AsiaCalling

Home Laporan Khusus Keadaan Di Burma Menjelang Pemilu Kampanye Pemilu Di Burma Tidak Bebas Dan Adil

Kampanye Pemilu Di Burma Tidak Bebas Dan Adil

E-mail Cetak PDF

Download  Meski tanggal pemilu belum ditentukan, kampanye sudah berlangsung  di seantero Burma.

Tiga puluh tujuh partai politik baru  dan  lima  kelompok yang sudah eksis  telah  mendaftarkan diri dalam pemilu yang kemungkinan akan digelar pada tahun ini.


Partai-partai itu termasuk partai pro pemerintahan junta militer, pro demokrasi dan  partai berdasar etnis.


Seperti yang dilaporkan  Banyar Kong Janoi dari Rangoon, kampanye tidak berlangsunng bebas dan adil.

 


Di jalanan Rangoon, masyarakat masih belum memutuksan partai mana yang mereka akan pilih dalam pemilu mendatang.

 

Moe Kyaw, seorang mahasiswa mengatakan, tidak akan ikut pemilu.

 

“Saya tidak tahu partai mana yang saya harus  saya pilih,  karena tidak ada partai yang  saya suka. Saya suka Liga Nasional Untuk Demookrasi (NLD) tapi partai pecahan mereka masih samar-samar. Saya harus menunggu dan cari tahu apa yang meraka bisa lakukan. Tapi sepertinya mereka tidak akan bisa melakukan apapun untuk rakyat. Jadi saya tidak akan pilih siapa-siapa.”

 

Sejumlah partai oposisi sangat kesulitan berkampanye. Pasalnya mereka  terlalu dibatasi oleh pemerintah militer.

 

Berbagai bendera dan poster partai oposisi hanya boleh berkibar  dan dipasang di sejumlah kantor swasta.

 

Semua bahan cetakan harus melewati Badan Sensor Keamanan Negara  terlebih dulu sebelum dibagi-bagikan.

 

Dan media dikendalikan oleh pemerintah militer.

 

Hla Thein 50 tahun adalah pemimpin berpengaruh di negara bagian Mon. Ia mengatakan, komunitasnya tidak tahu soal pemilu ini.

 

“Kami tidak punya ruang untuk bergerak  dan bicara soal politik, jadi banyak orang yang sekarang ini sudah tidak tertarik lagi dengan pemilu. Belum ada yang kasih tahu kami apa yang akan terjadi dalam pemilu mendatang. Tidak ada yang tahu apa makna dari pemilu untuk kehidupan sehari-hari mereka. Mereka juga tidak tahu bagaimana cara memilih.”

 

Meski pembatasan terjadi, berbagai partai politik oposisi tetap berkampanye di berbagai  tempat di negeri itu.

 

Namun, mereka tidak bisa menjangkau banyak daerah karena kurangnya sumber daya.

 

Namun, partai pro-junta Partai Uni Solidaritas Dan Pembangunan (USDP) boleh bebas berkampanye dan menarik sejumlah kelompok untuk bergabung dengan partai mereka.

 

Para anggota partai menikmati fasilitas pulsa telepon genggam  yang murah dan diberikan pinjaman kredit oleh bank negara.

 

Pemimpin etnis Mon, Hla Thein.

 

“Rezim militer sudah mengatur supaya partai-partai yang mendukung mereka akan memang. Partai pro-junta akan mendapatkan uang dari anggaran negara yang akan digunakan untuk kampanyenya. Mereka bahkan dengan bebasnya  bisa mengatur orang, sementara partai-partai oposisi berjuang untuk mendapatkan dana dan tidak bebas mengatur orang. Ini sulit sekali  bagi  berbagai kelompok oposisi untuk memenangkan pemilu.”

 

Meski semua rintangan ini, partai-partai oposisi masih yakin mereka bisa memenangkan suara.

Nai Ngwe Thein adalah pimimpinan Partai Seluruh Wilayah Mon yang bersaing dalam pemilu.

 

“Kami diberi tahu soal apa yang boleh dan tidak boleh kami lakukan Kami harus laporkan kemana kami akan pergi  dan berapa banyak orang yang ikut dalam pertemuan kami. Partai pro-junta telah  berkampanye jauh sebelum mereka dapat izin untuk menjalankan partai mereka. Tapi kami tidak takut,  karena banyak orang yang tidak suka partai mereka. Masyarakat hanya akan memilih partai pro-junta, kalau mereka diancam. Tugas kita adalah meyakinkan  masyarakat supaya tidak takut. Kami akan menang kalau ada pemilu yang adil.”

 

Nai Tun salah satu warga negara bagian Mon menuturkan, apapun yang terjadi ia masih akan mencoblos.

 

Nai Tun (Mon/Male)“Meski kami tahu pemilu ini tidak adil, kami akan memilih partai Mon karena mereka perduli dengan rakyat kami.”

 

Partai Kekuatan Demokrasi Nasional, pencahan dari partai pimpinan Aung San Su Kyi,  kini  mencoba menyakinkan para pendukungnya,  bahwa pemilu ini merupakan langkah maju ke depan untuk  demokrasi dan keadilan di Burma.

 

U Khin Maung Swe  adalah pemimpin partai. Saya berbicara dengan dia lewat telepon karena telalu bahaya kalau kami bertemu langsung.

 

“Kami akan lihat hasilnya setelah masyarakat memberikan suara mereka. Kalau semua pasukan demokrasi termasuk partai-partai etnis demokratis memenangkan  jumlah kursi  yang banyak di parlemen, kami bisa mengubah konstitusi. Dan kami bisa mengubah hukum demi kebaikan  rakyat dan mengamandemen hukum yang menantang rakyat juga.”

 

Nai Rot Khine mahasiswa  di negara bagian Mon juga berharap pemilu bisa membawa banyak perubahan yang sangat  diperlukan masyarakat .

 

Nia Rot Khine clip 1 (Male/Mon) “Meski kabar buruk dan kabar baik datang bersamaan,  menurut saya pemilu ini adalah langkah awal untuk menghentikan kebuntuan politik di Burma. Untuk menciptakan suasana pemilu yang seutuhnya disini, supaya media bisa menyelidiki masalah apa saja di negeri ini.”

(**)

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 03 Agustus 2010 16:44 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search