AsiaCalling

Home Berita India Bertambah, Yatim Piatu Akibat AIDS Di India

Bertambah, Yatim Piatu Akibat AIDS Di India

E-mail Cetak PDF

Download India diyakini memiliki setengah juta anak-anak yang jadi yatim piatu karena AIDS.

 

Jumlah ini pun terus meningkat.

 

Namun, beberapa aktivis lokal mengatakan pemerintah tak punya rencana untuk mengatasi masalah ini.

 

Akibatnya, anak-anak dengan HIV diabaikan.

 

Sehari sebelum Hari AIDS sedunia, Reporter Jasvinder Singh pergi ke satu panti asuhan di Jaipur dan menyusun laporannya untuk Anda.

 


Puluhan sedang anak menggambar pohon, sungai dan pemandangan yang indah.

 

Seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun mewarnai daun dengan warna hijau.

 

Ketika saya tanyakan mengapa ia tinggal di panti asuhan, ia bercerita.

 

“Ayah saya masuk militer. Dia meninggal karena HIV/AIDS. Kami tinggal dengan keluarga besar. Karena kedua orangtua saya meniggal akibat AIDS, paman kami mengusir saya dan adik perempuan saya dari rumah kami. Lalu ada LSM yang membantu dan membawa saya ke panti asuhan ini.”

 

Anak perempuan lainnya yang berusia delapan tahun tinggal dengan saudara laki-lakinya yang berusia enam tahun di panti asuhan ini. Kedua anak ini hidup dengan HIV.

 

“Kedua orang tua saya terinfeksi HIV. Ayah saya meninggal karena AIDS, jadi dia tinggalkan ibu saya sendirian. Karena penyakitnya, ibu meninggalkan kami di panti asuhan. Sekarang kami tinggal di sini. Kami senang. Kami berdua bisa sekolah lagi.”

 

Epidemi HIV dan AIDS diperkirakan akan meningkatkan jumlah anak yatim piatu dalam beberapa tahun mendatang.

 

Tapi jumlah panti asuhan untuk yatim piatu yang terkena AIDS sangat terbatas di India.

 

Jagdeesh adalah manajer panti asuhan “Care and Rehabilitation Center” atau pusat perawatan dan rehabilitasi.

 

“Saya pergi ke panti asuhan pemerintah untuk masukkan dua anak ke sana karena orangtua mereka sudah meninggal. Karena laki-laki yang bertugas sudah tahu kalau saya positif dengan HIV, ia bersikeras mengetes anak-anak itu juga. Setelah tes itu salah satu anak didiagnosa positif HIV. Dia boleh masuk ke panti asuhan. Saya menentang hal ini dan mengeluh karena terjadi diskriminasi, tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya. Karena kejadian ini, komunitas kami mulai mendirikan tempat perawatan untuk anak yatim piatu dengan AIDS. Kami menuntut pemerintah untuk memberikan bantuan atau mereka harus madukkan anak-anak ini ke panti asuhan mereka. Hanya Tuhan yang bisa membantu anak-anak yatim yang hidup dengan AIDS.”

 

Organisasi Pengendalian AIDS Nasional dari Kementerian Kesehatan mengatakan, telah mendirikan sepuluh panti asuhan untuk anak-anak yang postif dengan HIV di India.

 

Sejumlah aktivis lokal mengatakan panti asuhan yang sudah ada itu tidak cukup.

 

Brijesh Dubey adalah Presiden Jaringan Orang Yang Postitif dengan HIV di Rajashatan, yang memberikan bantuan dan ke berbagai panti asuah itu.

 

Dia mengatakan organisasi Pengendalian AIDS Nasional pemerintah atau NACO, tidak punya rencana yang nyata.

 

“Saya tidak tahu apa kebijakan NACO. Mereka hanya memberikan bantuan ke daerah-daerah dengan prevalensi tinggi, dan menunggu daerah-daerah dengan prevalensi rendah untuk menjadi daerah dengan prevalensi yang tinggi. Sepuluh panti asuhan pemerintah akan menampung 100 anak di Rajasthan. Sementara di Rajasthan organisasi kami kami membantu 70 anak hanya di tiga panti asuhan.”

 

Masyarakat Pengendalian AIDS di Rajasthan adalah badan pemerintah pertama yang punya hampir 50 program yang membantu orang yang hidup dengan HIV dan AIDS.

 

Namun, tak satu pun program itu membantu mengatasi masalah yatim piatu yang ditinggalkan orangtua mereka yang meninggal karena AIDS.

 

Dr. Pradeep Sharda adalah Direktur Proyek masyarakat itu. Saya tanyakan dia soal kurangnya program.

 

“Sekarang ini kami tidak punya kegiatan yang fokus pada anak yatim karena AIDS. Tapi saya ingin katakan bahwa beberapa LSM tertentu merawat anak-anak ini. Memang dibutuhkah upaya yang lebih fokus dalam bidang ini. Dalam rencana RSACS tahunan kami ingin masukkan perawatan yang fokus untuk anak-anak ini jadi kegiatan apapun yang dibuat bisa dilakukan dengan aktif.”

 

Karena tidak ada kebijakan nasional yang kuat untuk mengatasi dampak HIV AIDS pada anak-anak, maka berbagai panti asuhan non-pemerintah kian kesulitan.

 

Brijesh Dubey takut, karena kurangnya bantuan, maka nantinya beberapa panti asuhan terpaksa tutup.

 

“Di Rajasthan ada 1096 anak yang jadi yatim piatu, dan masa depan mereka suram. Pada hari AIDS Sedunia kami membuat rancangan kebijkan untuk menjamin hak-hak khusus untuk anak-anak ini. Jadi kami mengajukan hal ini kepada pemerintah, karena kami sebagai orang yang postif dengan HIV, tidak bisa merawat mereka tanpa dukungan pemerintah.”

 

Kembali ke tempat penampungan, anak-anak sedang menyiapkan slogan untuk unjuk rasa di Pusat Kebudayaan Ravindra Mach pada Hari AIDS sedunia.

 

Teman-teman mereka dari sejumlah panti asuhan lainnya bergabung dengan mereka.

 

Makanan, pakaian dan tempat perlindungan, teriak mereka. Mengapa Tuhan tidak memberikan kami makanan, pakaian dan tempat perlindungan?

 

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 06 Desember 2010 12:02 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search