AsiaCalling

Home Berita Australia Tak Ada Lagi Sapi Australia di Menu Makanan Indonesia

Tak Ada Lagi Sapi Australia di Menu Makanan Indonesia

E-mail Cetak PDF

Download Setiap tahun, setengah juta sapi hidup meninggalkan Australia dengan kapal menuju rumah penggemukan dan rumah potong di seluruh Indonesia.

Tapi rekaman yang baru-baru ini ditayangkan di televisi Australia, membuat perdagangan yang menguntungkan ini tersendat.  Rekaman itu memperlihatkan perlakuan brutal terhadap hewan-hewan tersebut.

Menanggapi kemarahan publik atas rekaman itu, pemerintah Australia mengumumkan larangan sementara ekspor ternak hidup ke Indonesia.

Peternak sapi mengatakan langkah itu akan membuat mereka bangkrut sementara di Indonesia ada kekhawatiran soal pasokan daging menjelang bulan puasa.

Namun, seperti laporan Katie Hamann dari Sydney, aktivis hak-hak binatang dan beberapa pemimpin politik mendorong larangan permanen terhadap ekspor semua hewan hidup dari Australia.


Seekor sapi dibawa ke pembantaian.

Ia menendang dan bertingkah liar saat dipaksa menuju tiang besi. Kakinya diikat dan didudukkan di tanah.

Lantas seorang pekerja mulai menggorok leher sapi itu dengan pisau tumpul. Butuh beberapa menit bagi hewan itu untuk mati. Menurut standar internasional, hewan harus mati dalam 30 detik.

Lyn White berada di balik kamera menangkap adegan-adegan ini, di sebuah rumah jagal di Jakarta.

“Sapi itu jatuh lalu coba berdiri dengan lututnya, berdiri dengan tenggorokan menganga dan darah mengalir dari tenggorokannya. Dan kemudian berakhir dengan melihat ke arah saya. Ini sangat mengerikan.”

Sebagai peneliti hewan Australia, White mengunjungi 11 rumah potong hewan di Indonesia awal tahun ini. Semua rekaman dia tentang binatang yang disembelih disiarkan di Australia.  Rekaman ini mengudara secara nasional oleh sejumlah televisi negara bagian.

“Saya tidak tahu, apakah akan menyaksikan yang lebih buruk lagi dari yang saya lihat di Timur Tengah.”

Karya White juga pernah jadi berita utama pada 2006 silam ketika ia membeberkan penyiksaan hewan Australia di Kairo.

“Kami berasumsi karena keterlibatan industri di Indonesia yang sangat besar, perlakuan terhadap ternak akan lebih baik. Tapi kami salah.”

Dari gambar yang direkam White, tampak hewan ditendang dan dipukuli, ekor dan kaki mereka patah dan matanya tercungkil.

Masyarakat Australia terkejut melihat penyiksaan ini.

Seorang tukang jagal, Warren Mullaly, menghabiskan hari-harinya memotong dan menjual daging untuk para pelanggannya di pinggiran pantai Sydney.  Dia mengaku tak sanggup menonton rekaman itu.

“Saya menontonnya dan ingin tahu kelajutannya. Tapi film itu sangat mengerikan. Jadi saya matikan. Saya tidak sanggup lagi menontonnya. Saya sudah bergelut dalam bisnis ini selama 40 tahun, tapi saya tak bisa membayangkan hal seperti itu terjadi.”

Tanggapan atas cerita itu tak diduga.

Dalam waktu kurang dari empat hari, 200 ribu lebih warga Australia menandatangani sebuah petisi menuntut diakhirinya ekspor sapi hidup.   Pemerintah Australia merespon dengan menghentikan sementara semua pengiriman ternak hidup ke Indonesia, selama enam bulan, sambil menunggu hasil penyelidikan.

Keputusan itu membuat puluhan ribu ternak terdampar di pelabuhan dan rumah penggemukan di Australia utara.

“Langkah yang diambil Pemerintahan Partai Buruh akan bermuara pada bunuh diri karena meyebabkan banyak orang Australia tersakiti.”

“Saya baru saja dengar ada pilot helikopter yang mundur dari tiga operator. Pengemudi truk diberitahu kalau mereka sudah tidak bisa lagi mengangkut ternak. Ini jadi punya efek berlipat ganda dalam masyarakat, bukan hanya industri ternak itu sendiri tetapi orang yang bergantung pada industri itu.”

