AsiaCalling

Home Berita Pakistan Remaja Taliban Membuka Lembaran Baru

Remaja Taliban Membuka Lembaran Baru

E-mail Cetak PDF

Download Taliban merekrut ratusan anak laki-laki di Lembah Swat Pakistan yang terkenal, setiap tahun.

Daerah kesukuan yang mengelilinginya merupakan daerah yang subur bagi masa depan militan dan tempat banyak anak dilatih menjadi pelaku bom bunuh diri.

Seorang bekas penjaga anggota Taliban senior, seorang remaja Pakistan, berhenti dari kehidupan garis keras itu dan mengatakan siap kembali ke sekolah.

Mudassar Shah menyusun kisahnya.


Di masa lalu, Naeem Jan, 17 tahun, mencari Maulana Fazlullah, atau Radio Mullah, pemimpin kelompok fundamentalis Islam Pakistan yang dilarang.

Dia bahkan meniti karir menjadi penjaga keamanan bagi komandan Taliban senior setelah bergabung dengan Taliban saat berusia 14 tahun.

Itu keputusan yang ia buat meski keluarga menentangnya.

“Sekali ibu saya mengikuti saya dan pergi dari rumah untuk meminta saya berhenti dari Taliban. Saya menodongkan senjata padanya dan ingin menembaknya. Cinta saya pada misi sangat ekstrim. Dia lalu berhenti mengikuti saya. Selain ibu, saudara perempuan saya juga berkali-kali minta saya meninggalkan Taliban.”

Naeem tidak direkrut secara paksa di Swat, tapi ia bergabung dengan sukarela.

Dan ia bilang banyak anak lelaki seperti dirinya di sana, yang mau bergabung dengan Taliban tanpa izin orangtua.

Penerapan keyakinan yang ketat termasuk peradilan Islam, adalah hal pertama yang menariknya bergabung dengan kelompok garis keras itu.

Itu terjadi tahun 2008 dan Taliban punya markas di Lembah Swat.

“Kami punya kelompok yang terdiri dari teman sekelas dan seorang guru mendorong para pelajar untuk bergabung dengan Taliban. Maka satu hari kami pergi ke markas Taliban. Kami mendengar pidato Maulana Fazlullah dan juga mendengar pidato-pidatonya di radio. Dari waktu ke waktu, kami kembali ke Taliban dan mengangkat senjata untuk pertama kalinya.”

Pemerintah memberi Taliban dan pendukungnya batas waktu untuk menyerah sebelum operasi militer di Lembah Swat pada April 2009.

Naeem menjalani beberapa sesi latihan dengan milisi dan dianggap anggota Taliban yang bisa diandalkan. Dia bahkan dilatih menjadi pelaku bom bunuh diri.

Petugas dari Angkatan Darat Pakistan kerap mengunjungi rumah Naeem, mencari informasi soal Taliban.

Naeem bilang kunjungan itu membuat keluarganya malu, terutama ayahnya yang sakit.

Tapi semuanya berubah setelah kematian ayah dan saudara laki-lakinya.

Naeem jadi satu-satunya anggota keluarga laki-laki yang tersisa dan ia pun mempertimbangkan kembali pilihannya.

Akhirnya dia memutuskan untuk menyerahkan diri kepada pihak berwenang.

Itu masa-masa yang suram dan dia dipenjara selama setahun.

“Itu hari ke 12 saya di penjara dan saya pingsan setelah ditangkap. Saya melihat ibu saya dari jendela sel menunggu giliran bertemu saya. Saya sangat sedih hari itu. Saya bahkan bisa berdiri untuk melihat dia saat itu, tapi kemudian jatuh dan pingsan lagi.”

Sekarang, remaja 17 tahun ini mendirikan klinik kesehatan di daerah terpencil Swat.

Tempat ini satu-satunya di daerah itu yang menyediakan layanan kesehatan.

Di penjaralah kali pertama ia belajar ilmu kesehatan.

Kini ia sudah bebas. Ia bekerja keras menabung uang untuk mas kawin dua saudara perempuannya yang belum menikah.

Ia juga memutuskan semua hubungan dengan milisi Taliban, tapi orang-orang di desa masih takut padanya.

Ada rumor yang berkembang di desa kalau ia sekarang mungkin bekerja untuk intelijen tentara.

Tapi Naeem tidak merasa terganggu. Ia sangat bersyukur sudah bebas.

“Itu saat yang sangat membahagiakan dalam hidup saya. Saat saya bebas dari penjara. Saya bisa bernafas dengan lega dan merasakan kebebasan. Tapi saat saya berpikir tentang masa lalu, saat rumah saya dihancurkan, saat saudara laki-laki saya meninggal karena serangan jantung, saat di penjara selama setahun, saat keluarga saya mengalami masalah keuangan, saya menyalahkan diri saya atas semua kesedihan keluarga itu. Saya tidak akan pernah bergabung dengan Taliban kalau tahu begini jadinya.”

Naeem bilang ingin melanjutkan sekolahnya. Ia bahkan mulai menulis biografi tapi ia berhenti karena sangat menyakitkan untuk mengigat masa-masa itu.

“Untuk menulis biografi harus mengingat masa lalu. Tapi saat saya mengingatnya itu menimbulkan kesedihan. Saya menulis sampai saat saya di penjara, tapi saya tidak mampu untuk menulis masa setelahnya karena itu membuat saya stres dan sedih.”

Naeem bilang untuk melanjutkan sekolah terlalu mahal karena itu ia memilih untuk membantu keluarganya.

Ia juga fokus pada remaja laki-laki di desanya, mendorong mereka untuk belajar dan menjauhkan diri dari kelompok garis keras.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 14 Mei 2012 10:13 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search