AsiaCalling

Home Laporan Khusus Indonesia Migrant Workers Pekerja Migran Indonesia :Mengapa Mereka Kembali?

Pekerja Migran Indonesia :Mengapa Mereka Kembali?

E-mail Cetak PDF

Download Belum lama ini, pekerja rumah tangga asal Indonesia ditemukan di sebuah taman di Malaysia.

 

Majikannya menyetrika dia, menyiramkan air panas dan memperkosanya.

 

Berita ini mendapat perhatian di Indonesia tapi kisah yang sama terjadi setiap hari.

 

Ada enam juta perempuan Indonesia bekerja sebagai pengasuh anak, tukang bersih-bersih dan tukang masak di negara-negara yang lebih makmur seperti Malaysia dan Arab Saudi.

 

Walau kisah mengerikan muncul setiap pekan di media-media Indonesia, namun jumlah perempuan yang keluar negeri untuk mengadu nasib setiap harinya terus bertambah.

 

Rebecca Henschke mencari tahu alasannya.


Senja menjelang seiring azan berkumandang. Anak-anak ramai bermain bola dan menggambar di tanah di luar Masjid Desa Cimanggu, Jawa Barat.

Hampir sebagian besar ibu mereka ada di luar negeri. Mereka memasak, membersihkan rumah dan menjadi pengasuh anak-anak orang lain di negara-negara yang lebih makmur seperi Malaysia, Singapura dan Arab Saudi.

 

Sukaezi sedang mengamplas kayu. Rumah yang sedang ia bangun ini, uangnya berasal dari kiriman istrinya. Ia pergi ke Arab Saudi dua tahun lalu dan meninggalkan anak perempuan mereka yang beranjak remaja.


“Pertamanya sangat sulit. Saya harus menjadi ibu sekaligus ayah. Tapi kami harus melakukannya demi mimpi kami. Yaitu menyelesaikan rumah ini dan menyekolahkan anak kami. Jika mimpi itu tercapai maka istri saya bisa tinggal di rumah.”

Elly Anita berasal dari sebuah desa di Jawa Timur.

 

“Ayah saya hanya petani dan ibu saya, ibu rumah tangga dan anaknya banyak.”

 

Saat berusia 18 tahun, ia mendapatkan pekerjaannya yang pertama di luar negeri.

 

”Saya pilih ke Malaysia. Majikan laki-laki saya meminta saya jadi pacarnya. Namun, saya tolak.”

 

Ia pergi ke Hong Kong dua kali. 
Keduanya tidak dibayar dan ia dilecehkan dengan kata-kata. Akhirnya ia membawa majikan keduanya ke pengadilan.

 

“Saya tidak pernah bilang kepada keluarga, kalau saya dapat masalah, saya tidak mau mereka khawatir. Saya hanya ingin mereka senang. Makanya saya ke Bahrain.”

Namun, keadaan Elly di Bahrain lebih buruk. Di keluarga pertama tempat dia bekerja, anak bungsu keluarga itu mencoba memperkosanya. Lalu ia melarikan diri ke Dubai. Di sana ia dijanjikan bekerja sebagai sekretaris tapi bosnya punya ide lain.

 

“Dia menyentuh tubuh saya. Saya bilang apa yang Anda lakukan? Dia bilang semua sekretaris saya mau diperlakukan seperti itu.”


Marah karena Elly menolak patuh padanya, bosnya mengancam akan mengirim dia ke tempat lain.

 

“Tempat itu namanya Kurdistan. Saya tanya dimana itu. Dia bilang ada di Italia. Saya tak punya pilihan, karena ia menahan paspor saya.”

Ia baru tahu ternyata ia berada di Irak dan di zona perang, dari beberapa catatan bank lokal di kantor agensinya.

 

Ia menuntut dipulangkan. Tapi agennya mengatakan mereka sudah membayar mahal untuknya dan tidak akan membiarkan dia pergi dengan mudah.

 

Kali ini untuk melarikan diri lebih sulit...dia mencoba dua kali dan tertangkap lalu dipukuli.

 

Ia mogok makan selama dua hari.

 

Lalu ia mencuri telefon salah seorang penjaga keamanan dan menelfon kedutaan Indonesia di Yordania serta kelompok Migrant Care.

Tapi ini hanya memperburuk situasinya.

 

“Kedutaan Indonesia di Yordania memanggil agensi dan bilang orang yang menghubungi pemerintah Indonesia namanya Elly! Siang hari mereka datang dan memukuli saya. Mereka menodongkan pistol ke kepala saya...Elly kamu harus menghentikan aksimu...atau kamu mati.”

Dia tidak berhenti dan setelah dua tahun melobi organisasi buruh internasional dan kedutaan Indonesia lewat telefon curiannya, agennya akhirnya mengembalikan paspornya.

 

“7 November saya sampai di Jakarta.”

 

Q. Bagaimana perasaan Anda?

 

“Saya sangat terkejut ada  banyak menteri yang menjemput saya di bandara dan membawa saya ke ruang VIP. Salah satunya Menteri Peranan Wanita. Saya pikir penyambutan bodoh apa yang mereka buat! Mereka tidak melakukan apa-apa. Saya berjuang sendiri.”

Setelah penyambutan secara resmi dan wawancara dengan berbagai media, Elly tidak pulang ke rumahnya.

 

Dia bergabung dengan kelompok Migrant Care dan berhasil melobi pembebasan enam perempuan lain yang bersamanya di Irak.

 

Kini ia berkeliling ke berbagai daerah untuk menceritakan kisahnya. Tujuannya untuk memperingatkan perempuan lain.

 

Ia kerap mengunjungi daerah ini, Indramayu, sebuah daerah pinggiran ibu kota yang terkenal karena perdagangan manusianya.  

Ia mengenalkan saya kepada Yulianti.

 

Yulianti mengatakan ia bekerja sebagai pembantu di Malaysia. Namun, selama tujuh malam seminggu, dia dipaksa untuk melayani banyak pria. Namun, ia tidak dibayar.

 

Yulianti mencoba untuk melarikan diri. Tapi ia tertangkap oleh agennya. Ia diancam akan dilaporkan ke polisi sebagai pekerja ilegal, jika mencoba untuk melarikan diri lagi.

Dengan berani lima minggu kemudian, ia mencoba lagi dan berhasil mencapai kantor polisi. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit untuk diobati karena menderita penyakit kelamin.

“Jalani operasi hampir nggak bisa ngebayangi hampir mati. Nga bisa nahan keluar darah nanah gitu.”

Walau pengalaman mengerikan yang dialami putrinya, ibu Yuli, Masroh, berharap ia bisa kembali ke luar negeri untuk bekerja.

 

“Orang tua masih begini, kok anak nga boleh kesana-sana. Ikut sama itu orang. Orang ke luar negeri tapi anak saya nga boleh kemana-mana. Saya mau anak saya bekerja.”

 

Tekanan keluarga kepada pekerja migran untuk sukses, sangat kuat.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 13 Desember 2010 11:25 )  

Add comment


Security code
Refresh