AsiaCalling

Home Berita Malaysia Perpindahan Besar-besaran Sarjana Malaysia ke Luar Negeri

Perpindahan Besar-besaran Sarjana Malaysia ke Luar Negeri

E-mail Cetak PDF

Download Menurut laporan Bank Dunia baru-baru ini, perpindahan orang-orang dengan keterampilan khusus dari Malaysia ke luar negeri sudah sampai tahap yang berbahaya, tanpa ada tanda-tanda akan berakhir.

Sekitar sepertiga dari satu juta di komunitas Malaysia di luar negeri adalah lulusan universitas.

Dan hampir 60 persennya bekerja di Singapura, atau Australia dan Inggris, sebagai tujuan utama berikutnya.

Clarence Chua mencari tahu alasan di balik perpindahan tenaga ahli Malaysia ini.


“Pekerjaan di Malaysia itu sifatnya sangat top down, atasan-bawahan. Biasanya manajer Anda akan memberitahu Anda apa yang harus dilakukan dan Anda hanya bisa melaksanakan apa yang diperintahkan. Menurut saya itu sangat mengekang.”

Jason Sundram punya gelar seni dari salah satu universitas ternama di Australia dan bekerja sebagai analis media di Kuala Lumpur.

Penghasilannya kurang dari Rp 12 juta sebulan. Jumlah ini sangat kecil bila dibandingkan dengan apa yang didapat beberapa bekas teman sekelasnya di Melbourne.

“Tentu saja pekerjaan khusus saya digaji lebih tinggi di Australia. Dengan pengalaman khusus saya, di Australia akan lebih mudah untuk mendapatkan hingga Rp 60 juta dibandingkan di Malaysia. Di sini saya harus berjuang untuk bisa dapat Rp 14 juta karena itu sangat sulit.”

Prospek pekerjaan yang lebih baik di luar negeri juga menarik banyak etnis Melayu yang berpendidikan tinggi untuk meninggalkan Malaysia.

Dr Nor Ghani seorang analis senior Merdeka Center, sebuah perusahaan riset independen.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini bukan hanya orang Cina dan India saja yang pergi, tapi banyak juga orang Melayu yang meninggalkan negara ini. Menurut saya alasan utamanya lebih kepada insentif ekonomi, kehidupan yang lebih baik, kondisi ekonomi yang lebih baik, dan standar hidup yang lebih baik, di negara lain. Anda menghabiskan begitu banyak uang untuk belajar di Australia, bisa mencapai Rp 800 juta dan Anda kembali ke sini dan bekerja untuk sebuah perusahaan lokal. Anda hanya mendapatkan sekitar Rp 9 juta sebulan. Ini jelas tidak seimbang dengan uang yang sudah Anda keluarkan. Maka wajar Anda mencoba mencari hal-hal yang lebih baik dalam hidup ini.”

Tetapi menurut Bank Dunia, orang non-Melayu masih menjadi kelompok terbanyak yang pergi ke luar negeri, dalam masyarakat Malaysia yang multi etnis.

Jumlah orang Malaysia dengan keterampilan khusus yang hidup di luar negeri, meningkat tiga kali lipat dalam dua puluh tahun terakhir – dua dari 10 warga Malaysia dengan pendidikan tinggi memilih untuk tinggal di negara-negara maju.

Saya bertemu dengan ekonom dan analis politik Dr Ong Kian Ming di sebuah kafe di pusat kota.

Dia menjelaskan, alasan orang Malaysia bekerja di luar negeri lebih dari sekedar uang.

“NEP atau Kebijakan Ekonomi Baru yang dilembagakan setelah kerusuhan rasial tahun 1969, dimana kebijakan afirmatif secara institusi diberlakukan di banyak sektor ekonomi. Dua tujuan utama NEP adalah untuk mengurangi kemiskinan, yang saya pikir Malaysia telah cukup berhasil. Tujuan kedua adalah untuk merestrukturisasi masyarakat sehingga pekerjaan tidak terkait dengan ras. Idenya adalah agar lebih banyak keterlibatan Bumiputra atau orang Melayu di sektor perekonomian, di mana dulunya mereka terkucilkan dari sektor ini.”

