AsiaCalling

Home Berita Bangladesh Bunuh Diri Untuk Menghindari Pelecehan Seksual

Bunuh Diri Untuk Menghindari Pelecehan Seksual

E-mail Cetak PDF

Download Pelecahan seksual terhadap para perempuan di Bangladesh, kini sudah mencapai tingkat yang mematikan.

Menurut sejumlah kelompok hak azasi manusia, pada tahun ini 28 perempuan bunuh diri karena ingin bebas dari pelecehan seksual yang sering terjadi.

Sebelum bunuh diri, sebagian besar dari mereka menulis surat yang menuntut supaya pelecehan seksual  atau secara lokal dikenal dengan istilah “eve teasing atau mengejek perempuan.

Istilah ini merujuk saat anak-anak laki-laki mencegat para perempuan di jalanan  mencaci-maki, mentertawakan,  menarik atau menyentuh  mereka atau bahkan melakukan hal-hal yang lebih buruk lagi. 

Simak kisah selengkapnya yang disusun Farzana Rupa dari Bangladesh.

Afroza Begum duduk di meja dapur,  dan memberikan catatan kecil kepada saya, yang ditulis oleh anak perempuannya  sebelum  ia bunuh diri.

Catatan itu  mengatakan, ‘Saya sudah lama menderita karena  para anak laki-laki yang jahat itu. Saya mencoba sekuat tenaga untuk hidup. Tapi saya tidak punya senjata yang bisa menghentikan mereka. Sebagai tanda protes saya, saya memutuskan untuk bunuh diri,  dengan  harapan tidak akan ada lagi perempuan yang mengalami hal-hal  yang sama seperti yang saya alami.’

Setelah menulis surat kecil itu, ia minum racun. Afroza Begum kehilangan anak perempuannya yang paling kecil.

Dia sudah tahu soal pelecehan seksual ini. Anak perempuannya sudah memberi tahu dia, kalau  sekelompok anak laki-laki yang sama melempar rokok yang sudah nyala ke dadanya, menyutikkan air seni lewat jarum suntik ke dia, dan mencoba memotong rambutnya.

Mereka sering melakukannya, dan ini membuat hidup anak perempuanya bagaikan neraka.

Selama sepuluh tahun terakhir sejak kematiannya, Afroza mencoba untuk mecari keadilan. Dia sudah pergi ke polisi dan bertemu dengan orang-orang yang berpengaruh dalam komunitasnya,  meminta supaya para lelaki yang melecehkan anak perempuannya itu diadili.

Tapi itu tidak terjadi.  

“Saya ingin keadilan. Saya capek berbicara dengan media. Apa Anda bisa jamin kalau para pembunuh Shimi akan dihukum?”

Hanya perempuan yang berani yang mau angkat bicara melawan pelecehan seksual.

Pada tahun lalu, ratusan pelajar dan beberapa guru turun ke jalanan di luar gerbang Universitas Jahangir Nagar.   

Mereka datang memberikan dukungan  pada seorang guru perempuan yang menuding atasannya melakukan pelecehan seksual.

Tapi sang guru itu, tidak ikut dalam unjuk rasa. Dia malah duduk di dalam ruangan kelas dan menutupi wajahnya, menyembunyikan identitasnya.

“Kalau saya mengungkap identitas saya, orang-orang akan melihat saya di televisi, berbagai surat kabar akan mencetak foto saya. Saya akan diperlakukan sangat buruk, kan?"

Pelecahan seksual atau mengejek perempuan sangat meluas di  seluruh Bangladesh, dan banyak lelaki disini yang menganggapnya  sebagai hal yang biasa.

Jafar Hasan seorang mahasiswa sedang duduk di kedai teh di pinggir jalan.

“Seorang perempuan semestinya menutup tubuhnya dengan cara yang pantas. Kalau mereka tidak lakukan itu dan tidak pakai syal atau pakai baju yang sederhana, laki-laki tidak akan bisa menahan diri mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Seorang laki-laki tidak bisa mengendalikan nafsu seksnya!“

Abdur Rashid bekerja di toko alat tulis tak jauh dari situ.

“Para lelaki boleh megeluarkan  suara atau membuat komentar apa saja kepada para perempuan! Itu hak kami, kami boleh lakukan itu!”

Di depan satu mal, sekelompok pelajar perempuan muda mengatakan, pelecehan seksual sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-sehari.

Ayesha Begaum, salah satu perempuan itu.

”Laki-laki yang tidak baik ada di mana-mana. Mereka berdiri di depan sekolah atau sekolah khusus perempuan. Mereka memandang kami dengan tidak sopan, mengatakan hal-hal yang jorok, dan membuat tanda berbau seksual dengan tangan mereka.”

Faria Ahmed bekerja di salah satu LSM.

“Di negara kami keadaannya buruk sekali, bahkan untuk orang-orang miskin seperti penarik becak, mereka bisa melecehkan perempuan! Kami sebagai perempuan tidak pernah peduli atau mengomentari apa yang dipakai para laki-laki, tapi mereka tidak menghormati kebebasan kami.”

Di kantor ini para pengacara perempuan sedang berjuang untuk mengubah keadaan ini.

Pada 2008, asosiasi pengacara perempuan Bangladesh mengajukan satu petisi di pengadilan tinggi, yang menuntut supaya pelecehan seksual dihentikan.

Setelah perjuangan dua tahun, Mahkamah Agung memutuskan bahwa setiap kantor atau perguruan tinggi harus punya satu tempat, dimana para perempuan dengan aman bisa menyampaikan keluhan pelecehan seksual.

Salma Ali, direktur eksekutif BNWLA menuturkan ini adalah satu  langkah maju, tapi masih ada banyak hal yang harus dilakukan.

“Para perempuan tidak mau membuat keluhan, karena kalau mereka mengeluh mereka tidak akan boleh keluar rumah. Para orang tua akan mengatakan, lebih baik kamu tinggal di rumah. Ketika seorang perempuan sudah menikah, ia harus berhenti bekerja atau mendapat tekanan dari sang suami. Ada banyak tantangan untuk para perempuan. Dan kantor yang menampung keluhan itu semestinya dipimpin oleh seorang perempuan. Tapi dalam banyak kasus, berbagai institutsi tidak melakukan hal itu.”

Namun  nampaknya ada tanda-tanda kecil kalau keadaan ini mulai berubah.

Seorang pasien perempuan yang masih muda bersama keluarganya mengepung direktur Universitas Kedokteran

Sheikh Mujib, yang  merupakan rumah sakit terbesar di negeri itu.

Mereka datang ke sini untuk menyampaikan keluhan anak perempuan mereka yang mengalami pelecehan seksual dari salah satu dokter di sana.

Sang dokter mencoba membela diri.

“Saya tidak melakukan hal yang buruk. Ketika pasien memeriksakan diri, kami harus menyentuh mereka. Saya mencoba pindahkan dia ke papan gambar, supaya saya bisa cari tahu apa yang salah dengan matanya.“

“Tapi untuk mengetes mata, Anda tidak perlu menyentuh badannya, ingat-ingat lagi dimana letakkan tangan Anda waktu itu. Apa yang Anda lakukan?”

Setelah mendengarkan semua kesaksian, dokter itu diskors dari rumah sakit.

Terakhir Diperbaharui ( Jumat, 09 Desember 2011 11:08 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search