AsiaCalling

Home Berita Cambodia Musik Hip-Hop Untuk Menyelamatkan Generasi Muda Kamboja

Musik Hip-Hop Untuk Menyelamatkan Generasi Muda Kamboja

E-mail Cetak PDF

Download  -  Listen

Tarian Hip-hop dan musik rap kini kian digandrungi anak-anak muda di Kamboja.

Bahkan menjadi salah satu bentuk seni yang digunakan untuk menjangkau orang-orang yang rapuh atau renta seperti para gelandangan dan pengguna narkoba.

Para artis rap dan Hip Hop Kamboja yang sudah terkenal serta sukses di Kamboja dan luar negeri, telah mendirikan beberapa pusat di Pnom Penh untuk anak-anak muda yang datang ke sana.

Mereka mencoba mengatasi trauma penyalahgunaan narkoba dan kemiskinan, lewat nge-rap dan tarian Hip Hop.

Di Pnom Penh, Sorn Sarath bertemu dengan beberapa anak muda yang ingin menjadi bintang Hip Hop dan menyusun ceritanya untuk Asia Calling.

Dalam kamarnya yang kecil di sebuah rumah singgah pusat pemuda di Kamboja, Kong Piseth, 18 tahun tengah menciptakan lagu hip-hop berikutnya. Lagu ini sudah setengah jadi dan berjudul ‘Nggak Usah Banyak Mikir’.

Kong Piseth adalah salah satu artis rap yang masih muda. Dengan bantuan musisi ternama lainnya, ia telah membuat dua album laris manis. Bahkan musiknya juga terjual di Amerika Serikat. Kong bercerita, lagu-lagunya tentang berbagai isu sosial yang berdampak pada Kamboja.

“Itulah harapan saya sejauh ini dan sekarang saya menggapai cita-cita. Kini semua anak-anak dan anak muda senang sekali dengan tarian Hip-Hop dan rap. Sebagian besar lagu-lagu saya tentang narkoba, kehidupan, cinta, HIV AIDS dan masalah lainnya yang kami hadapi dalam masyarakat. Menurut saya, penting untuk berbicara soal masalah sosial ini. Para penyanyi mirip dengan media. Kalau ada hal yang baru yang kami ingin sampaikan, kami harus kasih tahu seluruh dunia.”

Kong putus sekolah pada kelas 9 atau III SMP setelah orangtuanya meninggal. Ia sudah tiga tahun tinggal di rumah singgah. Tempat ini adalah pusat rehabilitasi yang didirikan oleh sekelompok bintang Hip Hop Kamboja yang tinggal di Amerika Serikat. Di sini, para orang dewasa muda dan anak-anak bisa belajar komputer, bahasa Inggris, menggambar, tarian Hip Hop dan rap.

KK, 32 tahun, adalah salah satu pelatih di pusat ini. Tapi karena rambut keritingnya yang panjang dan anting yang ia pasang di alisnya, ia tampak jauh lebih muda. Jadi tak heran kalau anak-anak muda yang datang ke sini cepat nyambung sama dia.

Anda tahu, setiap anak di setiap negara berubah, setelah mendengarkan lagu Hip Hop. Saya membuat Hip Hop di sekolah tempat anak-anak bisa ikut kelas komputer, belajar soal narkoba, HIV, bahasa Khmer dan bahasa Inggris.

KK juga telah mendirikan kelompok Hip Hop yang disebut Tinytoones. Empat tahun belakangan, kelompok ini telah membantu lebih dari 4000 anak miskin dan remaja. Sebagian tadinya adalah gelandangan dan pengguna narkoba.

Kini kelompok tampil dalam berbagai pertunjukkan Hip Hop Khmer baik di dalam maupun luar negeri.

“Mereka bisa menghasilkan uang yang lumayan banyak dari pertunjukkan itu, pergi ke negara-negara lain, manggung. Hal positif lainnya, mereka bisa mewakili Kamboja sebagai bangsa Khmer. Sekarang ini banyak anak muda Kamboja yang bisa break dance dan juga keliling ke negara-negara lain. Ketika di sana mereka mengatakan ‘kami orang Khmer, kami dari Kamboja’ sambil melambaikan bendera Kamboja.“

KK menuturkan belajar Hip-Hop dan tampil di depan orang, membantu membangun percaya diri para orang muda untuk karir mereka di masa mendatang.

“Di masa mendatang, saya ingin supaya anak-anak ini berprestasi. Mungkin suatu hari nanti mereka bisa jadi dokter, pengacara dan menjadi orang yang bahagia. Mungkin di antara mereka ada yang jadi rapper terkenal. Semua ini akan membuat saya bangga sekali, karena apa yang saya telah lakukan pada mereka.”

Chun Sambo, 24 tahun adalah salah satu penari Hip Hop Tinytoones. Dulu ia tinggal di jalanan dan menggunakan narkoba. Tapi sejak bergabung dengan Tinytoones kata dia, kehidupannya berubah drastis.

“Saya putus sekolah ketika masih tujuh tahun, karena keluarga saya sangat miskin. Jadi saya memulung kantong plastik di jalanan dan menghasilkan uang dari situ. Waktu itu saya masih menggunakan narkoba. Saya menggunakannya selama beberapa tahun sejak 1994. Tapi pada 2004, saya bertemu dengan KK dan dia-lah membawa saya ke sini.”

Kembali di rumah singgah, Son Makara, 18 tahun, sedang bermain bowling dengan teman-temannya. Ia sudah sering datang ke sini sejak dua tahun lalu. Menurutnya, komunitas Hip Hop menyelamatkannya dari narkoba.

“Saya sudah banyak berubah. Sebelumnya saya menggunakan narkoba dan pakaian saya sangat kotor. Saya tidak pernah pulang dan tidak punya teman. Tapi setelah belajar tarian hip hop saya bisa punya uang, punya pakaian baru, bisa pulang dan punya banyak teman. Saya sangat bangga dengan diri saya. Orangtua saya senang sekali kalau saya tampil di TV.”

Menurut laporan dari Friend Organizastion yang berbasis di Kamboja yang dirilis pada 2008, 42 persen anak jalanan menggunakan narkoba. Yang populer saat ini adalah yama atau methamphetamin.

Meski Hip Hop tergolong budaya impor, tapi sudah menjadi satu cara untuk menjangkau anak-anak muda yang rentan dan mendidik mereka soal berbagai bahaya yang mereka hadapi di jalanan.

Dan dengan menggunakan bahasa Khmer, anak-anak muda memiliki Hip Hop sambil mengubah hidup mereka.

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 25 Mei 2009 06:54 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search