AsiaCalling

Home Berita North Korea Pengungsi Korea Utara Butuh Lebih Banyak Dana

Pengungsi Korea Utara Butuh Lebih Banyak Dana

E-mail Cetak PDF

Download Jumlah pengungsi Korea Utara yang tiba di Korea Selatan terus meningkat.

Jumlahnya saat ini mencapai 22 ribu orang.

Kementerian Unifikasi Seoul memperkirakan jumlah ini akan bertambah pada akhir tahun ini.

Tapi beberapa orang yang membantu pengungsi mengatakan para pengungsi tidak mendapatkan cukup bantuan untuk sepenuhnya menyesuaikan diri dengan rumah baru mereka.

Dan tidak hanya pemerintah yang tidak mendukung para pendatang baru ini.

Dari Daegu kita simak laporan lengkap Jason Strother berikut ini.

Ketika semua orang Korea Utara tiba di Korea Selatan, mereka tinggal di fasilitas transit yang disebut Hanawon selama tiga bulan.

Di sana mereka belajar seluk beluk dalam masyarakat kapitalis seperti bagaimana mengunakan komputer atau ATM.

Dan walau mereka sudah keluar dari tempat itu, mereka masih bisa mendapatkan bantuan dari salah satu dari 30 Hana Center yang lebih kecil di seluruh negeri, seperti yang ada di Daegu ini.

Satu program di tempat itu adalah memberikan kerja paruh waktu ke pada para pembelot itu seperti mengepak mikrocip ke peti sebelum dikirim untuk pabrik monitor HD dan telefon genggam.

Itu yang dikerjakan Kim Guk-cheol, 21 tahun. Ia sudah tinggal di Daegu selama dua tahun.

“Awalnya sulit untuk terbiasa dengan kehidupan di sini. Tapi saya banyak dibantu Hana Center. Sekarang saya berencana untuk masuk universitas dan belajar bisnis.”

Tapi program kerja paruh waktu dan layanan lainnya yang diberikan kepada pengungsi tidak disediakan oleh Kementerian Unifikasi kata Lee Young Seok, petugas di Hana Center.

Ia mengatakan Daegu dan kantor cabang lainnya harus merangkul pemerintah daerah, badan amal serta sumber-sumber dana lain untuk membantu orang Korea Utara menetap.

“Hana Center hanya menerima dana pemerintah untuk membantu pengungsi selama tahun pertamanya. Saya pikir waktu selama itu tidak cukup untuk membantu orang menyesuaikan diri. Akan lebih baik jika pemerintah meningkatkan dukungannya untuk periode yang lebih lama.”

Lee mengatakan, para pembelot membutuhkan lebih banyak dukungan, dari pada sekedar bantuan seperti menempatkan mereka di rumah baru atau mencarikan pekerjaan.

Ini sifatnya lebih psikologis. Dan Hana Center sedang mencoba memberikan kompensasi itu.

Di dalam ruang kelas yang kecil, sekelompok pendatang baru dari Korea Utara, sedang mempelajari keahlian berkomunikasi.

Guru bertanya bagaimana perasaan mereka saat bicara dengan orang baru.

Seorang murid mengatakan ia merasa tidak nyaman.

Lee mengatakan karena kerasnya hidup di Korea Utara dan mereka jadi korban pelaku perdagangan orang di Cina, banyak pembelot trauma. Dan ia mengatakan tidak ada yang bisa berharap kesulitan seperti ini akan hilang setelah setahun di Korea Selatan.

“Setelah mereka tiba di sini semuanya tidak mudah. Banyak yang masih merasa menderita setelah beberapa bulan. Banyak yang depresi atau tidak dapat mengendalikan amarahnya. Mereka kurang percaya diri untuk bicara dengan orang. Mereka malu dengan masa lalunya dan cenderung menutup diri kepada orang lain.”

Dan seiring meningkatnya jumlah orang Korea Utara yang tiba di selatan, para pendukung pengungsi seperti Lee mengatakan, prihatin kalau orang Korea Utara tidak mendapat dukungan yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah ini, dalam jangka waktu lama.

Meskipun pemerintah menghabiskan lebih banyak uang untuk membantu pengungsi ketika mereka pertama kali tiba.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan baru-baru ini merayakan peletakan batu pertama fasilitas Hanawon yang baru di timur laut Seoul.

Menteri Unifikasi Hyun In Taek mengatakan adalah kewajiban negara untuk membantu orang Korea Utara.

“Orang-orang Korea Utara seharusnya mendapat kesempatan yang sama seperti orang Korea Selatan. Hanawon merupakan simbol kalau Korea Selatan ingin memastikan para pembelot hidup nyaman dan senang di sini.”

Tapi banyak pengungsi dan para pendampingnya mengatakan walau secara resmi mereka disambut baik di rumah barunya, faktanya mereka menerima sambutan yang dingin dari para tetangga Korea Selatan mereka.

Staf di Hana Center mengatakan masalah ini juga harus mereka atasi.

Mereka telah membuat program yang mendekatkan para pembelot yang baru tiba dengan masyarakat sekitarnya.

Ini untuk membantu menjembatani jurang diantara kedua pihak.

Choi Juri, 24 tahun, bekerja di tempat itu tapi awalnya ia adalah relawan.

Bekerja di sana membuat pendapatnya soal orang Korea Utara benar-benar berubah.

“Sebelum saya bekerja di sini, saya merasa mereka berbeda dari kami. Mereka seperti orang asing. Tapi sekarang saya melihat semuanya sebagai satu Korea. Prasangkalah yang membuat orang Korea Selatan memandang rendah pada orang-orang dari utara.”

Beberapa orang pembelot yang saya temui di Daegu berterimakasih kepada tempat itu karena mereka jadi tahu lebih banyak soal orang Korea Selatan.

Seorang pengungsi berusia 39 tahun yang tak mau menyebutkan namanya memberikan penjelasan mengapa orang Korea Utara dan Selatan kesulitan memahami satu sama lain.

“Secara umum orang Korea Selatan baik. Tapi perasaan yang saya dapatkan yaitu, dibandingkan dengan apa yang telah kami lalui, hidup mereka sangat nyaman. Itu yang tidak kami miliki.”

Tapi dia berharap masyarakat kedua negara di semenanjung itu, segera dapat mengesampingkan perbedaan mereka dan hidup lebih nyaman bersama-sama.

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 27 Juli 2011 09:17 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search