AsiaCalling

Home Berita Australia Pembuat Panel Surya Terbesar di Dunia Buka Kantor di Australia

Pembuat Panel Surya Terbesar di Dunia Buka Kantor di Australia

E-mail Cetak PDF

Download Pembuat panel surya terbesar di dunia menyatakan, salah satu faktor yang menarik perhatiannya ke Australia adalah pajak karbon negeri itu.

Pada bulan ini, perusahaan First Solar yang berbasis di Amerika Serikat buka kantor di Australia, dan berencana menjadi pemasok panel surya utama untuk berbagai proyek energi berskala besar.

Perusahaan itu menyatakan, biaya panel cepat turun, tapi masih membutuhkan insentif pemerintah selama lima tahun mendatang.


Kalau perkiraan yang ada tepat, energi matahari akan menghasilkan separuh produksi listrik dunia dalam 50 tahun mendatang.

Kini tenaga itu baru memberikan sumbangan yang kecil, meski banyak negara sudah menetapkan target energi terbarukan yang ambisius.

Australia pasang target menghasilkan energi terbarukan sebesar 20 persen pada tahun 2020.

Kebijakan inilah yang mendorong pembuat panel surya terbesar di dunia untuk mulai melirik pasar dan membuka kantor konsultan teknik di Sydney pekan lalu.

Dan meski pajak karbon tidak terlalu penting, tapi itu bisa membantu.

“Tentunya ini menciptakan lingkungan yang sangat mendukung.“

Jack Curtis adalah wakil presiden perusahaan First Solar untuk kawasan Asia Pasifik.

Perusahan senilai lebih dari Rp 90 trilyun dan berbasis di Amerika Serikat ini adalah pembuat terbesar panel surya tipis, berdasarkan kapitalisasi pasar.

Tahun ini lebih berat ketimbang tahun sebelumnya, dan sejumlah perusahaan tenaga surya yang besar bangkrut atau mengalami kesulitan keuangan.

Jack Curtis menuturkan First Solar tertarik dengan skema insentif Australia yang akan didanai dari pajak pendapatan karbon.

Menurutnya, insentif pemerintah masih dibutuhkan selama lima tahun mendatang setelah industri tersebut mapan.

“Kami adalah permulaan dari pasar surya berskala besar dan ini akan benar-benar ditentukan oleh seberapa besar bantuan dari para pemegang saham selama lima tahun mendatang, karena ada kesenjangan yang harus dijembatani. Sudah menjadi tugas kami sebagai pembuat penal surya dan pemasok tenaga surya untuk menunjukkan kalau kami mampu menjembatani kesenjangan itu dalam lima tahun mendatang. Suatu saat kami kami tidak akan memerlukan bantuan itu lagi.”

Q. Apa lagi yang Anda butuhkan dari pemerintah?

“Menurut saya, ada banyak gagasan yang sudah dilontarkan, tapi tersia-siakan, dibandingkan apa yang kami lihat sebelumnya, atau apa yang kami pikir sebagai kebijakan yang konstruktif. Ini termasuk konsep seperti jaminan peminjaman uang, insentif pajak dan kemampuan untuk mengidentifikasi proyek apa yang layak dilakukan. Karena tantangan terbesar dari pasar baru ini adalah proyek yang ditawarkan atau persaingan untuk dimasukkan dalam proses pengadaan barang dan jasa, di mana sebetulnya barang-barang itu belum tentu dibuat. Jadi kebijakan apa pun yang bertujuan untuk mendukung tenaga surya harus punya kriteria kelayakan yang ketat, sehingga tidak ada proyek yang sudah diusulkan serta diberikan dukungan finansial, tapi sebetulnya tak bisa dibuat.”

Australia belum bisa dikategorikan penghasil tenaga terbarukan terdepan, meski punya banyak kelebihan dari segi sumber daya alam.

Cina, Amerika Serikat dan Eropa sudah lebih dahulu memimpin.

Nampaknya fokus Cina bergeser dari tenaga angin ke tenaga surya, dengan peningkatan 1000 persen dalam target listrik, yang baru-baru ini diumumkan dalam rencana lima tahun dari 2011-2015.

Proses penelitian dan pengembangannya sendiri menelan biaya ratusan triliun rupiah.

Pemerintah Australia mengalirkan dana puluhan milyar rupiah untuk penelitian tenaga surya, termasuk lebih Rp 6,3 miliar rupiah untuk pengembangan pembuatan sel surya. Dan ada lagi dana hampir Rp 450,5 miliar untuk pengembangan penelitan bersama Amerika Serikat.

Tapi Jack Curtis menuturkan dana untuk pembuatan panel surya oleh First Solar bakal lebih rendah di Asia, Jerman dan Amerika Serikat.

"Kami lebih suka dengan berbagai tempat dengan biaya produksi yang lebih rendah. Kami juga mencari pasar yang kami pikir bakal berkelanjutan serta bisa mendukung jejak karbon yang rendah dari segi perakitannya.”

Q. Apakah Anda akan membuat panel surya di Australia?

"Menurut saya, sulit menjawab pertanyaan itu sekarang. Tapi kami tidak pernah mencoret satu pasar yang menurut kami bisa berlanjut terus secara jangka panjang."

Q. Tapi jawabannya tidak?

“Tidak untuk sekarang ini, saatnya belum tepat.”

Q. Dan setelah berkantor di Australia untuk bagian operasi ini, apakah menurut Anda ini salah satu titik awal, pembuatan panel surya di Asia untuk pasar Asia sementara pembuatannya berkembang?

“Ya begitulah...dan ini membuat kita mengembangkan penawaran secara regional dengan cara yang terbuka. Sementara di pasar-pasar lain dimana kami aktif seperti di kawasan Cina dan India, tentunya tak gampang untuk mengarahkan dari segi pandangan bisnis, ketimbang Australia.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 26 September 2011 14:06 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search