AsiaCalling

Home Berita Philippines Perusahaan Fesyen Filipina Membantu Mengangkat Masyarakat dari Kemiskinan

Perusahaan Fesyen Filipina Membantu Mengangkat Masyarakat dari Kemiskinan

E-mail Cetak PDF

Download Sebuah perusahaan busana kecil di Manila ikut berperan untuk mengakhiri siklus kemiskinan di Filipina, setahap demi setahap.

Kini setelah memasuki tahun ke-lima, “Rags 2 Riches” bertekad untuk meraup keuntungan menggunakan satu formula misi sosial, inovasi dan  cara-cara yang diperlukan untuk menjalankan usaha yang sukses.

Ikuti kisahnya bersama Simone Orendain dari Radio Australia.


Musik dansa mengalun, dan tujuh model jangkung yang menjinjing berbagai dompet dan tas berpose di atas catwalk.

Inilah koleksi terbaru ikon fesyen Filipina bernama Rajo Laurel tapi ia tak bakalan mengantongi satu sen pun dari penjualan barang-barang itu.

Di atas panggung, ia mempromosikan proyek ini.  

“Saya ingin Anda semua belanja, belanja dan belanja terus! Para perempuan ini sangat berbakat dan mereka membutuhkan pekerjaan.”

Laural mengarahkan perhatian para penonton kepada puluhan perempuan yang memakai baju hitam dan berdiri di sekeliling meja koktail. Merekalah yang menenun tas-tas ini.

Para perempuan – dan beberapa diantaranya laki-laki- tinggal di salah satu bagian paling miskin di daerah perkotaan itu.

Para penenun ini membuat tas oderan untuk Rags 2 Riches Ini adalah perusahaan akseori nirbala kelas atas yang mulai dibentuk pada 2007 di satu tempat pembuangan sampah Payatas dekat Manila.

Sebagian perempuan Payatas membuat permadani dari bagian-bagian permadani bekas yang mereka beli dari pemulung sampah. Mereka menjualnya melalui perantara dengan keuntungan kurang dari Rp 200.

Namun menurut seorang seminaris Jesuit yang melayani komunitas itu, hal ini tidak adil. Ia lantas membentuk sebuah kelompok sebagai perantara.

Teman mereka bernama Rajo Laurel melihat potensi dari karya-karya itu.

“Saya katakan "Saya tidak melihat bagian-bagian yang tercerai-berai”. Kalau ini dilipat lalu diberi beberapa kancing, maka ini menjadi kemasan untuk botol anggur. Jika dilipat dan ditambahkan rumbai, ini jadi dompet. Kalau dua potongan bahan disatukan, lalu ditambahkan tali, maka ini bisa jadi tas.”

Alhasil Rags 2 Riches lahir dengan misi untuk berbuat baik dan sekaligus memajukan perekonomian masyarakat setempat.

Untuk sementara ini, keuntungan yang diraup diberikan kepada para penenun dan sisanya untuk biaya operasional.

Reese Fernandez-Ruiz, 27 tahun, sejak awal memimpin perusahaan ini.

“Saya merasa, bisnis ini adalah sangat memuaskan batin saya, tapi saya yakin ada harapan di dunia ini, dan Anda bisa  benar-benar melakukan sesuatu untuk membuat orang bangkit dari kemiskinan.”

Kini, para penenun membuat permadani berkualitas tinggi dan aksesoris mewah dari berbagai bahan seperti sisa-sisa bahan pabrik, kain organik dan bahan tradisional.

Mereka menjualnya ke berbagai hotel bintang lima dan mal mewah, jadi setiap barang dibuat dengan standar sangat tinggi.

Rosanna Alipao tahu betul betapa frustasinya membuat tenunan ini berkali-kali.

“Saya sudah lama sekali bekerja di sini – dan sering sekali barang-barang buatan ditolak! Sampai sekarang ada banyak sekali barang-barang yang masih ditolak. Tapi saya tetap bertahan di sini.”

Para seniman ini bekerja dari rumah dan dibayar untuk setiap barang yang mereka buat. Jadi mereka bisa bekerja sambil mengurus keluarga masing-masing.

Mereka menghasilkan sekitar Rp 92 ribu sehari kalau bekerja selama delapan jam penuh, tapi hanya diwajibkan untuk bekerja selama dua jam sehari.

Dengan formula seperti ini, para penenun bisa mengantongi antara 20 sampai 40 persen harga tetap tas yang ia buat.

Tas-tas kelas atas ini dijual dengan harga mulai Rp 275 ribu sampai Rp 1,1 juta.

Keterampilan ini bisa membantu berbagai keluarga miskin, yang tidak punya uang untuk membeli makanan untuk anak-anak mereka.

Alipao menuturkan, sebelum suaminya kehilangan pekerjaan, ia menganggap karya tentunya hanya buang-buang waktu belaka.

“Tentunya para lelaki ingin ingin supaya kita memperhatikan mereka. Tapi ketika Anda bangun, hal pertama yang Anda pegang adalah alat penenun karena Anda ingin sekali menghasilkan uang. Dulu ia buang barang-barang yang saya buat. Sekarang dia tidak punya pekerjaan. Uang hasil tenunan inilah yang menghidupi keluarga.”

Suami Alipao baru-baru ini ikut sekelompok penenun – semula hanya ada tiga orang tapi kini sudah berkembang menjadi 550 orang.

Beberapa penenun bahkan sudah membentuk koperasi dan setelah perusahaan itu meraup keuntungaun, mereka akan memberlakukan bagi hasil.

Para pendiri Rags 2 Riches kini menargetkan pasar internasional.

Mereka punya visi, dalam lima tahun mendatang akan punya tiga ribu penenun yang membuat orderan untuk perusahaan ritel seperti toko kelas atas Barney’s yang berbasis di New York.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 09 April 2012 10:31 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search