AsiaCalling

Home Berita China Imam Perempuan Di Cina

Imam Perempuan Di Cina

E-mail Cetak PDF

 

Apakah perempuan bisa menjadi Imam, ustad atau pemimpin komunitas Islam?

Inilah debat sengit yang muncul di antara umat Islam beberapa tahun belakangan ini.

Selain beberapa gerakkan kecil di Amerika Serikat, Kanada, dan bahkan Bahrain, sebagian besar ulama Islam, tentunya di negara timur tengah dan Asia Tenggara sangat menentang gagasan itu.

Tapi beda halnya di Cina, di negeri itu Imam perempuan telah berdakwah selama seabad lebih.

Mereka mendapat dukungan penuh dari komunitas.

Bahkan masjid khusus dibuat untuk perempuan.

Para imam perempuan ini memimpin sholat, mengajar para pelajar perempuan, dan memberikan nasihat kepada komunitas mereka.

Simak kisah selengkapnya bersama Niels Dartabad dari provinsi Henan, Cina.

Ini adalah hari yang istimewa di Daxinzhuang, daerah kantong pemukiman Islam di provinsi Henan, bagian tengah Cina. Sambil diiringi band lokal partai Komunis, masyarakat setempat sedang merayakan perbaikan masjid utama yang telah selesai.

Ibrahim Dan Guoyo salah satu anggota dewan desa.

“Di desa kami, ada tiga masjid untuk laki-laki dan tiga lainnya untuk perempuan. Begitulah keadaan di sini. Ini masjid utama, dan yang di sebelah situ untuk laki-laki. Tapi di dekat ini Anda bisa lihat masjid feminim.”

Masjid khusus perempuan ini sangat jarang ditemukan di dalam komunitas Islam di dunia. Masjid seperti ini hanya ada di Cina khusunya dalam komunitas orang Hui, kelompok minoritas utama. Kini masjid seperti ini menjamur di India dan Iran.

Di kota Zhengzhou, ibukota provinsi Henan, ada sekitar 100 masjid Hui, dan hampir setengahnya khusus untuk perempuan. Safya Di, direktur salah satu masjid itu.

“Pembangunan masjid khusus untuk perempuan sesuai dengan tradisi Cina ketika setiap kegiatan perempuan dan laki-laki harus dipisah. Itu sebabnya kami harus mencari tempat khusus bagi para perempuan untuk berdoa dan belajar Quran.”

Safya adalah imam perempuan, satu hal yang sangat jarang dalam komunitas Islam. Seperti sebagian besar Imam, Safya berdakwah setiap hari Jumat sebelum memimpin shalat berjamaah. Ia juga mengajar Quran kepada para perempuan muda Islam dari seantero Cina.

Maryam Pan-Hualian, 19 tahun, dua bulan lalu ia ikut kelas bahasa Arab dan Quran secara gratis.

“Menurut saya, sangat penting bagi perempuan untuk belajar Quran dan memperdalam pengetahuan agama. Karena akan sangat bermanfaat sepanjang masa.”

Aicha Li Jingzian juga ingin mengalami pertumbuhan iman ketika ia ikut sekolah Quran di desanya. Pada usia 22 tahun, ia sudah menjadi Imam di salah satu masjid di Zhengzhou.

“Saya mulai tertarik dengan Islam ketika masih di SMP. Setelah itu saya mulai belajar di masjid khusus perempuan. Saya memperdalam ajaran agama dan itulah yang memperkuat iman saya. Lalu suatu saat, Imam kami datang dan mengatakan salah satu masjid memerlukan Imam dan saya sudah siap untuk menjadi Imam itu. Saya katakan ya saya bersedia, terima kasih Allah.”

Orang Hui telah mengangkat Imam perempuan sejak abad ke-19, memadukan iman mereka dengan budaya Cina yang kuat. Seperti dijelaskan Yusuf Liu-Baoqi, wakil presiden Dewan Islam Cina.

“Melalui masjid umat Islam di Cina bisa mengajar agama kepada para perempuan. Dulu di Cina, perempuan tidak mendapatkan pengetahuan. Tidak ada siapapun yang menjelaskan apa makna dari berdoa.”

Di Cina ada sekitar 13 juta umat Islam dari suku Hui. Mereka kelompok minortias bila dibandingkan dengan seluruh penduduk negeri itu yang mencapai 1,3 milyar orang. Mereka menggunakan bahasa yang sama, memiliki ciri-ciri dan menggunakan tanah yang sama seperti orang Han yang menjadi mayoritas di negeri itu. Imam Safya Di menuturkan itu sebabnya mereka perlu mengangkat para imam perempuan.

“Islam adalah satu-satunya yang membedakan kami dengan warga Cina lainnya. Para perempuan diangkat menjadi imam untuk melestarikan identitas ini. Tapi ini tidak berlaku di negara dengan mayoritas umat Islam.”

Para perempuan Hui yang menganut agama Islam tak tahu banyak soal pengalaman para perempuan Islam di belahan dunia yang lain. Safya bersikeras, penafsiran hukum Syariah yang mendiskriminasi perempuan tak ada hubungannya dengan Islam. Kata dia, ini masalah budaya.

“Tidak hanya di Cina, tapi di seluruh dunia, para perempuan dan laki-laki sederajat menurut ajaran Islam.”

Di kota lainnya seperti di Zhengzhou, komunitas Hui menetap di satu atau dua distrik. Aicha Wang adalah salah satu warga Hui yang bekerja sebagai tukang daging.

Ia memotong daging sapi dalam potongan besar, lalu anak perempuannya, Halima, menjual daging itu.

“Kami seharusnya memakai jilbab untuk menutupi rambut kami. Tapi sekarang ini kami sedang bekerja dan berbisnis, jadi kalau pake kerudung tidak praktis. Imam kami mengatakan kalau kami sungguh-sungguh beriman, ini tidak apa-apa.”

Setelah beberapa abad hubungan tidak baik dengan kerajaan Cina dan penderitaan besar selama Revolusi Kebudayaan pada zaman Mao, budaya suku Hui menjamur sejak 1980-an.

Para penulis, teolog dan aktivis Islam ikut dalam gerakkan pembaharuan intelektual global. Dan tak ada di antara mereka yang bakal mempertanyakan tradisi Imam perempuan, sebagai simbol Islam yang toleran dan terbuka.

 

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 28 Mei 2009 10:57 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search