Tom Stockwell memelihara tujuh ribu ternak di Sunday Creek Station, di jantung Northern Territory.

Dia telah memelihara dan menjual ternak ke Indonesia selama lebih dari 17 tahun.

“Kami sangat tergantung pada bisnis ini dan akan menggangu hubungan persahabatan dengan industri ternak di Indonesia. Para peternak di sepanjang barat laut akan mengalami masalah keuangan finansial jika perdagangan ini dihentikan.”

Dampaknya juga bisa dilihat pada menu makan malam di seluruh Australia.

Dewan Industri Daging Australia melaporkan ada penurunan 15 persen dalam penjualan daging di minggu-minggu setelah program tersebut ditayangkan.

Tapi tidak semua orang yakin hal itu perlu diubah.

Tohir, bekerja di sebuah rumah jagal di pinggiran ibukota Jakarta. Bagi dia, tak ada masalah dengan metode yang mereka gunakan.

“Kalau masalah di sini tuh nggak begitu. Jadi kalau pemotongan di sini kayaknya bagus semua.”

Di Indonesia daging harus disembelih menurut tradisi Islam dengan menggunakan metode halal. Dikatakan, hewan harus hidup ketika tenggorokan mereka dipotong.

“Ya secara motongnya ini harus diam dulu. Jadi kalau misalnya masih berdiri ya, tidak boleh dipotong. Karena ini dimakan orang sebanyaknya tidak dibolehkan. Harus di sini motongnya. Diikat dulu kaki, setelah itu sapi kan rubuh kan, kalau nggak bergerak baru dipotong.”

Di Australia ternak harus tak sadarkan diri dengan alat setrum sebelum mereka dipotong.

Pati yang juga bekerja di rumah jagal milik pemerintah mengatakan tidak semua orang memiliki peralatan itu.

“Tembak listrik, kayaknya belum ada di sini. Ya potong pakai pisau. Kalau dulu di Cakung ada, sapi disetrum langsung dibuka itu pingsan, baru dipotong. Tapi ya juga dimasukin kerangkeng, diikat kakinya, lalu sapinya jatuh sendiri, baru dipotong. Ya didoain juga.”

Beberapa rumah pemotongan hewan di Indonesia telah dikirimi alat setrum. Tapi Dayan Antoni dari Asosiasi Feedlot Indonesia mengatakan ada keenganan untuk menggunakan alat itu.

“Beberapa pemilik rumah jagal telah setuju untuk menggunakan alat setrum tapi kadang mereka tidak menggunakannya karena pelanggan mereka tidak mau. Karena mereka bilang tidak halal.”

Tapi setelah kontroversi ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menentang keras kekejaman terhadap hewan. Mereka mengatakan apa yang muncul di rekaman itu tentu ‘tidak halal'.

Presiden SBY memerintahkan penyelidikan terhadap rumah-rumah jagal dan meyakinkan  masyarakat daging tetap tersedia selama bulan puasa mendatang.

Perwakilan industri di Australia mengatakan mereka sedang bekerja sama dengan rumah pemotongan hewan Indonesia untuk memperbaiki kondisi di sana dan mereka ingin perdagangan kembali dilakukan secepat mungkin.

Berbicara melalui telepon setelah pengumuman pemerintah, peneliti hewan Lyn White mengatakan dia hanya punya sedikit kepercayaan pada kemampuan industri untuk menerapkan perubahan yang nyata dan berlangsung selamanya.

“Pemerintah seharusnya tidak sepenuhnya meletakkan tanggung jawab atau kepercayaan kepada industri daging ternak Australia karena merekalah yang menciptakan situasi ini. Tapi keuntungan adalah motivasi besar dan saat ini saya tidak ragu ada orang-orang MLA di Indonesia bekerja sangat keras untuk melakukan semua yang mereka bisa, agar perdagangan dibuka kembali. Pertanyaannya mengapa mereka tidak melakukan ini sebelumnya?”

Para pemimpin politik Australia berencana memperkenalkan RUU ke parlemen yang menyerukan larangan permanen ekspor ternak hidup, yang direncanakan siap dalam tiga tahun.

Masih harus dilihat apakah kedua negara dapat menemukan cara untuk memuaskan selera masyarakat Indonesia sambil mengurangi trauma pada sapi Australia di saat akhir mereka.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 20 Juni 2011 20:27 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search