AsiaCalling

Home Laporan Khusus On Vietnam’s coast, bigger is better...or is it? Berlomba Membangun Hotel Yang Tertinggi Di Vietnam

Berlomba Membangun Hotel Yang Tertinggi Di Vietnam

E-mail Cetak PDF

Download  -  Listen

Pesisir pantai yang dulunya masih murni, kini berubah akibat gelombang pembangunan pariwisata besar-besaran.

Berbagai desa nelayan dan pantai sepi kini disulap menjadi lapangan golf dan hotel-hotel tinggi yang mewah.

Bagi masyarakat Vietnam, yang baru bangkit dari kemiskinan selama puluhan tahun, mereka sulit melihat hal-hal apa saja yang hilang akibat pembangunan ini.

Tapi kini karena ekonomi global yang melambat belum tentu pasar pariwista bisa menampung proyek mewah seperti itu lagi.

Simak laporan selengkapnya oleh Matt Steinglass dari bagian tengah Vietnam.

Ketika Vietnam merayakan perayaan Tahun Baru kalender lunar atau Tet di akhir bulan Januri, Le Thi Thu Thao sangat sibuk. Thao adalah kepala koki di Hotel Yasaka di kota Nha Trang di pesisir pantai.

Tiap tahun, Thao dan para pegawainya memasak kue tradisional Tet yang paling besar di dunia atau yang disebut “bahng tet”. Kue ini berbahan ketan berisi daging yang dibungkus dengan daun. Tahun ini kue banh tet buatan Thao mencapai 34 meter.

“Pembuatan kue ini lebih sulit ketimbang membuat kue Tet biasa. Kami harus mengerahkan banyak koki dan mereka dibagi lagi ke beberapa bagian. Lalu kami harus mengangkat kue itu ke dalam tempat masak yang besar dan hati-hati supaya kuenya tidak hancur.”

Tradisi ini mulai 25 tahun yang lalu, ketika Teluk Nha Trang terpilih menjadi teluk ke 29 yang paling indah di dunia. Thao membuat kue sepanjang 29 meter dan sejak itu menambah satu meter tiap tahunnya. Thao bukan satu-satunya yang terobsesi dengan hal-hal yang berukuran besar tapi kini semua orang di Nha Trang. Dulu kota di pinggir pantai ini  sepi. Tapi dalam beberapa tahun terakhir banyak lapangan golf besar dan resor spa yang bermunculan.

Seperti Resor Pulau Pearl yang memampang tulisannya dengan huruf besar di bukit yang berhadapan dengan teluk. Selain itu ada Teluk Diamond yang mengelar pemilihan kontes Miss Universe pada tahun lalu. Lalu di sepanjang jalan pinggir pantai, berbagai hotel mewah yang tinggi tengah dibangun seakan-akan bersaing mencapai tempat yang paling tinggi.

“Pemandangan indah dari hotel kami dimulai dari tingkat 28. Setelah turun kita bisa melihat pemandangan yang luar biasa pada posisi 360 derajat.“

Nick Lee adalah manajer bagian kamar di Hotel Sheraton Nha Trang. Tapi hotel itu masih belum selesai dan masih berbentuk rangka beton yang bakal dibuka pada musim panas ini. Kami berdua berada beberapa ratus meter di atap gedung yang nantinya bakal menjadi teras mewah yang menghadap ke teluk serta hotel besar dan baru lainnya.

“Wah ini pemadangan yang sangat indah dari atas sini.”

“Ia luar biasa. Nampaknya Hotel Crowne Plaza bakal ada di sebelah hotel ini nanti.”

“Nanti ada Hotel Crowne Plaza dan ada rumor kalau bagian ini bakal menjadi Hotel Hilton.”

“Jadi pembangunan gedung ini sudah dimulai tapi tidak ada yang tahu kapan bisa selesai?”

“Ia”

“Dan Anda tahu berapa tingginya Hotel Crowne Plaza nanti?”

“Tidak, saya tidak tahu. Saya pikir kami masih menjadi gedung tertinggi di Nha Trang.”

Dengan kamar-kamar dan restoran mewah, Hotel Sheraton bertujuan menjadi hotel pilihan.

“Semua kamar punya tempat tidur khas Sheraton paling anyar. Ini ciri khas tempat tidur di hotel Sheraton. Di setiap lapisannya ada lapisan katun. Di semua ruangan ada televisi LCD ukuran 37 inci. Untuk para tamu yang suka bepergian, mereka bisa memasukkan foto-foto mereka dari kamera langsung ke televisi.”

Hotel ini jauh berbeda dengan hotel-hotel yang berada di tempat itu sepuluh tahun lalu. Dulu hotel hanya berbentuk wisma pemerintah tanpa AC.

Atau gubuk beratapkan rumput dilengkapi dengan tempat tidur gantung di pantai-pantai sepi.

“Pantai yang terpencil, yang sangat sepi. Saya tidak tahu kalau ada banyak tempat seperti ini di Vietnam. Padahal saya sudah tinggal di sini selama lima tahun.”

“Ya sama saya juga setuju.”

Steve berasal dari Irlandia. Pacarnya bernama My berasal dari Vietnam. Mereka menghabiskan liburan tahun baru Tet mereka di resor Jungle Beach, sekitar dua jam perjalanan arah utara dari Nha Trang. My tinggal di Hanoi sebagai pengembang ril estat asing. Dia mengatakan, ingin mencoba liburan yang berbeda.

“Saya ingin menikmati tempat yang alami seperti ini dengan hal-hal yang sederhana. Seperti orang Nya Kweh atau orang kampung.”

My menuturkan ia suka dengan orang “Nya Kweh” atau orang kampung. Padahal, biasanya sebutan Nya Kweh di Vietnam tak sopan karena artinya orang yang bebal dan tidak modern atau berbudaya.

My menuturkan, tak banyak orang Vietnam seperti dia yang menikmati nilai-nilai pedesaan seperti di Jungle Beach. Ia menambahkan, banyak orang kaya Vietnam, yang dibesarkan di gubuk-gubuk bambu beratapkan jerami. Jadi mereka tidak mau liburan di tempat seperti ini.

“Mereka lebih suka tempat yang mahal, tidak seperti ini. Sebagian besar orang kota punya uang dan mereka tidak terbiasa tinggal di tempat seperti ini. Ini tidak termasuk orang-orang yang pindah dari desa ke kota lalu menjadi orang kaya. Tapi mereka tidak pernah mau kembali lagi ke sini dan melihat lingkungan seperti ini.”

Tapi sementara resor mewah Vietnam berkembang, para pejabat pariwisata menemukan tak banyak turis asing yang kembali lagi ke Vietnam setelah kunjungan pertama mereka.

Karena resor pariwisata Vietnam semakin besar, maka daerah pedesaan nampaknya kehilangan ciri khasnya. Selain itu, hotel-hotel baru di Nha Trang didirikan di tengah resesi yang memperpuruk industri pariwisata global. Tapi, menurut Nick Lee, Sheraton masih bisa bertahan.

“Tahun 2009 bakal menjadi tahun yang sulit. Siapapun yang menyangkal hal itu, tidak melihat masalah ini secara keseluruhan. Tapi menurut saya, ini bakal menjadi tahun yang sulit.

Jika Sheraton tak bertahan maka ini bakal merisaukan warga Nha Trang.

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 30 September 2009 10:57 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search