AsiaCalling

Home Berita Cambodia Bertemu Korban Khmer Merah di Selembar Foto

Bertemu Korban Khmer Merah di Selembar Foto

E-mail Cetak PDF

Download Bagi ribuan warga Kamboja, nasib orang-orang yang mereka sayangi sebagai korban rezim Khmer Merah masih menjadi misteri.

Banyak yang sampai sekarang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga mereka.

Tapi lebih dari seribuan foto yang ditemukan bulan lalu mungkin bisa memberikan jawaban.

Ini adalah koleksi foto terbesar dari tahanan penjara Tuol Sleng yang terkenal kejam.

Claire Slattery menyusun laporan lengkapnya dari Phnom Penh.

Reaksa Chuon, 45 tahun, telah mencari ayahnya selama lebih dari 30 tahun.

Saat Chuon berusia 8 tahun, ayahnya meninggalkan Provinsi Battambang Kamboja, sesuai perintah rezim Khmer Merah tahun 1976.

“Mereka mengirim dia dengan kereta api ke Pronet Preah. Dia pergi begitu saja meninggalkan keluarga. Saat itu hanya informasi ini saja yang saya dapat. Sampai saya temukan dia lagi...di foto ini.”

Foto ukuran paspor hitam putih itu adalah satu dari hampir 1500 foto, yang baru-baru ini disumbangkan ke LSM Pusat Dokumentasi Kamboja, DC-Cam.

Selama lebih dari satu dekade, DC-Cam telah mengumpulkan dan mencari kembali dokumen dari masa Khmer Merah.

Dan sumbangan terbaru ini adalah koleksi foto terbanyak dari penjara dengan pengamanan tingkat tinggi, Tuol Sleng.

Direktur DC-Cam, Youk Chhang, mengatakan seorang bekas pegawai pemerintah secara diam-diam menyimpan foto-foto itu di rumahnya selama 20 rahun.

“Ada banyak dokumen yang dihancurkan pemerintah. Dan menurut saya, pegawai itu bertugas untuk membakar foto-foto tersebut. Tapi dalam budaya kami tidak baik membakar foto seseorang karena ia melihat pada Anda. Orang-orang yang ada di foto itu punya nama, seakan-akan mereka berbicara pada Anda. Jadi ia memilih untuk menyimpannya. Karena ia juga berharap bisa menemukan ayah, ibu dan saudara perempuannya yang dibunuh rezim Khmer Merah. Saya berasumsi ia mungkin berpikir orang lain bisa mendapat informasi dari foto-foto itu. Ia memutuskan untuk memberikan foto-foto itu tanpa memberitahukan identitasnya.”  

Rezim Khmer Merah menyimpan catatan lengkap para tahanan selama mereka berkuasa tahun 70an.

Begitu tiba di Tuol Sleng, setiap tahanan difoto.

Diperkirakan 14 ribu orang dipenjara tapi hanya lima ribu foto yang didapat.

Youk mengatakan ia mengenali beberapa orang dalam foto terbaru.

“Kami menemukan orang-orang Vietnam yang jadi tahanan, orang-orang yang bekerja untuk PBB dan USAID. Kami juga temukan bekas editor sebuah surat kabar, para guru, diplomat dan mertua kenalan saya.”

Di belakang setiap foto ada informasi dengan tulisan tangan – misalnya nama tahanan, tanggal penangkapan dan eksekusi.

Bagi Youk, beberapa foto itu menunjukkan ketakutan serta kekejaman rezim itu.

“Lihat perempuan ini – mereka bahkan menyebutnya ‘Nenek Som’ tapi ia tetap dibunuh. Itu seperti membunuh nenek sendiri. Ini mengerikan. Jika saya adalah cucunya, saya bisa sangat emosional. Nenek itu dituduh mata-mata CIA. Bagaimana bisa? Umurnya sudah 78 tahun!”   

Ayah Reaksa Chuon adalah seorang dokter.

Awal tahun ini, seorang teman keluarga mengatakan padanya kalau ayahnya dikirim ke penjara Tuol Sleng.

“Saya sangat sedih atas ketidakadilan yang ia terima. Ayas saya hanya seorang dokter dan tidak terlibat politik. Mengapa ia dibunuh? Saya sangat kecewa dengan rezim Khmer Merah.”

Youk Chhang mengatakan DC-Cam berencana untuk membagikan daftar nama-nama orang yang ada dalam foto itu ke desa-desa di seluruh negeri. Ini bisa membantu ribuan orang Kamboja yang masih mencari anggota keluarganya.

”Kami sangat frustasi karena banyak dari foto yang kami punya sebelumnya tidak bernama. Kami tidak bisa katakan siapa yang ada di foto-foto itu. Utamanya kami tidak bisa mengidentifikasi orang-orang yang tinggal di desa. Jadi ini adalah bantuan besar, setidaknya ribuan keluarga orang yang telah meninggal ini bisa melupakan pencariannya dan meneruskan hidup mereka. Ini membawa kehidupan baru bagi siapa saja yang telah mencari orang yang mereka cintai selama bertahun-tahun.”

Bagi Reaksa Chuon pencarian sepanjang hidupnya kini sudah berakhir.

“Saya senang bisa melihat lagi wajahnya. Keluarga dan kerabat saya kehilangan semuanya. Saya hanya punya fotonya dalam ukuran kecil, saat ia masih menjadi mahasiswa kedokteran. Saya telah berusaha memperbesarnya dengan komputer tapi tidak sejelas foto yang ini. Saya sangat sedih. Ia bahkan lebih muda dari saya saat dibunuh. Saya bisa bertemu lagi dengan ayah walau hanya dalam foto tapi saya senang dan semuanya menjadi jelas.”

Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 01 September 2012 13:11 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search