AsiaCalling

Home Berita North Korea Makanan Bisa Jadi Penyatu Kedua Korea

Makanan Bisa Jadi Penyatu Kedua Korea

E-mail Cetak PDF

 Download Bagi banyak warga Korea Selatan, cara yang paling pas untuk mengatasi cuaca gerah pada musim panas adalah makan semangkok mie dingin.

Masakan naengmyeon, awalnya adalah makanan populer yang dikonsumsi pada musim dingin dari Korea Utara, tapi dibawa ke negeri Ginseng oleh para pembelot pada Perang Korea.

Akhir-akhir ini, para pembelot baru mulai membuka restoran yang khusus menyajikan naengmyon, dan beberapa makanan khas negara mereka.

Dan sebagaian mengatakan makanan bisa membantu menjembatani kesenjangan antara kedua Korea yang berseteru.

Jason Strother dari Seoul menyusun laporannya untuk Anda.

Menu di restoran kecil ini, mengajak Anda tur kuliner Korea Utara. Ada sup pangsit dari Kaesong yaitu santapan nasi dan daging sapi dari Pyongyang dan naengmyeon dari Hamhung.

Para pelanggan sengaja datang ke sini untuk menikmati makanan itu.

Saya datang ke sini bersama teman saya Rho Soo-ah. Ia mengatakan naengmyeon cocok dimakan pada musim panas yang gerah.

“Kalau cuacanya panas sekali, makanan ini terasa segar dan enak, dan mengademkan seluruh tubuh Anda.”

Rho memesan semangkok naengmyeon yang disajikan dengan kuah dingin, dan satu lagi yang dicampur dengan ikan mentah dan saos merica. Seluruh pegawai di restoran Ryu Kyung-ok adalah para pembelot Korea Utara termasuk pemilik sang, yang bernama Ahn Mi-ok.

“Makanan Korea Utara lebih sederhana dibandingkan dengan makanan Korea Selatan. Kami menggunakan cara tradisional untuk memasak, dan tidak memasukkan bahan-bahan yang tidak perlu. Di sini, mereka menggunakan terlalu banyak penambah rasa atau menambahkan terlalu banyak macam saos. Makanan Korea Utara kembali lagi ke bahan yang dasar.”

Saat makanan naengmyeon sudah populer di Korea Selatan selama beberapa abad, Ahn berhar makanan khas Korea Utara juga akan sama populernya, dalam waktu dekat ini.

Lee Aeran 47 tahun juga berharap begitu. Lee bekas inspektur dari Pyongyang. Kini ia mengelola Institut Makanan Korea di Seoul.

“Masalahnya adalah orang Korea Utara dan Korea Selatan belum pernah berkomunikasi sejak keduanya berpisah. Tapi kami punya selera makan yang universal. Memasak membantu warga kedua Korea menyatu, ngobrol tentang makanan.”

Baru-baru ini sekolah Lee mulai mengadakan kelas bahasa Inggris, supaya orang-orang non Korea bisa berbicara tentang makanan Korea Utara juga.

Dengan bantuan penterjemah, Lee mengajar membuat Haeju Bimbinbap satu santapan Korea Utara, dengan nasi dan sayuran yang dibuat dengan saos ayam dan kecap.

Warga keturunan Korea-Amerika bernama Alex Jung, 27 tahun, sedang berdiri menghadap satu panci yang sedang mendidih. Ia mengatakan kelas malam ini mengajarkan dia hal-hal baru seputar makanan Korea.

“Saya rasa saya sudah cukup mengenal masakan Korea Selatan pada umumnya, dan semua perbedaan makanan dari berbagai daerah Korea Selatan. Dan saya sangat senang bisa belajar cara memasak makanan Korea Utara yang saya belum pernah makan sebelumnya.”

Lee Aeran menuturkan sekolah memasaknya juga punya makna yang khusus bagi para pembelot Korea Utara yang tidak punya banyak makanan di negeri asalnya.

“Banyak orang di Korea Utara tidak punya makanan yang cukup, karena mereka kekurangan makanan di sana. Mereka tidak bisa makan dan kadang hanya makan nasi yang dicampur dengan air.”

Dan, kadang,tidak punya nasi yang cukup kata Seong Yuri, 41 tahun. Dia adalah pelajar di sekolah masak dan bercerita, sejak datang ke Korea Selatan pada 2007, ia belajar banyak soal makanan dari negara asalnya.

“Kami tidak punya bahan masakan untuk membuat makanan seperti ini di negeri asal kami, tapi sekarang kami sudah di Korea Selatan. Akhirnya bisa belajar membuat masakan Korea Utara. Sebelumnya saya tidak tahu banyak soal makanan seperti ini, sampai saya datang ke sini.”

Tapi Seong menuturkan ia baru benar-benar belajar perbedaan orang Korea Utara dan Korea Selatan dalam menikmati makanan, ketika datang ke negeri Ginseng.

“Saya kaget sekali karena banyak orang yang datang ke sini berdiet. Di Korea Utara rakyat kami mati karena kelaparan, tapi di sini mereka ingin tubuh mereka ramping. Menurut saya, di sini terlalu banyak makanan dan susah juga memilih makanan mana yang mau dipesan, karena banyak sekali macamnya. Tapi saya sudah mencoba mencicip banyak makanan dari negara-negara lain.”

Seong menambahkan meski perbedaan tersebut, ia juga yakin kalau warga dari kedua Korea saling membuat makanan khas negara asalnya, maka mereka akan lebih dekat lagi. Kata dia, reunifikasi atau penyatuan kembali bisa dimulai di meja makan.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 15 Agustus 2011 11:07 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search