AsiaCalling

Home Berita Australia Australia Targetkan Kejahatan Lingkungan yang Terus Bertambah

Australia Targetkan Kejahatan Lingkungan yang Terus Bertambah

E-mail Cetak PDF

Download Kejahatan lingkungan adalah salah satu bisnis yang paling cepat berkembang di dunia.

Ini termasuk penyelundupan satwa liar dan perdagangan bahan-bahan berbahaya.

Juga penebangan liar, yang diperkirakan merugikan negara-negara berkembang lebih dari Rp 133 triliun setiap tahun.

Untuk kali pertama, para peneliti Australia bekerja sama untuk menyelidiki jaringan kejahatan lingkungan internasional.

Selengkapnya bersama Adrienne Francis dari Radio Australia.

Kejahatan lingkungan adalah kejahatan global yang diperkirakan bernilai hingga Rp 446 triliun per tahun.

Kejahatan ini berada di peringkat ketiga, setelah perdagangan obat-obatan dan senjata.

Namun, data tentang kejahatan masih sedikit.

“Ini merupakan kejahatan serius yang tidak dianggap serius. Seringkali kejahatan ini terlihat seperti tidak ada korbannya. Beda bila dibandingkan dengan narkoba atau penyelundupan manusia.”

Lorraine Elliott, pengajar di Hubungan Internasional, Australian National University.

“Pada dasarnya ini model bisnis kriminal. Keuntunganya sangat tinggi dan resikonya rendah dibandingkan dengan kejahatan lain seperti penyelundupan obat-obatan atau senjata, dll.”

Profesor Elliott mengatakan kejatan itu juga tumbuh subur di Australia.

“Berbagai kelompok di Australia terlibat dalam ekspor satwa yang dilindungi Australia, ke luar wilayah itu. Ada beberapa kasus, yang kami sebut perdagangan barter, sudah dilaporkan. Jadi satwa liar Australia dibawa ke luar negeri dan sebagai imbalannya masuk obat-obatan terlarang. Jadi bukan benar-benar pertukaran uang tunai.”

Dia memimpin sebuah proyek penelitian selama tiga tahun, untuk memetakan kejahatan lingkungan internasional dan menyelidiki faktor apa saja yang membuat perdagangan macam ini begitu berkembang.

Penelitian itu meliputi perdagangan kayu ilegal dan penyelundupan satwa liar.

Mereka juga meneliti perdagangan gelap bahan-bahan kimia perusak ozon, seperti chlorofluorocarbons atau CFC dan limbah berbahaya seperti logam berat yang ditemukan di beberapa barang elektronik.

Dan mereka akan menetapkan aturan yang bertujuan untuk membasmi perdagangan itu.

Gregory Rose dari Universitas Wollongong, adalah pemimpin penyelidikan tersebut.

Profesor hukum ini merupakan peneliti di Pusat Pencegahan Kejahatan Transnasional di Universitas itu.

“Ya, jelas ada kebutuhan untuk mendekatkan badan pencegahan kejahatan dan jaringannya di tingkat internasional, dan perlindungan lingkungan, serta jaringan konservasi. Mereka hanya berjarak dua blok tapi tidak punya jembatan, dan pembangunan jembatan ini tidak akan terjadi dalam waktu dekat.”

Ketika bicara soal kayu, Profesor Rose mengatakan penelitian terbaru memperkirakan sembilan persen dari seluruh impor Australia sumbernya ilegal. Yang paling banyak adalah kayu merbau asal Indonesia.

“Kita harus mempertimbangkan penerima impor itu, jika ada alasan untuk mencurigai mereka ilegal, misalnya terlibat dalam pencucian uang dan bertindak sebagai penadah barang curian ilegal.”

Yang menjadi salah satu masalah bagi peneliti adalah cara menelusuri jaringan kejahatan yang semakin canggih.

Profesor Lorraine Elliott.

“Salah satu cara perdagangan kayu ilegal bisa berjalan dalah dengan memalsukan dokumen. Jadi produk kayu yang dibawa keluar dari Papua atau Aceh misalnya, diangkut ke Malaysia dan dicap kembali sebagai kayu Malaysia. Atau kayu-kayu itu dibawa ke Cina dan diproses, lantas tiba-tiba Cina dianggap sebagai negara asal kayu tersebut. Jadi sangat sulit untuk tahu persis dari mana produk kayu Anda berasal.”

Profesor Gregory Rose mengatakan sanksi pidana di Australia bisa mencegah terjadinya kejahatan lingkungan.

“Beberapa persyaratan bisa diberlakukan pada kayu impor sehingga ada rantai sertifikasi dari sumber, asal kayu dan alasan untuk percaya kalau setifikasi itu asli dan jadi tanggung jawab pengimpor. Ini pada gilirannya akan membuat importir menerapkan tanggung jawab pada pemasok mereka, dan menutup kesempatan bagi pemasok ilegal.”

Penelitian ini menarik minat ahli lain di lapangan, termasuk Jacqui Baker yang juga berbasis di Pusat Pencegahan Kejahatan Transnasional.

“Untuk memotong jaringan dan menghentikan korupsi perdagangan bisa dari salah satu simpul...simpul yang penting dan strategis, di mana kita bisa menghentikan perdagangan kayu ilegal.”

Dia mengatakan bantuan dan pendampingan luar negeri yang diberikan Australia lewat AusAID atau Polisi Federal Australia, seharusnya didasarkan pada sistem keuangan yang transparan dari negara tujuan bantuan.

Beberapa langkah ini sedang dipertimbangkan di Australia sebagai bagian dari RUU Larangan Pembalakan Ilegal Pemerintah Federal.

Tapi Profesor Lorraine Elliott mengatakan dia khawatir RUU tersebut belum diteruskan ke Senat.

“Mitra utama lain seperti masyarakat Eropa dan Amerika sebenarnya mulai bergerak maju ini dan berbahaya kalau Australia ketinggalan.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 03 Oktober 2011 12:03 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search