatakan, ia mencoba menakut-nakuti anggota legislator supaya menuruti dia.

Ajmal Sohaid ikut mogok makan itu di hari yang ke-10.

Ia menuturkan, inilah saatnya bagi orang Afghanistan untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

“Kami tidak berharap pada pemerintah yang korup. Pemerintah ini selalu membuat keputusan secara tertutup. Kami tidak berharap pemerintah semacam itu bisa melakukan hal-hal yang positif. Sebenarnya ide kami adalah komunitas internasional harus ikut terlibat dalam aksi ini, sekaranglah saatnya. Kalau tidak, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan martabat manusia di Afghanistan akan hancur. Jadi dalam hal ini, kami minta komunitas internasional dan masyarakat Afghanistan untuk bergabung dengan kami.”

Menurut laporan LSM Transparansi Internasional tahu lalu, Afghanistan adalah negara ke-dua yang paling korup di dunia.

Sohail yakin perjuangan politik sangat dibutuhkan.

“Awalnya masyarakat tidak percaya dengan turbulensi politik yang terjadi di Timur Tengah. Tapi akhirnya semua orang melihat berbagai rezim korup dan absolut pergi dan digantikan dengan pemerintahan demokratis. Jadi kami ingin sekali masyarakat Afghanistan memahami bahwa sekaranglah saatnya untuk bertindak, dan inilah gerakan yang tepat seperti di Timur Tengah.”

Pada 2005, Ghazi Anwar, membakar dirinya sendiri di depan kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kabul.

Ia berjuang demi mendapatkan status pengungsi.

Ia tewas karena luka bakar.

Pakar politik Fraooq Meranai menuturkan unjuk rasa perorangan seperti ini bakal gagal untuk mendorong gerakan yang lebih luas.

Ia yakin tidak ada kelompok oposisi atau kelompok sipil yang kuat.

Ada sekitar 100 partai politik di Afghanistan, dan masing-masing mengklaim punya ratusan ribu anggota.

Tapi, tak satupun secara jelas bertindak sebagai partai oposisi pemerintah.

Hezb-e-Eqtidare Millie adalah salah satu partai terbesar.

Mereka menggelar unjuk rasa menentang hak air Iran dan ikut campurnya negara itu ke dalam masalah dalam negeri Afghanistan.

Namun, isu demonstrasi seperti ini tidak menarik perhatian masyarakat awam seperti Satar Khan, 35 tahaun, yang bekerja di tempat penukaran mata uang.

“Semua orang sudah kewalahan dengan masalahnya sendiri. Perang yang terjadi selama 30 tahun terakhir, membuat orang miskin. Masyarakat sibuk dengan hidupnya sendiri, mencari uang untuk beli roti dan mereka tidak punya waktu untuk unjuk rasa dan pertemuan politik yang tidak berguna. Selain itu semua pejabat dan politisi terlibat korupsi. Bagaimana kami bisa mempercayai pencuri?”

Tapi pakar politik bernama Farooq Merannai menuturkan, orang Afghanistan harus bersatu untuk menuntut tata kelolaan pemerintah yang lebih baik.

“Kali ini masyarakat harus ambil resiko, bersedia untuk berkorban, bahu membahu dan bersatu. Sampai kapan masyarakat menunggu untuk perdamaian dan demokrasi? Kalau demokrasi datang dengan usaha dan kekuatan orang Afghanistan, itu baru demokrasi yang sebenarnya. Tapi demokrasi yang diberikan oleh orang lain 10 tahun lalu, bukan demokrasi yang sejati karena masyarakat tidak tahu sama sekali arti dari demokrasi.”

Simin Barakzai mengakhiri mogok makannya, setelah komisi senat dibentuk untuk menginvestigasi kasusnya.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 24 Oktober 2011 11:19 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search