“Juga ada kuota rasial baik secara resmi atau pun tidak, yang mencegah banyak sarjana non-Melayu yang kompeten untuk bisa naik ke jenjang karir yang lebih tinggi. Pegawai Negeri sebelum muncul NEP komposisinya nyaris hampir serupa dengan komposisi etnis keseluruhan negeri ini. Tapi setelah NEP, dari waktu ke waktu, orang non-Melayu dalam pemerintahan menyusut drastis, mungkin di bawah 10 persen saat ini. Hal ini sangat sulit bagi Anda misalnya untuk memulai bisnis atau untuk mendapatkan kontrak dari pemerintah, bila Anda tidak punya mitra bumiputra. Jadi saya pikir makin banyak orang lebih memilih pergi luar negeri, karena mereka di sana tidak akan menghadapi pembatasan semacam ini.”

Sam dan Julia Wong tinggal di pinggiran kota kelas menengah di ibu kota Kuala Lumpur.

Keduanya profesional muda – bila gaji keduanya digabung, jauh di atas rata-rata nasional.

Tapi Julia mengatakan mereka tengah mempertimbangkan untuk meninggalkan Malaysia.

“Ketika kami memutuskan untuk melamar untuk meninggalkan Malaysia, alasan yang paling utama adalah rendahnya kualitas sistem pendidikan di sini. Karena kami punya dua anak, kami harus memikirkan masa depan mereka. Selain itu, ketegangan politik dan agama kian meningkat di Malaysia dan kami ingin punya rencana alternatif jika situasi kian memburuk.”

Ketegangan rasial dan agama terus meningkat sejak koalisi Barisan Nasional yang berkuasa, yang dipimpin Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) kehilangan lima negara bagian dalam pemilihan umum 2008.

Dalam upaya nyata untuk memenangkan kembali dukungan orang Melayu dalam pemilu yang akan datang, UMNO yang didukung kelompok sayap kanan Melayu Perkasa dan surat kabar berbahasa Melayu, Utusan Malaysia, menuduh partai oposisi non-muslim mencoba menjadikan Malaysia sebagai sebuah negara Kristen.

Dan baru-baru ada laporan peningkatan orang Kristen yang menarik masuk Muslim.

Sebuah jajak pendapat terbaru Merdeka Center menunjukkan tingkat kepercayaan antara ras di Malaysia memburuk dan sebagian besar menyalahkan politik sebagai penyebabnya.

Kembali Dr Nor Ghani.

"Saya rasa ini mengkhawatirkan karena orang akan berpikir Negara maju karena membaiknya tingkat pendidikan. Anda mengharapkan orang lain walau tidak merayakan keragaman, setidaknya mampu bertoleransi satu sama lain. Beberapa orang bilang ini permanen. Ini hasil dari faktor sistemik. Beberapa dikaitkan dengan cara kita membesarkan anak-anak kita di sekolah yang terpisah. Ada juga orang Melayu yang merasa terancam untuk beberapa lama. Orang Melayu pada umumnya telah tunduk pada keyakinan bahwa pelindung hak-hak Melayu terletak pada UMNO sehingga ketika mereka melihat kekuatan UMNO yang terkikis, secara alami mereka merasa terancam. Kita harus mengakui banyak masyarakat non-Melayu merasa diperlakukan tidak sama dengan orang Melayu di Malaysia dan itu bisa menjadi alasan tambahan mengapa mereka meninggalkan negeri ini.”

Tujuan utama hijrahnya oraang-orang Malaysia yang punya keahlian itu adalah Singapura.

Analis politik Dr Ong Kian Ming menjelaskan alasannya.

“Salah satunya adalah kedekatan; juga kesamaan dalam budaya, bahasa dan lingkungannya. Tapi saya pikir alasan ketiga juga sangat penting, yaitu kebijakan aktif pemerintah Singapura untuk merekrut secara aktif orang Malaysia di semua tingkatan, untuk tinggal menjadi penduduk tetap dan kemudian menjadi warga Negara Singapura. Di Singapura ada beasiswa yang diberikan kepada orang Malaysia di tingkat universitas, yang sebenarnya memaksa mereka untuk bekerja di Singapura.”

Meski dalam kondisi ketidakpastian, keluarga Wong memutuskan untuk tetap tinggal di Malaysia. Setidaknya untuk saat ini.

Julia Wong menjelaskan keputusan mereka.

“Pada akhirnya kami berdua merasa kalau Malaysia adalah rumah kami, meski ada keluhan soal memburuknya korupsi, ekonomi dan hal lainnya. Kami percaya masih ada harapan bagi negeri ini. Di negeri inilah kami dibesarkan dan tempat di mana kami ingin anak-anak kami tumbuh.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 05 September 2011 11:17 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search