AsiaCalling

Home Berita Indonesia Orang Indonesia Menggunduli Rambut demi Memerangi Kanker

Orang Indonesia Menggunduli Rambut demi Memerangi Kanker

E-mail Cetak PDF

Download Kanker adalah penyebab kematian ketiga terbanyak di Indonesia. Penyakit ini juga menyerang anak-anak – sekitar 15 persen anak-anak diperkirakan mengidap kanker.

Karena biaya perawatan yang sangat mahal, banyak diantara mereka yang tidak mendapatkan perawatan rumah sakit yang semestinya.

Tapi, apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu mereka?

Apalagi beberapa perawatan kanker saja tergolong keras – dan kemoterapi membuat rambut para pasien rontok.

Tapi di Jakarta, seribu orang lebih secara sukarela melakukan memotong rambut mereka sangat pendek – bahkan ada yang sampai botak.

Ini adalah bagian dari kampanye baru untuk meningkatkan kesadaran dan menggalang dana bagi anak-anak yang kena kanker yang berasal dari keluarga-keluarga miskin.

Evilin Falanta bergabung dengan para sukarelawan “Shave for Hope”, di salah satu mal Jakarta.

“Saya Tika Kartika dengan anak saya Dabira Rafa Azizah. Kita jarang potong rambut, dan daripada dibuang ke tong sampah kan sayang, jadi mendingan kita ikut bantulah. Dan kata anak saya, supaya kayak Princess Rapunzzel. Jadi, ceritanya princess rapunzzel yang rambutnya panjang punya magic hair, terus rambutnya dipotong dan bisa menyembuhkan.”

Tika dan anak perempuannya sedang mengantri di salah satu mall di Jakarta Selatan. Mereka tidak sedang memburu barang diskon, tapi akan memotong rambut mereka di depan umum.

Kampanye unik ini mengajak masyarakat untuk memotong rambut mereka, demi menggalang dana bagi anak-anak dari keluarga-keluarga miskin.

Seluruh rambut yang dipotong kemudian dijual ke pembuat wig lokal seharga 90 ribu rupiah lebih per kepala.

Ratusan orang datang ke sini dan mengikuti acara tersebut. Salah satunya adalah Adit, 28 tahun.

”Aku lihat acara ini ya enggak umum aja gitu, yang diminta cukur rambut. Dan karena diminta untuk bantu anak penderita kanker, ya mungkin enggak ada banyak yang bisa aku bantuin, jadi cuma ini aja.”

Acara ini disebut “Shave for Hope”, digelar oleh Asian Medical Students Association atau Asosiasi Pelajar Kesehatan Asia (AMSA). Acara seperti ini juga pernah dilangsungkan di Kanada, Australia dan Singapura, tapi ini kali pertama dilakukan di Indonesia.

Pandu Haryo adalah salah satu anggota Asosiasi itu.

“Jadi, awal mulanya itu kita ingin membuat suatu acara yang berguna bagi orang. Nah, salah satunya untuk anak kanker. Shave For Hope ini adalah kegiatan untuk membantu pengobatan biaya anak-anak kanker."

Bukan rambut yang disumbangkan pada acara ini.

“Shave for Hope” mengajak relawan untuk memotong rambutnya, dengan biaya minimal Rp 100 ribu – rambut mereka kelak bakal dijadikan wig alias rambut palsu.

Dana yang dikumpulkan akan diberikan ke Yayasan Pita Kuning Indonesia, yang misi utamanya adalah merawat anak-anak yang kena kanker.

Erwin Fauzi adalah salah satu koordinator Yayasan itu.

“Saya harap ini bisa berkelanjutan, karena ini bagian dari awareness. Bagian dari memberikan informasi juga kepada masyarakat, agar kita selalu peduli terhadap anak-anak. Dan siapapun akan berat terhadap kanker dan tidak sanggup menghadapi. Tapi kanker bukan akhir dari sebuah hidup. Harapan, impian, masa depan adalah hak semua orang. Walaupun mereka sakit, kita tetap harus support dan berikan yang terbaik buat mereka.”

“Shave For Hope” melibatkan 75 penata rambut dari salon ternama di Indonesia untuk memotong rambut para donatur. Hanya ada dua pilihan untuk donatur, potongan pendek atau botak.

