AsiaCalling

Home Berita Philippines Dicari: 'Pejuang' untuk Menyelamatkan Rice Terraces Filipinna

Dicari: 'Pejuang' untuk Menyelamatkan Rice Terraces Filipinna

E-mail Cetak PDF

Download Coba tanyakan pada siapa pun orang Filipina soal keajaiban dunia, mereka pasti dengan bangga akan menyebut Rice Terraces.

Berada di ketinggian lima ribu meter di atas permukaan laut sebelah utara negara itu, sawah bertingkat ukiran tangan itu secara lokal disebut 'keajaiban dunia kedelapan'.

Area ini sudah terdaftar dalam situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1995- tapi sekaligus masuk daftar warisan dunia yang terancam punah selama lebih dari 10 tahun.

Kekeringan yang parah, banjir, erosi dan penelantaran merusak sawah-sawah itu.

Kini para turis diundang untuk menjadi 'pejuang' dalam menyelamatkan situs warisan dunia ini.

Madonna Virola menempuh jalan-jalan gunung yang berkelok-kelok untuk mengunjunginya.


Kita berada di Banaue, puncak gunung tertinggi di kawasan ini, bersama sekelompok wisatawan lokal dan asing.

Dari sini kita bisa melihat panorama sawah berundak-undak.

“Sawah bertingkat ini dibangun secara swadaya oleh nenek moyang kita. Jika Anda melihat bentuk sawah ini, mereka hanya mengikuti kontur pegunungan, sehingga mereka terlihat seperti tangga raksasa menuju surga.”

Ini Hygelac Cayong adalah pemandu kami.

“Seluruh wilayah Banaue luasnya kurang lebih 21 ribu hektar dan 40 persennya adalah sawah. Sisanya hutan, dan beberapa daerah pemukiman atau daerah yang dikembangkan.”

Menurut penilaian pemerintah tahun lalu, setengah dari sawah-sawah itu perlu diperbaiki.

November lalu, John Chua, seorang fotografer terkenal, mengunggah foto-foto sawah bertingkat itu secara online. Foto memperlihatkan sawah dan struktur irigasi yang rusak, serta dinding-dinding batu yang runtuh.

Gambar-gambar ini mendapat perhatian masyarakat.

Chua memulai kampanye "Weekend Warrior" di salah satu bagian sawah. Lebih dari seribu wisatawan telah bergabung sejak program itu dimulai bulan lalu.

Ini adalah program sukarelawan, atau 'bachang' dalam dialek lokal, untuk mengundang turis dan warga lokal membantu membangun kembali daerah ini.

Hygelac Cayong menjelaskan bagaiamana mereka memperbaiki dinding batu.

“Apa yang kami lakukan adalah mengumpulkan semua batu, sehingga para ahli dinding batu bisa meletakkan ke tempat yang tepat.”

Kerusakan fisik bukan satu-satunya ancaman.

Jumlah petaninya juga menurun, karena kaum muda memilih belajar atau mengejar karir di kota besar. Tanpa petani tidak ada yang akan mempertahankan sawah itu.

Pejabat pemerintah tidak bisa memberikan angka yang pasti jumlah petani muda yang meninggalkan daerah ini.

Samuel Abig, 40 an tahun, berasal dari keluarga petani lokal.

“Ketika saya masih kecil, saya ingat sawah-sawah ini indah sekali. Masyarakat punya mata pencaharian yang bagus. Tapi beberapa tahun kemudian, beberapa sawah ditinggalkan karena orang-orang mudanya pergi untuk sekolah. Orang-orang bermigrasi. Juga petani-petani lainnya bertambah tua untuk mengerjakan tanah mereka.”

Pejabat lingkungan setempat meminta pemerintah mensubsidi untuk mempertahankan sawah-sawah itu, dengan mempekerjakan petani dari daerah lain, jika pemiliknya mengabaikan tanah mereka.   

Antonio Gayumma, insinyur yang bekerja untuk pemerintah daerah ini. Dia mengatakan mereka bekerja dengan pemilik untuk membangun kembali sawah-sawah itu.

“Kami meminta para pemiliknya mengerjakan kembali sawah yang terlantar itu, tapi kalau mereka tidak mau, maka pemerintah yang akan mengerjakannya. Setengah hasilnya untuk pemilik dan setengahnya untuk pemerintah. Kami merancang sebuah sistem. Kami mencobanya akhir tahun lalu, dan hingga kini masih terus berlanjut.”   

Kelompok-kelompok sipil, wisatawan dan pemerintah, semuanya membantu upaya pemulihan.

Dana perbaikan awal yang mencapai dana hampir Rp 4,5 miliar telah dialokasikan pemerintah nasional. Pemerintah juga berencana untuk mencari dana dari UNESCO.

Anggota Parlemen asal daerah itu, Teodoro Baguilat Jr., yang juga Ketua Komite Komunitas Budaya, telah mensponsori UU yang memberikan jaminan dana untuk pekerjaan pemulihan dan pemeliharaan.

Keluarga Prue Earl Bayungan, 22 tahun, memiliki salah satu sawah tersebut.

“Saya jadi lebih menghargai sawah bertingkat ini. Saat kuliah, teman-teman selalu mengaitkan saya dengan keajaiban ini, ini membuat saya bangga. Sekarang saya pulang kampung setelah kuliah saya selesai. Sebagai tanda terima kasih saya kepada nenek moyang yang telah bekerja keras memberi kami warisan yang unik dan berkelas dunia ini, saya akan tetap mempertahannya. Saya ingin memberitahu generasi berikutnya untuk menjaga keajaiban sawah bertingkat ini, termasuk orang-orang yang tinggal di sini.”
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 26 Maret 2012 11:47 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search