AsiaCalling

Home Laporan Khusus On Vietnam’s coast, bigger is better...or is it? Terancamnya Surga Monyet Yang Memikat Di Vietnam

Terancamnya Surga Monyet Yang Memikat Di Vietnam

E-mail Cetak PDF

 

Selama sembilan tahun, seorang Kanada bernama Sylvio Lamarche, telah mengelola resor pantai yang letaknya terpencil, di Vietnam.

Jungle Beach, di utara Nha Trang, adalah sekelompok pondok bambu yang terletak di pinggir hutan, yang menyelimuti pengunungan.

Hutan itu adalah rumah bagi kawanan monyet langka yang tidak ditemukan di tempat lain.

Baru-baru ini, Pemerintah Vietnam mengumumkan rencana pembangunan besar-besaran di wilayah tersebut, termasuk pembangunan kilang minyak raksasa.

Dari pusat kota di Vietnam, Matt Steinglass menyajikan kisahnya.

Untaian pasir putih, yang terentang sepanjang pinggir hutan menyelimuti pegunungan, berbaur dengan lautan berwana hijau kebiruan. Ini adalah batas paling selatan teluk Van Phong di Vietnam.

Ketika seorang wisatawan Kanada, Sylvio Lamarche, melihatnya pertama kali tahun 90an, ia pun jatuh cinta pada tempat ini.

“Buku panduan mengatakan ada tempat seperti ini, yang butuh tiga hari perjalanan untuk mencapinya. Kami pergi pagi-pagi, berjalan menuju laut. Tapi kami tak kunjung menemukannya. Tapi dihari ketiga, kami menemukannya. Lantas berdiam di sini. Tidak ada seorang pun di sini dan tempat ini seperti surga.”

Bersama Loan, istrinya yang asli vietnam, Lamarche mulai mengelola resor pantai di sini.

Jungle Beach adalah sekelompok pondok bambu dengan atap jerami. Para tamu makan bersama di sebuah meja panjang.

Ini mengingatkan kembali masa-masa ketika para wisatawan masih memakai sandal, berambut panjang, berkantong kosong dan tidak punya rencana yang pasti.

Selama lebih delapan tahun, Vietnam berkembang dengan gamang. Di kota Nha Trang, 20 kilometer ke arah selatan, hotel resor dan lapangan golf bermunculan saling susul menyusul.

Tapi Lamarche tidak begitu menghiraukan hingar bingar pembangunan. Ia tak pernah meninggalkan Vietnam sejak tahun 2000 dan mengunjungi kota besar Saigon, hanya sekali dalam lima tahun, untuk memperbaharui paspornya.

“Saya hanya tinggal di rumah karena apa yang saya inginkan ada di sini. Kami punya putri yang sebentar lagi berusia delapan tahun. Dan saya yakin, ini adalah tempat yang tepat untuk membesarkannya. Saya suka mengutak atik sekeliling saya. Jadi, saya adalah arsitek, tukang bangunan, insinyur, tuka sapu, semuanya saya kerjakan. Sebulan sekali saya pergi ke toko pizza. Itu saja.”

Dan hubungannya dengan tempat yang menarik ini kian dalam akhir-akhir ini. Dua tahun lalu, seorang tamu melihat beberapa monyet memanjat di sekitar tebing pegunungan, di balik Jungle Beach.

Lamarche mengirim foto monyet itu ke ahli Biologi primata ternama Vietnam.

Tilo Nadler adalah kepala Masyarakat Zoologi Frankfrut, Proyek Konsevasi Primata Vienam. Dia tahu banyak soal kera tak berekor Vietnam dari siapapun.

“Sekitar dua tahun lalu, kami dapat informasi. Awalnya kami tidak yakin jenis itu termasuk langka atau tidak dan sebagainya. Singkatnya, setelah dapat informasi, saya mengunjungi Jungle Beach dan saya dapatkan di sana terdapat jenis lutung yang terancam punah.”

Monyet Black-shanked Douc adalah monyet tak berekor berukuran sedang, berkepala botak dengan bulu berwarna hitam dan abu-abu.

Mereka termasuk makhluk sosial, dan hidup berkelompok, di mana satu kelompok terdiri dari sepuluhan lutung. Diperkirakan jumlah mereka tinggal beberapa ribu saja di Asia Tenggara ini.

Nadler memutuskan untuk menderikan tempat penelitian di Jungle Beach untuk meneliti hewan tersebut. Ia dengan cepat menemukan jenis monyet di sana berbeda dari yang sudah ada.