Setiap peserta difoto terlebih dulu dan beberapa menit kemudian setelah rambutnya selesai dipotong atau dicukur, difoto lagi dengan penampilan barunya.

Lydia Dumayanti, 44 tahun memilih cara yang sulit.  

“Saya cancer survivor khusus leukimia kronik, dan sudah lima tahun sebagai surviver kanker. Saya punya rasa yang sama dengan adik-adik pasien kanker bahwa kehilangan rambut itu sangat tidak mengenakkan. Apalagi kehilangan rambut itu karena efek samping kemoterapi yang dijalani pasien. Dan itu yang harus diterima pasien bahwa efek samping kemotrapi akan merontokan rambut, dan saya mengalaminya.”

Data Badan Kesehatan Dunia WHO menyebut, kanker pada anak di dunia meningkat dibandingkan dua dasawarsa lalu.

Dari 6,25 juta kasus kanker yang terdiagnosis setiap tahunnya, 250 ribu diantaranya adalah anak-anak. Di Indonesia, sekitar 150 ribu dari 1 juta anak-anak mengidap kanker.

Dan setiap tahun ada 4000 kasus baru.

Dokter Spesialis Kanker Anak, Edi Teheteru mengatakan, kanker anak sulit untuk dideteksi secara dini. Hanya kanker bola mata pada anak yang mudah dideteksi dini.

“Makanya, dengan penyebarluasan informasi ini kita harapkan masyarakat banyak yang tahu. Kalau banyak masyarakat banyak yang tahu, itu artinya pada saat ia melihat anaknya tanda-tanda yang mengarah ke kanker, kita harapkan orangtua bisa segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan. Tujuannya cuma untuk konfirmasi itu kanker atau bukan.”

Farah gadis berusia 9 tahun didiagnosa dengan kanker tulang.

Q. Farah cita-citanya jadi apa?

“Relawan anak. Yang suka di Darmais, yang menghibur anak-anak sakit kanker. Enak aja menghibur anak-anak, ngomong-ngomong, cerita-cerita gitu"

Baru-baru ini kaki kirinya diamputasi, untuk menghentikan penyebaran kanker.

Yanti, ibunda Farah mengatakan, sulit untuk mengumpulkan dana untuk merawat anak perempuannya.

”Saya pasrah aja saya bilang ke suster Luki. Soalnya gimana biaya dari mana kalau dia sampai dioperasi, rumah saja saya ngontrak. Waktu anak yang pertama sakit masih punya mobil, masih punya rumah, masih bisa saya jual. Kalau udah gini saya pasrah aja deh kalau memang dia sama Allah dikasih panjang umur, disembuhin tanpa di ini makanya saya sibuk bawa ke alternatif melulu. Karena saya pikir biaya dari mana kalau sampai dioperasikan berapa puluh juta. Udah saya pasrah ajalah gitu."

Kembali ke mall...

Seribu orang lebih sudah memotong rambut mereka dan menyumbangkan uang ke Yayasan Pita Kuning.

Dari aksi sosial sepanjang hari itu terkumpul dana sebesar Rp 835 juta ditambah 300 dolar Amerika. Totalnya hampir Rp 840 juta.

Potongan rambut termahal dilakukan Agus Gunawan, 40 tahun.

Ia rela mendonasikan rambutnya seharga Rp 427 juta. Agus mengaku sangat menyayangi rambutnya dan tidak pernah membotakkan rambutnya. Tapi, dalam aksi sosial Shave For Hope ia rela mencukur habis rambutnya hingga botak.

“Saya pikir ini suatu pembelajaran juga buat saya untuk belajar melepaskan sesuatu yang penting dari hidup saya. Rambut yang paling penting dalam hidup anda? Ya, itu salah satunya, jadi pembelajaran. Ini kan saudara-saudara kita orang Indonesia, kalau bukan kita siapa lagi yang membantu. Dan ini kan hanya sebagian kecil saja, Rp 400 juta kelihatannya besar tapi sebenarnya tidak ada apa-apanya.”

Dari satu panggung di mall, penyanyi sekaligus dokter Tompi mengucapkan terima kasih kapada para sukarelawan, dan menyampaikan pesan ini kepada ana-anak yang kena kanker.

“Tetap semangat dan kalian enggak sendiri karena ada kita-kita di sini.”

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 11 Juni 2012 11:21 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search