AsiaCalling

Home Berita Bangladesh Kisah Sukses Kesehatan Ibu di Bangladesh

Kisah Sukses Kesehatan Ibu di Bangladesh

E-mail Cetak PDF

Download Jumlah perempuan di Bangladesh yang meninggal ketika mengandung, sudah berkurang hingga lebih dari separuh dalam sembilan tahun terakhir.

Setiap tahunnya, sekitar sepuluh ribu perempuan bisa diselamatkan.

David Bergman di Dhaka mencari tahu bagaimana kisah sukses seperti ini bisa terjadi.

Ini adalah salah satu daerah kumuh tempat sebagian besar warga kota yang miskin tinggal. Yang satu ini bernama Korail, yang terletak di pusat bukota Dhaka. Saya ke sini, mengunjungi satu pusat persalinan yang dikelola oleh BRAC, organisasi pemerintah terbesar di Bangladesh.

Dr. Rashed, salah satu pengelola program Manushi.

“Pusat persalinan ini sebenarnya untuk persalinan normal, bukan pusat persalinan berteknologi tinggi. Tapi pusat ini sama seperti rumah-rumah warga yang kami layani. Jadi ini bisa dikatakan sebagai replika rumah mereka, tapi relatif lebih bersih dan kami punya petugas terampil, jadi kami bisa melakukan persalinan yang aman di sini.”

Para petugas persalinan merupakan faktor utama dalam pengurangan jumlah kematian ibu melahirkan di Bangladesh.

“Untuk persalinan normal, Anda tidak perlu petugas di sini. Tapi faktor yang mengkhawatirkan adalah kalau terjadi komplikasi kapan saja. Para petugas yang ada di pusat kami ini sangat terampil mencirikan komplikasinya dan tanda-tanda bahaya, dan mereka bisa membuat keputusan yang cepat. Itu sebabnya mengapa angka kematian ibu melahirkan sudah menurun sangat jauh, di daerah Manushi.”

Namun, penurunan angka kematian ibu melahirkan tidak hanya terjadi di daerah-daerah dimana program BRAC dijalankan.

Pada awal tahun ini, USAID membuat satu survei kesehatan ibu hamil nasional.

Jamil Kanta, membantu mengkoordinasikan penelitannya .

“Kami menemukan hal-hal yang luar biasa, ketika angka kematian ibu melahirkan menurun hingga 40 persen di Bangladesh dalam sembilan tahun terakhir.”

Jumlah kematian menurun dari 322 per 100 ribu persalinan pada tahun 2001, menjadi 194 kematian per 100 ribu kelahiran pada 2010.

“Hal ini sempat membuat heboh. Kami mengirim informasi ini langsung ke Washington, dan berita itu langsung menyebarluas. Data ini dimasukkan dalam berbagai pidato pejabat tinggi. Perdana Menteri Bangladesh mengeluarkan satu pengumuman bahwa semua orang harus mempublikasikan data ini. Ini kali pertama saya melihat pengumuman dari kantor perdana menteri seputar hasil penelitian.”

Penelitian ini menemukan, salah kunci angka kematian yang menurun adalah semakin banyak petugas dan kemauan para perempuan hamil, yang mau mencari bantuan kesehatan di luar rumah mereka ketika terjadi komplikasi.

“Antara tahun 2001 sampai 2011 ada peningkatan besar dalam jumlah perempuan yang mencari fasilitas melahirkan. Angka ini naik dari sembilan persen hingga 23 persen dan ini adalah perubahan besar dalam sembilan tahun belakangan ini, ketika tidak terjadi perubahan apa-apa sebelumnya. Yang kedua, kalau melahirkan di rumah, mereka sudah sadar kalau mereka harus mencari bantuan. Pada 2001, dari semua perempuan yang mengalami komplikasi hanya mencapai 16 persen yang pergi ke fasilitas kesehatan, dan ini sekarang sudah meningkat menjadi 28 persen.”

 Namun pengurangan angka kematian, tidak hanya menyangkut intervensi perawatan kesehatan. Pengurangan jumlah anak yang dilahirkan juga ada kaitannya.

“Pada 2001, para perempuan rata-rata punya tiga anak dan sekarang mereka rata-rata mengalami dua setengah kelahiran. Bagaimana ini berdampak pada kematian ibu melahirkan? Yang terjadi selama sembilan tahun terakhir adalah resiko melahirkan dikurangi, jumlah perempuan yang melahirkan empat atau lebih bayi berkurang. Dan resiko sang ibu lebih tinggi ketika melahirkan bayi yang keempat atau kelima.

Ia juga menekanan manfaat positif dari pendidikan.

Namun, warga Bangladesh masih jauh dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milienium pada 2015 yaitu 114 kematian ibu melahirkan per 100 ribu kelahiran.

Dr. Laura Reichenbach bekerja di Unit Kesehatan Reproduski di badan penelitian kesehatan umum ICDDRB di Dhaka. Ia mengatakan, tak bakalan mudah untuk mencapai jumlah ini.

“Ketika Anda melihat perempuan yang sekarat, penyebab utama kematian melahirkan adalah pendarahan setelah melahirkan dan eklampsia atau komplikasi karena tekanan darah tinggi. Jadi, kedua masalah ini harus diatasi. Dan melalui intervensi tertentu, kami harap bisa terus mengurangi angka kematian ibu melahirkan. Tapi untuk mencapai hal ini, harus banyak berinvestasi dalam sistem kesehatan, dan memastikan ketersediaan dokter kandungan di Bangladesh, supaya mereka yang membutuhkan operasi sesar bisa mendapatkannya. Jadi kami harus bekerja keras membantu perempuan di daerah terpencil dan perempuan miskin termasuk yang paling miskin sekalipun. Tantangan kami sekarang ini adalah membuat dan mengembangkan berbagai program yang tepat.”

Kembali ke program BRAC, upaya untuk mengurangi tingkat kematian ibu melahirkan terus berlanjut.

Saat saya meninggalkan pusat persalinan, ada dua perempuan yang hamil tua duduk ruang persalinan. Mereka tengah dalam penanganan petugas yang terampil.

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 19 Agustus 2011 17:33 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search