AsiaCalling

Home Berita India Polisi Mumbai Merusak Kota Penuh Pesta

Polisi Mumbai Merusak Kota Penuh Pesta

E-mail Cetak PDF

Download Mumbai, ibukota bisnis India, dikenal sebagai kota pesta yang tak pernah tidur.

Tapi banyak orang sekarang takut keluar rumah khawatir menjadi sasaran kekerasan polisi.

April lalu, Kepolisian Mumbai melangsungkan serangkaian razia ke restoran, klub, bar, dan diskotik di kota – kata mereka, mereka tengah menggempur serangkaian pelanggaran hukum.

Langkah ini memancing kritik pedas dan protes dari berbagai kelompok masyarakat, yang mengatakan ini adalah pelanggaran hak asasi manusia.

Bismillah Geelani menyusun laporan ini untuk Asia Calling.

Di sebuah protest di kota Mumbai, lebih dari 200 laki-laki dan perempuan bernyanyi “Kembalikan malam-malam kami, kembalikan saat-saat kami berbincang dengan kawan.”

Sementara yang lainnya berkata,”Kami ingin Mumbai yang bebas.”

Para pemrotes ini termasuk warga senior, kaum profesional, pelajar dan aktivis.

Mereka marah dengan razia yang dilakukan polisi ke berbagai restoran dan bar di kota.

Ankita Singh, 21 tahun, ada di antara pemrotes.

“Ini tidak masuk akal dengan menghabisi kehidupan malam di Mumbai. Ini sangat tidak adil. Mumbai selama ini dikenal dengan keterbukaannya dan kehidupan malamnya. Dan Anda tak bisa seenaknya menghentikan ini.”

Di bawah kepemimpinan Komisaris Polisi yang baru Arup Patnaik, divisi pelayanan sosial Kepolisian Mumbai merazia puluhan restoran, klub malam, pub dan bahkan pesta-pesta pribadi.

Polisi menuduh pemilik usaha dan pihak yang menggelar pesta telah melanggar serangkaian hukum – termasuk melanggar norma-norma dengan mabuk.

Komisaris Patnaik mengatakan, apa yang dilakukan Kepolisian bisa dibenarkan.

“Tempat-tempat itu tidak punya izin, mereka juga mengganggu penduduk setempat. Orang-orang ini keluar malam dari rumah dengan mobil Ferrari dan Porche mereka, mabuk-mabukan, mengklakson sembarangan juga membuang botol bir dan kondom di sana sini. Saya mendapat banyak keluhan dan surat kecaman. Sekarang ini adalah tingkah laku masyarakat yang terlihat.”

Sosok polisi yang paling kontroversial dalam razia-razia ini adalah Asisten Komisaris Polisi Vansant Dhoble.

Dhoble punya rekam jejak yang panjang – pada 1994, dia dihukum 7 tahun penjara karena keterlibatannya dalam kematian tahanan polisi.

Dhoble seringkali kedapatan memukulkan stik hoki selama melakukan razia – dia telah menjadi mimpi buruk para tukang pesta di Mumbai.

Pekan lalu, aktivis HAM Tehseen Poonawala mengajukan petisi ke pengadilan untuk melawan Dhoble.

Dia mengklaim Dhoble telah melecehkan warga dan menggunakan kekuasaannya secara berlebihan, terutama terhadap perempuan.

“Dia memukuli warga yang hanya ingin pergi ke tempat beli jus. Dia memukuli pekerja malang yang tengah mencari makan, siapa pun yang kebetulan lewat di hadapannya bakal dipukuli dengan tongkat hokinya. Jika klub malam itu ilegal, tolong tutup saja. Kalau pemerintah menarik pajak hiburan dan pajak-pajak lainnya pada klub-klub malam, tentu saja Anda tak bisaa seenaknya memukuli orang, berharap kalau orang-orang di dalamnya akan melanggar hukum.”

Dhoble juga dituding merusak reputasi warga biasa atas nama perang terhadap “sampah masyarakat”.

Beberapa bulan lalu, dia merazia restoran di pusat kota Mumbai dan menahan 13 perempuan.

Menurut dia, perempuan-perempuan ini sudah dijual dan adalah pelacur.

Anamika Rao, 26 tahun, adalah salah satu yang ditahan.

“Saya hanya pergi bersama teman-teman untuk bersenang-senang. Ada banyak pasangan menikah dan keluarga di tempat yang sama. Tapi mereka melepaskan semua orang laki-laki dan hanya menahan yang perempuan. Saya kini tinggal dengan teman saya karena keluarga saya tak membolehkan saya pulang ke rumah. Kata mereka, saya membawa aib bagi keluarga. Kalau anak perempuan Dhoble kebetulan ada di restoran itu, apakah dia masih akan menyebut kami pelacur?”

Tapi tak semua orang menentang aksi Dhoble.

Shaina NC adalah warga Mumbai dan anggota partai oposisi Bharatiya Janata Party.

Dia membela langkah Dhoble dan menyebutnya sebagai ‘reformasi sosial’.

“Ketika seorang polisi yang baik menjalankan tugasnya, bukankah itu sesuat yang harus kita hargai? Kesatuan polisi sekarang bangga padanya karena dia adalah orang yang berdiri memegang nilai-nilai dan moral – sesuatu yang jarang di masyarakat sekarang.”

Enam tahun lalu, Kepolisian Mumbai melangsungkan aksi serupa terhadap klub tari – polisi menutup hampir seluruh klub tersebut di kota.

Langkah ini dikritik tajam karena dianggap mendorong perempuan-perempuan yang semula bekerja di sana menjadi terjerumus pada prostitusi.

Varsha Kale adalah Presiden Serikat Pekerja Bar Perempuan.

”Lebih dari 35 persen perempuan yang bekerja di klub tari ini langsung terjerumus ke pelacuran, yang ada di jalan-jalan kota di tenga hari bolong. Mereka tak punya pilihan lain.”

Banyak yang mengatakan, langkah polisi ini justru tidak akan produktif.

Aktor Bollywood senior Kabir Bedi mengatakan, pemerintah harus berhenti menjadi polisi moral kepada warganya.

“Mumbai seharusnyanya menjadi kota 24 jam, 7 hari dalam seminggu di mana semua jenis orang bisa bekerja sampai malam. Atau kalau mereka harus keluar makan di malam hari, atau kembali kerja larut malam, atau sekadar keluar, pacaran, bersenang-senang dengan teman mereka. Kehadiran polisi moral seperti ini tak bisa diterima dan harus ada tekanan untuk membuat politisi menyadari kalau apa yang dilakukan justru menghentikan langkah Mumbai sebagai kota abad ke-21. Mereka harus mengubah aturan hukum yang kuno yang justru membuat polisi melakukan aksi-aksi kejam ini.”

Terakhir Diperbaharui ( Minggu, 01 Juli 2012 16:07 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search