
Download Jutaan pengungsi Burma harus tinggal selama bertahun-tahun di kamp pengungsi setelah terpaksa meninggalkan rumahnya akibat serangan militer yang kejam terhadap kelompok minoritas.
Di tengah kewaspadaan akan reformasi pemerintah, mereka cemas untuk pulang kampung.
Dengan tidak pastinya masa depan yang menunggu di kampung halaman, banyak yang memutuskan untuk tetap tinggal di kamp.
Di pihak lain, pengetatan yang dilakukan para donor internasional, memaksa mereka bertahan hidup dengan dukungan yang minim.
Banyar Kong Janoi melihat dari dekat realitas kerasnya hidup di kamp pengungsi Burma.
Chae Mae, 25 tahun, sedang menenun bersama empat perempuan lainnya di bengkel kerja di kamp pengungsi Mae Hong Son.
“Tidak ada yang saya lakukan di rumah jadi saya pergi ke sini untuk bekerja dan belajar beberapa keahlian baru.”
Upah yang diterima Chae Mae bekerja selama dua bulan sebesar Rp 225 ribu. Uang itu digunakan untuk membeli bahan makanan.
Menjahit merupakan satu-satunya pekerjaan yang ada di kamp itu dan dia tidak keberatan bekerja lebih dari delapan jam sehari.
Kamp itu terletak dekat perbatasan Thailand-Burma dan berdasarkan UU Thailand, pengungsi tidak dibolehkan bekerja di luar kamp.
Prae Mae, 45 tahun, mengatakan memilih tetap tinggal di kamp atau pulang kampung adalah keputusan yang berat bagi keluarganya.
“Saya mau kembali ke rumah tapi itu tidak mudah karena kami tidak punya apa-apa di Burma. Tidak ada tanah untuk bercocok tanam, atau perlengkapan memasak serta tidak ada tempat untuk tinggal. Tapi tetap tinggal di sini juga penuh perjuangan karena saya satu-satunya yang mencari uang dengan menjahit, untuk menghidupi anak-anak saya.”
Prae Mae telah tinggal di kamp itu lebih dari satu dekade bersama anak-anaknya. Suaminya yang sakit meninggal dunia saat tiba di kamp itu.
Prae Mae menambahkan ia meninggalkan Burma karena takut dengan kekejaman tentara.
”Saat itu tentara menangkap banyak orang. Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Kami sangat takut tinggal di rumah dan lalu memutuskan pergi ke Thailand. Kami semua berasal dari desa yang sama. Lima tahun lalu, anak laki-laki tertua saya pulang ke rumah untuk mengambil barang-barang kami. Tapi ia tertangkap tentara Burma dan dibunuh.”
Proyek menjahit itu dijalankan Organisasi Perempuan Nasioanl Karenni untuk memberdayakan perempuan dan anak-anak yang tinggal di kamp.
Rosy Htwe, juru bicara kelompok itu mengatakan proyek itu sudah berjalan selama lebih dari satu dekade.
“Kami ingin menciptakan pekerjaan bagi ibu-ibu yang menganggur di kamp ini supaya bisa dapat uang. Pada saat yang sama, kami ingin menyediakan pakaian untuk mereka. Jadi mereka bisa bekerja untuk kami dan kami bisa meminjamkan uang untuk membuat pakaian. Dengan begini mereka bisa mendapat uang.”
Ini proyek berskala kecil dimana hanya sekitar 30an orang yang terlibat. Jumlah ini sangat kecil dibandingkan 10 ribu pengungsi yang tinggal di kamp.
Pengelola ingin memperluas proyek ini tapi kata Mahm Saw, direktur Komite Pengungsi Nasional Karenni, itu tidak mungkin.
“Setiap kali kami memikirkan cara-cara untuk mandiri secara keuangan, selalu ada rintangan. Misalnya kami ingin membuat batu-bata dalam jumlah besar, tapi ini akan mempengaruhi bisnis lokal Thailand. Sama halnya jika kami ingin menambah jumlah ternak atau sayuran untuk ditanam. Lagipula kami tidak punya lahan untuk itu.”
Beberapa pengungsi tidak bersembunyi di dalam kamp-kamp di Thailand tapi di dalam Burma.
Ribuan pengungsi tinggal diseberang perbatasan Mae Hong Son.
Mereka juga bergantung pada donor internasional yang makin memperketat dana mereka.
Ada 300 orang di kamp ini, dengan 80 anak yang bersekolah di SD dalam kamp.
Ko Han Aung, kepala sekolah di kamp ini mengatakan sulit mempertahankan sekolah itu.
“Kami masih punya uang untuk menjalankan sekolah tahun ini. Tapi saya tidak tahu bagaimana tahun depan. Kami sudah berpikir sejak beberapa tahun lalu bagaimana mempertahankan sekolah ini jika kami tidak mendapatkan dana sama sekali. Kami sekarang membuat gantungan kunci dari plastik dan menanam sayuran sebagai bagian pelajaran kejuruan dan hasilnya kami jual.”
Meskipun mereka menemukan cara-cara kecil untuk bertahan hidup, itu tidak akan berlangsung lama, tambahnya.
“Kami sangat tergantung pada bantuan donor karena kami tidak bisa dapat keuntungan dengan cepat dari menanam sayuran. Mereka tanaman jangka panjang. Butuh tiga sampai empat tahun dari sekarang.”










