AsiaCalling

Home Berita South Korea Shamanism; Inti Rohani Masyarakat Modern Korea Selatan

Shamanism; Inti Rohani Masyarakat Modern Korea Selatan

E-mail Cetak PDF

Download Jika Anda pikir orang Korea Selatan yang paham teknologi hanya akan menyembah ponsel pintar Samsung atau mobil Hyundai mereka, Anda salah.

Banyak dari mereka yang masih percaya pada spiritualistas animisme yang berusia ribuan tahun, bahkan tanpa mereka sadari.

Shamanisme adalah kepercayaan asli rakyat Korea. Meski terpengaruh berbagai agama lain selama berabad-abad, kecepercayaan ini masih muncul dalam banyak aspek kehidupan modern di sana. Dan pusat dari Shamanisme adalah mudang, yang jadi perantara antara dunia materi dan roh.

Reporter Jason Strother baru-baru ini bertemu dengan salah satu dari orang suci ini dan menyusun kisahnya dari Seoul.


Drum yang dipukul, simbal yang saling beradu dan bunyi terompet terdengar di sepanjang lereng gunung Samgak. Suara-suara itu berasal dari kuil Shaman, di situlah Gut atau ritual roh sedang berlangsung.

Di tengah-tengah salah satu ruangan kuil, seorang pria mengenakan topi tinggi dan terbungkus jubah merah, biru dan putih yang berlapis-lapis.

Ia berputar dalam lingkaran, melambai-lambaikan bendera sutera di satu tangan, dan pedang ditangan satunya.

Dia seorang mudang atau pendeta shaman. Dia menjaga sebuah tradisi yang menjadi salah satu aspek yang paling penting dari budaya Korea.

“Nama saya Tae Eul dan saya seorang mudang. Tapi Tae Eul bukanlah nama asli saya, itu nama yang diberikan dewa. Umur saya 38 tahun, baru tiga tahun lalu saya bertemu dengan dewa saya. Pada waktu itu, saya bekerja di industri hiburan dan saya benar-benar sakit. Dokter tidak tahu apa yang salah dengan saya. Jadi saya mengunjungi pegunungan dan saya berdoa. Dewa memberi saya kekuatan dan kondisi saya membaik. Saya sebelumnya tidak percaya pada hal-hal semacam ini, tapi saya menerima kekuatan dewa dan saya menjadi mudang.”

Dewa yang disembah Tae Eul tinggal di langit, air dan di sini, di pegunungan. Tae Eul mengaku tak bisa berhenti jadi mudang karena roh-roh ini yang mengendalikannya sekarang. Dan tugasnya sekarang adalah membantu sesama orang Korea agar kehidupan mereka lebih baik dengan bantuan dari dunia Roh.”

Selama upacara atau Gut, Tae Eul membantu seorang perempuan yang mengalami masalah keuangan berat.

Ada lilin yang dinyalakan dan busur di depan altar.

Ia memanggil para dewa gunung dan langit serta nenek-moyang perempuan itu. Tae Eul berdiri bertelanjang kaki di atas mata pisau, yang entah bagaimana tidak melukai kulitnya.

Lewat tindakan ini, Tae Eul mampu menjadi saluran kekuatan Roh dan membantu kliennya memecahkan masalah mereka.

“Orang-orang mendengar soal saya dari mulut ke mulut. Saya mencoba untuk mencari tahu bagaimana energi alam semesta mengalir dan cara dewa menunjukkan jalannya. Jika dewa memerintahkan masalah mereka dapat diselesaikan dengan Gut, saya akan melakukannya untuk mereka. Saya akan membuat mimpi mereka jadi kenyataan.”

Tae Eul juga mengundang para kliennya ke apartemennya di Seoul, di mana salah satu kamarnya telah diubah menjadi sebuah kuil shaman.

Tae Eul membunyikan lonceng di awal semua pembacaan keberuntungan. Ia kemudian mengaduk semangkuk kecil beras dengan sendok. Lalu dilepasnya sendok itu.

Jika sendok itu berdiri tegak, itu artinya Roh sudah siap dan pembacaan keberuntungan bisa dimulai.

Ruangan tempat kita duduk dihiasi dengan kain yang menggambarkan dewa yang disembah Tae Eul.

Mangkuk-mangkuk buah diletakkan di atas altar. Juga ada botol-botol wiski dan setumpuk kotak rokok Marlboro.

Sambil tersenyum, Tae Eul mengatakan dewanya suka minum dan merokok.

Tae Eul mengatakan banyak kliennya tidak selalu percaya Shamanisme. Beberapa bahkan sangat taat beragama.

“Ada pendeta Kristen yang datang minta bantuan saya. Meskipun setelah masalah mereka selesai, mereka biasanya tidak datang lagi. Dan ketika ada orang  Katolik yang datang, kadang-kadang setelah saya bacakan nasib mereka, mereka tiba-tiba merasa seperti sudah melakukan dosa.”

Di Korea, keyakinan agama tidak selalu eksklusif. Sebagai contoh, seorang ibu mungkin saja berdoa di gereja, lalu di kuil Buddha, dan kemudian mengunjungi mudang, dengan harapan akan membawa nasib baik pada keluarganya.

Pencarian spritualitas yang membawa nasib baik ini yang membuat 50 ribu mudang tetap eksis, kata David Mason, penulis Sacred Mountains, sebuah buku tentang Shamanisme Korea.

“Bagi saya, tampaknya banyak orang Korea yang pada intinya masih percaya pada shamanisme. Banyak pakar telah menggunakan analogi ini, seperti bawang, dengan Shamanisme sebagai inti dari psikologi mereka dan kemudian dilapisi Buddhisme atau Konfusianisme, lalu Kristianiti dan pemikiran ilmiah modern sebagai lapisan terluar.”

Namun, Mason mengatakan selama bertahun-tahun, mudang punya reputasi yang buruk.  

Sebagian orang Korea melihat mereka sebagai penipu atau hanya relik di masa lalu yang bersifat takhayul.

Tapi Tae Eul mengatakan ia melihat masa depan yang lebih cerah bagi mudang seperti dirinya.

Kehidupan modern Korea itu keras, katanya, dan orang-orang memerlukan bantuan.

“Hidup kita akan jadi lebih cepat di masa depan. Saya pikir mudang akan diperlakukan dengan hormat. Kami bisa memprediksi masa depan dan karena itu orang akan lebih menghargai kami.”

Kembali ke dalam kuil di gunung, Gut akan segera berakhir. Tae Eul mengatakan kliennya akan baik-baik saja. Para dewa telah membuka pintu untuknya, memastikan perempuan itu akan membelanjakan uangnya dengan lebih bijaksana dan punya masa depan yang lebih beruntung.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 23 Januari 2012 13:38 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search