AsiaCalling

Home Laporan Khusus Nepal Merasakan Dampak Dari Perubahan Iklim Penduduk Himalaya Merasakan Panasnya Perubahan Iklim

Penduduk Himalaya Merasakan Panasnya Perubahan Iklim

E-mail Cetak PDF

 

Download   Kalau Anda berpikir tentang Himalaya apa saja yang ada di benak Anda?

Biasanya salju dengan sungai pegunungan yang dingin.

Tapi sekarang ini, daerah itu sedang kemarau, akibatnya bukit-bukit yang biasanya diselimuti salju kini jadi gersang.

Menurut Departemen Meteorologi dan Hidrologi, suhu di sana kian meningkat hingga lebih dari setengah derajat setiap tahun.

Dan seperti yang dilaporkan Rajan Parajuli, pemanasan global mengubah cara hidup dan cara bertahan berbagai komunitas petani.

 

 

Basundhara Shresta, 40 tahun, selesai bekerja di ladang biji sawinya. Dia mengelap keningnya yang keringatan dan memandang ke langit, lalu kembali mengurus tanamannya.

“Lihatlah bunga sawi saya. Mereka sangat kering dan bunganya terlalu kecil. Saya tidak bisa mnghasilkan minyak dari bunga ini.”

Desa Hemja di Distrik Kaski sudah tidak mendapatkan curah hujan yang memadai selama dua tahun. Mata air terdekat dari sini terletak di hutan, dan itupun sudah mengering.

“Semua upaya saya nampaknya sia-sia. Masalah utamanya adalah air. Saya selalu memandang ke langit dengan harapan hujan akan datang, tapi itu tidak pernah terjadi. Hasil ladang tahun lalu tidak baik karena tidak ada air pada musim panas.“

Dari jendela, Anda bisa lihat Gunung Mahhapuchhre. Puncak gunung setinggi 7000 meter ini biasanya diselimuti salju, tapi kini tak lagi.

Basundhara dan 200 keluarga petani lainnya yang hidup di sini bingung melihat tanah mereka yang kian menjadi susah diolah.

Peneliti pertanian dari Center for Environmental and Agricultral Policy Research atau Pusat Penelitan Kebijakan Linkungan dan Pertanian, Chiranjivi Adhikari menuturkan, mereka adalah korban perubahan iklim.

“Kami mengalami musim kering dan kemarau yang paling panjang tahun lalu. Bahkan, tahun ini, kami mengharapakan hujan di musim dingin pada awal Januari. Tapi sekarang sudah pertengahan Februari. Dan gandum kami sudah hampir hancur karena kemarau yang panjang ini. Jadi, pola curah hujan berubah sedikitnya 15 atau 20 hari lebih lambat dari biasanya.”

Menurut Departemen Meterologi dan Hidrologi, suhu di daerah pegunungan di Nepal kian meningkat lebih dari setengah derajat celsius setiap tahun.

Bhagirath seroang petani yang sudah berusia 55 tahun, tengah bekerja dengan ternaknya. Dia telah menghabiskan seluruh hidupnya di desa ini. Bhagirath bercerita, ia bisa merasakan perubahan itu.

“Di pertengahan musim dingin saya memakai kaos. Dulu halaman rumah kami diselimuti salju setiap hari sepanjang musim dingin. Sepuluh tahun lalu, kami harus duduk di depan api selama musim dingin. Tapi sekarang apa yang terjadi? Lihatlah pegunungan, tidak ada salju lagi. Kalau cuacanya panas pada musim dingin, sungai-sungai kecil akan mengering. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada musim semi nanti.”

Para penduduk desa menuturkan, tingkat permukaan air di sungai terdekat Mardi dan Hwang, telah menurun drastis. Sungai-sungai ini berasal dari Daerah Annapurna. Pencairan gletser di Nepal sangat penting untuk aliran sungai-sungai Asia yang besar. Kalau sungai-sungai mengering, maka bisa berdampak kepada semilyar orang di Asia.

Basundhara pulang setelah bekerja di ladang seharian. Ia membuat secangkir teh dan mengeluarkan beberapa biskuit dari kaleng. Anak perempuannya membeli biskuit itu dari toko, enam jam perjalanan dari rumahnya. Kata Basundhara, asupan makanan mereka kini berubah.

“Dulu kami makan roti gandum dan makanan ringan dari jagung. Sekarang kami tidak bisa menanam tanaman itu lagi, karena kemarau ini. Selama enam bulan sepanjang tahun, produktivitas ladang ini semakin memburuk. Kami tidak punya pilihan. Sekarang anak-anak makan mie untuk sarapan. Saya sudah mulai menanam sayuran ketimbang tanaman lokal, karena sayuran membutuhkan air yang lebih sedikit. Tapi saya harus menghabiskan lebih banyak uang untuk pupuk.”

Mereka yang punya uang sudah mulai berinvetasi pada ladangnya untuk menyesuaikan diri pada cuaca dan keadaan yang baru. Sementara itu, banyak warga lainnya sudah menyerah.

Devilal membawa saya ke jalan kecil yang menuju Jurang Hemja yang berangin. Kami melihat ke bawah desa tempat banyak lahan yang mengering tanpa padi. Lima hektar tanah Devilal kini sudah gersang.

“Rumah yang beratap batu, punya saya. Pohon-pohon pisang itu juga punya saya. Dulu saya punya bunga, kentang, dan gandun, di semua tanah terbuka. Tapi saya sudah tidak menanam itu lagi karena sumber air terdekat sudah mengering. Keluarga saya sudah meninggalkan tempat ini dan pergi ke kota. Tidak ada orang yang tertarik tinggal di sini, karena harus kerja keras, dan tidak banyak menghasilkan uang.”

Ini kisah yang sudah biasa. Peternakan di perbukitan di Hemja mulai ditinggalkan. Orang-orang muda kini pindah ke kota atau ke luar negeri untuk mencari pekerjaan. Tidak ada yang merawat peternakan dan tidak ada air untuk irigasi.

“Kami tidak punya data yang tepat soal perubahan iklim. Tapi, pola curah hujan yang berubah sangat berdampak pada kami.”

Petugas administrasi pertanian dari Kantor Pertanian, bernama Nirmala Gurung menjelaskan satu-satunya pilihan bagi warga setempat adalah menyesuaikan diri dengan keadaan yang sekarang ini. 

“Dari hasil penelitian kami, di daerah selatan dan pegunungan Nepal, produktivitas sudah rusak berat selama beberapa tahun belakangan ini. Kami mencoba mendorong para petani untuk tidak meninggalkan ladang  mereka. Kami membuat penelitan untuk mencari alternatif pertanian, dan mencoba menghasilkan biji yang baru, yang bisa bertahan dalam cuara seperti ini.”

Pertanian Nepal sangat tradisional dan sebagian besar petani buta huruf. Sejumlah ahli pertanian mengatakan, bakal sulit bagi para petani untuk mengubah cara hidup mereka di tengah perubahan besar dalam iklim. 

 

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 11 Mei 2010 09:21 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search