AsiaCalling

Home Berita Indonesia Penumpang Atap Gerbong Kereta Api di Jakarta

Penumpang Atap Gerbong Kereta Api di Jakarta

E-mail Cetak PDF

Download Para pegawai perusahaan kereta api sudah mulai menggantungkan gawang dengan bola beton sebagai upaya untuk mencegah para komuter naik ke atap gerbong kereta api.

Bola-bola yang pertama itu baru dipasang di atas lintasan dekat satu stasiun Bekasi, pinggiran Jakarta.

Bola-bola tambahan akan dipasang di tempat lainnya kalau para penumpang masih naik ke atas gerbong.

Sementara itu, pihak berwenang sudah mencoba menghentikan para penumpang ini dengan mengoleskan minyak di atas gerbong dan mengundang marawis untuk membawakan lagu soal keamanan naik kereta.

Namun para petugas mengatakan semua upaya pencegahan ini belum berhasil dan kini ingin mencoba tindakan pencegahan yang lebih keras lagi.

Morgan Pettersson pergi ke Stasiun Manggarai di Jakarta untuk mencari tahu apakah upaya ini berhasil.


Sekarang sudah jam pulang kerja di stasiun kereta api Manggarai, Jakarta Pusat.

Peron stasiun dipadati dengan para penumpang berpeluh yang berdesakan.

Tiba-tiba satu kereta datang dan sekitar seratus lelaki turun dari atap gerbong kereta.

Setiap hari, Romie 23 tahun, naik di atas gerbong kereta api ke tempat kerjanya.

“Yak karena ekonomi dikuranginya aja apalagi gerbongnya udah berkurang. Udah gitu jarak antara komuternya jauh 5 dibanding 1 makanya kita pada naik di atas. (Tapi gak takut jatuh atau luka-luka?). Namanya resiko udah pasti ada. (Pernah gak?). Nggak alhamdullilah nggak pernah, jangan sampai.”

Sebagai upaya untuk menertibkan para penumpang seperti Romie, pihak berwenang sudah  menggantungkan gawang dengan bola-bola beton di atas lintasan kerata api, yang beratnya mencapai tiga kilogram.

Bola-bola pertama itu dekat stasiun Bekasi di pinggiran ibukota.

Kepala stasiun kereta Api Bekasi, Eman Sulaeman, memperlihatkan foto-foto uji coba bola-bola beton itu yang dilakukan dengan boneka besar.

Dalam foto terakhir nampak kepala boneka itu yang terlepas setelah kena bola beton itu.

“Kalau saya hitung-hitung mungkin ini langkah ke-9 dari PT Kereta Api. Sudah pasti Undang-Undang kita mengatakan dilarang naik ke atap, persambungan lokomotif dan tempat-tempat yang sekiranya bukan untuk penumpang. Tapi pada fakta di lapangan itu masih ada kan penumpang yang naik ke atap. Apa langkah kita dari PT. Kereta Api, yang pertama pegangan itu sudah disemen sama kita, yang kedua sudah pakai kawat berduri kelilingnya. Yang ke-tiga sudah di bikin landak-landak seperti itu, masih aja naik. Trus kita operasi gabungan masih aja naik, bahkan operasi dengan membawa anjing pelacak PM masih naik kan? Berikutnya juga ada penyemprotan malah dihancurin, pintu koboy juga sama. Nah ini kebetulan untuk lintas Bekasi-Cikampek langkah ini ditempuh karena alasan memang memungkinkan.”

Ia mengatakan naik ke atas gerbong kereta api sangat berbahaya.

Pada 2008, sedikitnya 50 penumpang telah meninggal dalam kecelakaan ketika naik ke atas atap gerbong. Sementara tahun lalu, 11 orang tewas.

Sebagian besar korban tersetrum terkena kabel di atas lintasan kereta api, tapi sebagian jatuh dari gerbong ketika kereta api masih melaju.

Bingson, pelajar berusia 20 tahun yang penah menumpang di atas atap pernah melihat kecelakaan seperti itu.

“Kalau sekarang ini ngeri. Soalnya pernah ngeliat yang kesetrum di atas sampai gosong. Saya juga kaget liat ke atas ada kabel listrik juga. Makanya dari situ, kalau bisa sih jangan. Tapi kalau sudah terdesak mau gimana lagi?”

Jakarta adalah kota terbesar di dunia yang tidak punya sistem kereta bawah tanah atau sistem kereta api metro.  

Pada jam-jam yang padat, sekitar 400 ribu komuter berdesakan ke dalam gerbong dan bepergian melintasi rel kereta yang ditinggalkan para penjajah Belanda lebih dari 60 tahun lalu.

Perencana kota Marco Kusumawijhaya mengatakan Jakarta membutuhkan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah transportasinya.  

“Menurut saya sudah jelas mereka melakukannya karena terpaksa, ini tidak manusiawi dan tidak mengatasi masalah utamanya seperti kurangnya gerbong kereta dan menurut saya mereka semestinya lebih memperhatikan hal itu.”

Sebagian besar kota-kota dengan penduduk yang berjumlah lebih dari 10 juta orang, selama bertahun-tahun sudah biasa naik kereta bawah tanah.

Bangkok memasangnya kereta semacam ini pada tahun 2004.

Marco menuturkan Jakarta sudah ketinggalan.

“Mungkin sistem kereta yang bisa dibangun dan bisa dibandingkan dengan Jakarta adalah Bangkok, yang terus membaik selama 10 tahun terakhir. Jakarta sudah berencana untuk memperbaiki transportasi selama enam puluh tahun terakhir. Anda bisa lihat sendiri di berbagai kota di Asia, mereka-lah yang memperbaiki transportasinya sendiri.”

Pemerintah Indonesia sudah membicarakan rencana pembuatan kereta ini selama 20 tahun terakhir.

Mungkin ini akan menjadi proyek publik paling mahal dalam sejarah Jakarta, tapi Marco menuturkan, ini masuk akal kalau melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Ia mengatakan untuk sementara sistem kereta yang ada sekarang ini harus segera ditingkatkan.

“Saya pikir kita harus perekonomian dalam situasi ini. Mungkin dulu menyediakan gerbong kereta api yang nyaman dan sederhana belum bisa dilakukan. Tapi menurut saya sekarang ini, bahkan dengan pertumbuhan ekonomi, dan kita sudah bergeser menjadi negara dengan perekonomian menengah, kita tinggal mengumpulkan dana dan menyediakan gerbong yang lebih baik dan jumlah yang cukup.”

Tapi hingga sebelum gerbong-gerbong diperbanyak, para penumpang seperti mahasiswa bernama Bingson sudah punya akal untuk menghindari bola-bola beton itu.

“Ya kalau ide saya pakai helm aja. Orang-orang yang udah kepalang gitu, ngejar waktu ngejar apa ya siapin tameng perisai. Ibaranya jadi perisainyalah di depan gitu kan. Soalnya kalau dilihat ngeri juga kan, tabrak langsung jatuh dari kereta kan.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 06 Februari 2012 10:18 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search