AsiaCalling

Home Berita North Korea Seoul Izinkan Kelompok Amal Swasta Kirim Bantuan ke Korea Utara

Seoul Izinkan Kelompok Amal Swasta Kirim Bantuan ke Korea Utara

E-mail Cetak PDF

Download Berbagai kelompok masyarakat madani mengirim ratusan ton tepung ke Korea Utara.

Selama setahun terakhir, sebagian besar bentuk bantuan lintas batas dilarang, sejak Seoul menuding Korea Utara menenggelamkan kapal angkatan lautnya pada Maret 2010.

Tapi pemerintah Korea Selatan masih bersikeras tidak mau mengirim bantuan.

Padahal Uni Eropa dan berbagai kelompok internasional lainnya bersiap-siap untuk melakukannya.

Dan sejumlah pengamat mempertanyakan, apakah masyarakat Korea Utara memang masih kelaparan seperti yang mereka katakan.

Reporter Jason Strother menyaksikan sebagian bantuan itu diberangkatkan dari sebuah taman di Korea Utara, yang berjarak hanya tujuh kilometer arah selatan dari wilayah demiliterisasi Korea.

Satu iringan truk, yang mengangkut karung-karung tepung, keluar dari Taman Imjingak Peace.

Iringan ini menuju Korea Utara.

Pendeta In Myung-jin dari Gerakan Korea Sharing menuturkan 300 ton tepung ini akan membantu 22 ribu anak-anak Korea Utara. Tapi ia mengatakan, bantuan dari berbagai kelompok amal tidak bisa menolong semua warga yang membutuhkan bantuan.

“Bantuan yang kami salurkan lewat LSM masih sedikit sekali, tidak cukup untuk membantu mengatasi kelaparan di Korea Utara. Jadi kami mencoba mendesak pemerintah untuk membantu Korea Utara.”

Meski pemerintahan Seoul kini mengizinkan pihak swasta mengirim bantuan ke ke Korea Utara, pemerintah itu tetap tidak memberikan bantuan resmi apapun.

Padahal Program Bantuan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) sudah memperingatkan, masyarakat Korea Utara mengalami kekurangan makanan yang parah kembali.

Uni Eropa punya keprihatinan sendiri untuk memberikan bantuan ke Korea Utara. Awal bulan ini mengumumkan akan mengirim bantuan mencapai 102,5 miliar rupiah lebih .

Meski Uni Eropa sudah mengubah keputusannya, Seoul masih tidak luluh, kata Cho Joong Hoon. Ia adalah direktur bagian Bantuan Kemanusiaan di Kementerian Persatuan Korea Selatan.

“Para pejabat Eropa memutuksan mengirim bantuan darurat berdasarkan apa yang mereka lihat waktu berkunjung ke sana. Seoul menyetujui keputusan Uni Eropa, tapi tidak akan mengirim bantuan ke Korea Utara karena pertikaian yang terjadi baru-baru ini.”

Ini termasuk penenggelaman kapal perang Korea Selatan dan pengeboman Pulau Yeongpyeong, keduanya terjadi tahun lalu.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memastikan bantuan makanan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

Eropa menyatakan, untuk kali pertama mendapatkan akses supaya militer Korea Utara tidak akan menyedot bantuan itu.

Sejumlah kelompok bantuan swasta menyatakan sedang mengawasi penyaluran makanan.

Park Chang-il bekerja dengan satu kelompok bantuan yang membuat tahu dan susu kedelai di sejumlah pabrik di Pyongyang. Ia mengatakan sangat tergantung pada rekan-rekan Korea Utara di sana.

“Kalau memungkinkan, kami sendiri yang mengirim berbagai produk ke sekolah atau tempat tujuannya langsung. Tapi kami tidak bisa meminta rekan-rekan kami di Korea Utara untuk mengirim foto atau dokumen yang menunjukkan kalau makanan itu dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.”

Sejumlah pengamat menuturkan, korupsi sangat merajalela di Korea Utara. Karenanya mustahil untuk mencegah penyalahgunaan bantuan.

Shin Ju Hyun adalah pemimpin redaksi Harian The Daily NK, satu situs web yang mengandalkan sejumlah sumber di Korea Utara. Ia mengaku tak yakin krisis pangan yang diberitakan, memang benar-benar terjadi sekarang ini.

“Berdasarkan apa yang saya pelajari dari para pembelot Korea Utara dan tentara dalam satu perjalanan ke perbatasan Cina baru-baru ini, menurutnya situasi makanan yang sekarang ini tidak lebih memburuk ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Salah satu perbedaannya adalah karena revaluasi mata uang. Sebagian orang yang biasanya beli makanan di pasar gelap, kini tidak sanggup membelinya lagi.”

Shin menuturkan, Pyongyang meminta makanan, kata dia, kemungkinan untuk ditimbun oleh rezim negeri itu untuk kebutuhan tahun depan.

Korea Utara sedang merencanakan perayaan ulang tahu ke-100 pendiri negeri, Kim Il Sung dan ingin mencerminkan citra negara berkuasa dan makmur.

Analis propaganda Korea Utara, Brian Myers mengutarakan, berbagai poster sudah mulai nampak di Korea Utara sejak 2008, menggambarkan keluarga-keluarga yang duduk di meja dengan berbagai jenis daging yang ditumpukkan di atasnya.

Tapi ia menambahkan, ketika sudah semakin jelas kalau Seoul tidak akan mengirim bantuan makan, gambar-gambar itu mulai berubah.

“Pada Januari 2010, poster baru dikeluarkan yang menunjukkan meja makanan dengan makanan vegetarian, dan tidak ada gambar daging lagi. Sebagai gantinya, ada banyak nasi, kentang dan jagung. Dan penurunan harapan masyarakat nampaknya masih terjadi hingga sekarang ini.”

Myers baru-baru ini pergi ke Korea Utara.

Ia bercerita, melihat banyak anak yang nampak punya tanda-tanda kurang gizi bahkan di Pyongyang yang relatif makmur.

Ini pertanda, kini harapan masyarakat di sana-pun sudah rendah.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 01 Agustus 2011 11:09 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search