
Download Polisi moral Islam di Malaysia memulai Hari Valentine tahun ini dengan menangkap beberapa pasangan Muslim karena melakukan khalwat atau ‘berduaan’.
Dianggap sebagai tradisi Barat yang tidak bermoral, otoritas Islam menyatakan orang Muslim yang merayakan Hari Valentine akan ‘mendatangkan murka Allah’.
Pada 2005, Dewan Fatwa Nasional Malaysia mengeluarkan sebuah fatwa yang menyatakan Hari Valentine haram atau dilarang dalam Islam.
Sekitar 60 persen orang Malaysia adalah Muslim dan merayakan Hari Valentine hanyalah satu dari beberapa kegiatan popular yang dianggap ‘melanggar hukum Islam’.
Koresponden kami Clarence Chua berada di jantung Kuala Lumpur untuk mencari tahu lebih banyak.
Saya bertanya pada beberapa orang Malaysia di ibukota bagaimana biasanya mereka merayakannya.
Mohd Saiful, 30 tahun, berasal dari Ipoh, Perak.
“Yang saya tahu, hari Valentine adalah hari untuk merayakan cinta dan kasih sayang. Saya tidak benar-benar merayakannya, hanya beberapa kali, tidak setiap tahun. Jika merayakannya, paling hanya makan malam.”
Tapi otoritas Islam percaya kalau umat Muslim seharusnya tanggal 14 Februari tidak dirayakan sama sekali.
Dalam sebuah khotbah yang disiapkan oleh negara bagian dan otoritas Islam federal, umat Muslim diberitahu kalau meminta seseorang untuk menjadi pasangan Valentine mereka bisa berujung pada 'memuja berhala'.
LSM Islam, Sister in Islam, yang terkenal karena sikap tegas mereka menentang hukuman cambuk pada perempuan, mengatakan semua prioritas pemerintah itu salah.
Noor Akmal Zulkifli adalah penanggung jawab program.
“Ada masalah yang lebih mendesak. Bagi kami ada isu-isu penting lain yang kami perjuangkan seperti pembayaran tunjangan bagi istri dan anak-anak yang ditinggalkan suami mereka, dan UU keluarga Islam yang merupakan kemunduran. Ini yang kami pejuangkan untuk direformasi. Ini isu yang lebih mendesak daripada membuang-buang energi dan sumber daya untuk isu-isu seperti Hari Valentine atau melarang yoga atau poco-poco. Kami sudah membuat sikap soal kebijakan moral ini. Saya pikir itu melanggar martabat dan privasi dan bertentangan dengan semangat Islam.”
Dalam beberapa tahun ini, otoritas Islam di Malaysia telah mengharamkan beberapa kegiatan yang populer.
Tahun 2008, Dewan Fatwa Nasional melarang yoga. Aktivitas ini diklaim berkaitan dengan Hinduisme sehingga bisa melemahkan iman umat Muslim yang melakukannya.
Tahun lalu, ketua agama negara bagian Perak melarang tari poco-poco asal Indonesia dan menyatakan tarian itu mengandung unsur Kekristenan karena langkah-langkah tarian itu seperti membuat tanda salib.
Kini sebuah memorandum protes diluncurkan meminta penghentian semua promosi Hari Valentine telah dilakukan di media lokal.
Dan gerakan ini punya pendukungnya. Mohd Saiful dari Perak menjelaskan.
“Secara pribadi, dari sudut pandang agama, ini bertentangan dengan ajaran Islam karena ada unsur Kristennya. Dan saya percaya ini akan mempengaruhi kami, karena bagi orang Muslim, kami selalu kembali pada Al-Quran dan percaya hal-hal ini punya unsur dari agama-agama lain. Saya percaya saran untuk menahan diri untuk tidak merayakannya itu baik, karena mengurangi kegiatan yang berdosa.”
Tapi Akik Sanyol, dari suku Iban dan beragama Kristen dari negara bagian Sarawak, mengatakan ini adalah contoh lain dari konservatisme agama yang merugikan pluralisme di Malaysia yang multirasial.
“Kegiatan ini sudah dirayakan bertahun-tahun yang lalu oleh orang Muslim, Cina, atau India. Tidak pernah ada hal seperti itu, di mana hal yang berkaitan dengan Kristen tidak boleh dirayakan. Sekarang, semua yang dilakukan Muslim itu salah karena ada kaitannya dengan orang-orang Kristen. Apa pun yang orang Kristen lakukan salah karena sesuatu yang Anda lakukan, sesuatu yang Anda katakan melawan umat Muslim. Ini ide yang salah. Bagi saya ini adalah politik yang polos dan sederhana.”
Alih-alih bergabung dengan keributan ini, Menteri Penerangan Malaysia telah menekankan pentingnya multi-kulturalisme dan menghormati perbedaan budaya.
Tuduhan terhadap kaum non-Melayu yang berusaha untuk merebut status khusus Islam dan orang Melayu, meningkat sejak pemilihan umum terakhir tahun 2008, di mana pemerintah yang berkuasa kehilangan lima negara bagian yang direbut partai oposisi.
Pada 2010, tiga gereja di ibukota Kuala Lumpur dibom. Serangan itu terjadi setelah Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur membatalkan larangan yang sudah berlaku selama tiga tahun bagi non Muslim menggunakan kata Allah.
Tahun lalu sayap kanan yang berhubungan dengan pemerintah, kelompok Melayu Perkasa, dan surat kabar setempat 'Utusan Malaysia', menuduh oposisi berkomplot untuk mengubah Malaysia menjadi negara Kristen. Kemudian sebuah gereja di Selangor dikepung karena diduga digunakan untuk mengkristenkan Muslim secara massal.
Kembali Noor Akmal dari Sisters in Islam.
“Menurut saya pada akhirnya, ini tergantung pada orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Apa niat mereka ketika melakukannya. Apakah Anda mengatakan ketika mereka mulai melakukan poco-poco, mereka berpikir tentang Kristenisasi? Mereka akan terpengaruh dan masuk Kristen? Saya pikir cara berpikir seperti itu dangkal sekali dan sangat sempit. Supaya Malaysia bisa bergerak maju bersama Muslim dan non-Muslim, saya pikir larangan seperti ini harus benar-benar dipertimbangkan.”
Jadi pada Hari Valentine tahun ini, ada yang dapat bunga mawar dan ada juga yang masuk penjara.










