AsiaCalling

Home Laporan Khusus Nepal Merasakan Dampak Dari Perubahan Iklim Pengelolaan Hutan Oleh Masyarakat Nepal Berjalan Sukses

Pengelolaan Hutan Oleh Masyarakat Nepal Berjalan Sukses

E-mail Cetak PDF

Download   Untuk menjaga hutan negara dari pembalakan liar, pemerintah Nepal menyerahkan pengawasan hutan kepada masyarakat lokal.

Terdapat lima belas ribu komunitas yang mengelola hutan di Nepal saat ini.

 

Rajan Parajuli mengunjungi salah satu proyek yang terdapat di wilayah pegunungan di barat Nepal.

 

 

Para prianya membawa kapak dan tali. Sementara para perempuan, yang memakai sari warna warni, membawa keranjang bambu di punggung mereka. Kelompok yang berjumlah 200 orang dari desa Jaljale ini siap untuk masuk ke hutan yang subur itu.

 

Mereka bukan mau menebangi hutan tapi melakukan perawatan rutin.

 

Santosh Karki, 17 tahun, membawa gergaji yang lebih besar darinya diatas bahu.

 

“Gergaji ini sangat berat. Saya butuh waktu tiga jam untuk sampai ke hutan. Hari ini, kami akan mulai membuat parit selebar tiga meter. Ini untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Saya juga harus memangkas pohon-pohon. Kata kakek saya, ini akan membantu pohon tumbuh lebih besar.”

 

Kelompok besar ini kemudian dipecah menjadi lima kelompok yang lebih kecil. Mereka memasuki bagian hutan yang berbeda-beda.

 

Kelompok perempuan berada di hutan bagian barat. Sambil bernyanyi, mereka menyabit rumput yang tumbuh di bawah pohon dan mengumpulkan kayu bakar.

 

Gauri Karki, ketua kelompok ini.

 

“Kami akan membawa semua rumput dan kayu bakar ini ke kantor. Lalu dibagi dua ratus ikat. Setiap ikat akan diberi nomor. Lalu kami akan mengundinya. Setiap orang berhak mendapatkan ikatan sesuai nomor yang didapat. Sistem pembagian ini sangat adil sehingga tidak akan ada yang protes.”

 

Hutan Jaljale punya pemerintah. Lima Belas tahun lalu, pemerintah menyerahkan pengelolaan delapan puluh empat hektar hutan itu kepada komunitas lokal.

 

Lal Bahadur Karki, 72 tahun, mengatakan saat itu kondisi hutannya sangat mengenaskan. Dia menunjuk hutan Saal yang hijau dan subur serta pohon lainnya. 

 

“Bisakah Anda percaya, di bukit besar ini hanya ada dua puluh pohon besar. Ketika pemerintah meminta kami menjaga hutan, bukit itu hanya ditutupi semak belukar. Dulu kami yang menebang pohon-pohon di sana. Kami melakukannya karena kami pikir kayu itu milik pemerintah.”

 

Dengan keputusan pemerintah tersebut, delapan puluh empat hektar hutan menjadi milik bersama bagi lebih dua ratus keluarga yang tinggal di sekitar hutan. Dan penduduk desa ini seperti Lal Bahadur Karki memulihkan hutan itu.

 

“Kami menanam berbagai jenis pohon dan membuatnya lebat kembali. Masyarakat terbiasa menebang kayu secara ilegal. Kami bertengkar bahkan berkelahi dengan mereka karena pohon-pohon ini. Saya merasa pohon-pohon ini seperti anak sendiri. Mereka tumbuh di depan mata saya. Sangat sakit rasanya bila ada yang menebangnya.”

 

Komunitas itu membentuk komite manajemen untuk membuat aturan soal penggunaan hutan.

 

Tek Narayan Shrestha adalah presiden yang terpilih baru-baru ini.

 

“Ada delapan desa yang berbatasan dengan hutan. Maka kami membagi hutan menjadi delapan bagian. Dan menyerahkan tanggung jawab kepada komunitas desa. Hewan ternak siapapun tak boleh masuk hutan. Jika ada yang ketahuan menebang pohon atau menyalahgunakan sumber daya alam hutan, mereka akan didenda. Setiap tahun, penduduk desa berkumpul dan memutuskan aturan dan hukum pengelolaan sumber daya alam.”

 

Menurut Tek Narayan, mereka bisa menghasilkan keuntungan sekitar satu juta rupiah setiap tahunnya dari hutan. Mereka menjual jamu dan rumput ke kota terdekat. Dan setiap rumah tangga mereka beri empat ratus ribu rupiah setahun sebagai dana manajemen hutan. Dana itu kemudian menjadi pinjaman kredit mikro.

 

Seti Pun, perempuan buta huruf dengan dua anak. Suaminya meninggalkan dia lima belas tahun lalu. Pinjaman sebesar hampir empat ratus ribu rupiah dari komunitas pengguna hutan telah mengubah hidupnya.

 

“Saya membeli babi kecil dengan uang itu. Setelah sepuluh bulan, babi itu saya jual. Saya dapat sekitar dua juta rupiah dan ini jumlah yang besar bagi saya. Lalu saya lakukan hal yang sama. Membeli babi lalu menjualnya. Dengan ini saya memberi makan dan membiayai sekolan anak-anak saya. Kini mereka sudah tamat SMA dan bisa menghasilkan uang juga.”

 

Terdapat lima belas ribu komunitas yang mengelola hutan di Nepal. Menurut pemerintah, sepertiga penduduk negeri itu terlibat dalam kelompok konservasi ini. Pemerintah Nepal kini ingin menjual karbon penyerapan proyek hutan ini terkait usaha dunia menurunkan emisi gas rumah kaca.

 

Krishna Acharya, ketua Pusat Penelitian Perdagangan karbon yang baru di bentuk pemerintah.

 

”Hutan Nepal sangat diperlukan untuk mendukung kehidupan rakyat negeri ini. Manfaat karbon hanyalah bonus. Saat ini memang memungkinkan untuk melibatkan mereka untuk meningkatkan persediaan karbon di hutan. Walau hal ini membutuhkan lebih banyak kerja. Sekarang kami sedang mempersiapkan proposal kesiapan. Ini akan menjadi petunjuk bagaimana kita harus siap untuk melakukan perdagangan karbon.“

 

Krishna mengatakan pemerintah akan siap melakukan perdagangan karbon pada akhir 2012.

 

Kembali ke daerah Parbat yang miskin. Di sini tak ada pembicaraan soal perdagangan karbon tapi peletarian hutan telah memperbaiki hidup masyarakat di sana.

 

 

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 11 Mei 2010 09:20 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search