“Kami mulai dengan penelitian kami juga penelitian DNA. Ini berhubungan dengan genetis pupulasi tersebut. Dan ternyata populasi ini mungkin sudah ada seribu tahun lalu, terisolasi dari populasi yang lebih besar. Ini benar-benar unik.“

Berdasarkan DNAnya, monyet Jungle Beach telah terpisah dari  monyet jenis Black-shanked Douc lainnya selama ribuan tahun.

Seribu tahun lalu, tempat ini bahkan bukan bagian dari Vietnam. Tempat ini merupakan wilayah Kerajaan Champa yang punah pada abab 17.

Monyet-monyet tersebut sudah ada bahkan sebelum orang Vietnam tiba di sini.

“Memanjat bukit di simenanjung Hon Heo, Anda masih bisa mendengar suara peradaban, tapi itu jauh dari sini. Pohon-pohon di sini masih sangat lebat dan ketika Anda terus menerobos pepohonan, Anda bisa melihat laut hijau kebiruan yang membentang di kejauhan. Anda hanya bisa melihat monyet-monyet itu di pagi dan malam hari, saat mereka keluar dari balik bebatuan untuk bermain.”

Dalam dua dekade, Lamarche punya hitungan yang bisa dipercaya, bahwa di sana terdapat 110 ekor monyet.

Pegunungan yang masih hutan perawan ini luasnya sekitar 200 kilometer persegi. Tapi keberadaan monyet di sana masih saja terancam.

“Orang-orang di sekitar sini memburu monyet-monyet itu serta menebang kayu. Tidak banyak yang bisa kita lakukan terkait hal itu. Sejauh ini, Saya adalah penjaga terdepan hutan ini.”

Tapi ancaman terbesar bagi monyet-monyet itu berjarak hanya satu setengah jam ke Selatan, di kota Nha Trang. Tempat yang menjadi pusat zona ekonomi Van Phong Bay.

Nguyen Trong Hoa adalah Pimpinan Direksi manajemen zona tersebut. Menurutnya, pemerintah hanya menyetujui dua proyek baru di Van Phong Bay.

“Yang pertama adalah kilang minyak di kota Ninh Phuoc, di selatan Van Phong Bay. Proyek ini bisa menghasilkan 10 juta ton minyak mentah dengan modal terdaftar 4,8 milyar dolar Amerika atau sekitar 57 triliyun rupiah. Di samping itu, Perdana Menteri juga menyetujui stasiun pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan kapasitas 2640 megawatt. Ini artinya kita bisa membangun di sepanjang Van Phong Bay bagian selatan dan mengubahnya jadi pusat industri raksasa dengan kilang minyak, tenaga panas bumi, petrokimia dan lain-lain.”

Kilang minyak itu nantinya hanya beberapa ratus meter saja jaraknya dari utara Jungle Beach.

Pemerintah juga berencana untuk membangun pelabuhan pengapalan internasional di sebelah utara teluk, yang mampu bersaing dengan Hong Kong dan Singapura.

Lamarche telah mencoba berbicara dengan wakil pemerintah soal pembangunan ini. Dia melihat ini sebagai ancaman terhadap warisan negara yang mengadposinya.

“Akan sangat memalukan bila suatu hari nanti, anak perempuan saya ditanya oleh cucunya: Di buku ini saya melihat monyet yang disebut Douc. Di mana mereka sekarang? Ya waktu saya kecil mereka ada banyak, tapi kami telah membunuh mereka semua.”

Bagi penduduk lokal di  Van Phong Bay, pembangunan itu menjanjikan pekerjaan dengan gaji yang layak. Tapi anak-anak muda menuturkan mereka juga ingin melindungi monyet-monyet itu. Namun, kesempatan untuk memperbaiki kehidupan mereka, juga sulit untuk diabaikan.

Sebagai orang asing, sulit bagi Lamarche untuk mengajak mereka lebih memilih monyet ketimbang pekerjaan.

“Saya sadar berasal dari Kanada dan sanggup bicara seperti itu. Tapi di saat yang sama, saya tinggal di sini, dan ingin tinggal di sini untuk waktu yang lama. Saya membesarkan putri Vietnam saya di sini sehingga pantas rasanya saya bicara seperi itu. Memang lebih kaya dari sebagian penduduk desa ini tapi itu hanyalah nilai tambah. Kami harus menjaga sekeliling kami. Jika kami bisa menghentikan penghancuran itu, walau hanya kecil, akan sangat membantu. Siapa tahu…kami hanya bisa berharap.”


Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 30 September 2009 10:52 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search