AsiaCalling

Home Laporan Khusus Pemandangan Yang Langka Di Perkebunan Teh Bangladesh Para Pekerja Perkebunan Teh di Bangladesh Memperjuangkan Hak-Hak Mereka

Para Pekerja Perkebunan Teh di Bangladesh Memperjuangkan Hak-Hak Mereka

E-mail Cetak PDF

Download  Dari semua  pekerjaan di Bangladesh, pekerjaan memetik teh sungguh berat, monoton  dan berupah rendah.

Dalam dua seri khusus,  reporter kami Ric Wasserman mengajak kita dalam satu kesempatan yang langka,  memasuki dunia para pekerja teh.

Ia mengunjungi satu desa tempat empat ratus keluarga telah bekerja di perkebunan teh selama lima generasi.


Pada jam 5 sore, sinyal alarm dibunyikan menandakan selesainya  hari kerja yang panjang di perkebunan teh Srigobindapur,  yang terletak di bagian timurlaut pegunungan tinggi  Bangladesh.

 

Para pemetik daun teh perempuan tersebar di antara tanaman semak-semak teh yang sudah matang,  memetik daun teh  lebih cepat lagi. Setiap perempuan harus mengisi  karung mereka dengan daun teh seberat minimal  20 kilogram sehari, demi upah yang  sangat kecil.

 

Kulpana nampaknya masih 13 tahun, dan tertawa  ketika ditanya berapa  umurnya.

 

“Umur saya? Saya sendiri tidak tahu berapa umur saya.”.

 

Tapi ia hanya bisa ngobrol sebentar saja sama saya.  Pasalnya, sang manajer perkebunan  Srigobindapur berjalan  melewati kami, dan mengingkatkan dia untuk memetik daun dengan hati-hati...dua daun dan satu pucuk saja.

 

Mereka sudah berdiri selama hampir 8 jam. Kini waktunya bagi  mereka untuk  pulang ke rumah.

 

Semua pekerja di perkebunan ini dan di 168 lainnya di Bangladesh,  tinggal di berbagai desa di tengah  perkebunan. Rumah mereka yang yang bertapkan  jerami, serta  dibuat dari lumpur dan tanah liat, tidak dilengkapi dengan mebel sama sekali. Mereka tidak punya air atau listrik. Sapi dan domba peliharaan mereka pun tinggal di dalam kamar.

 

Hanya segelintir  pekerja saja yang pernah meninggalkan perkebunan Srigobindapur,  untuk mengunjungi kota terdekat yang hanya berjarak 8 kilometer dari tempat itu. Mereka lahir disini dan nampaknya bakal meninggal juga di tempat yang sama.

 

Alunan muasik menarik saya   ke rumah Gopal Bashi  yang tinggal bersama  isteri bernama Dutti dan kedua anak mereka. Gopal memimpin mereka dalam satu lagu tradisional yang menceritakan tentang cinta dan pengorbanan.

 

”Sudah lima generasi kami yang kerja di Bangladesh sejak kami datang dari India. Kami masih belum mengalami kemajuan. Dengan sedikit uang yang kami hasilkan, kami tidak bisa membeli makanan yang bergizi untuk keluarga kami. Kami ingin anak-anak kami masuk ke sekolah yang bagus, tapi kami juga tidak punya uang yang cukup untuk itu.”

 

Sungguh aneh mendengar harapan pekerja kebun teh yang ingin anak-anaknya mendapakan pendidikan yang lebih baik.

 

Dalam satu survei baru-baru ini yang dibuat oleh LSM Bangladesh yaitu  Society for the Environmentat and Human Development,  hanya 12% pekerja yang ingin supaya  anak laki-lakinya mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dan kurang dari satu pesen yang ingin anak-anak sekolah lebih dari kelas 5 SD.

 

Dr. Mafazul Haque, bekas sekretaris Buruh di Bangladesh, menuturkan, para pekerja perkebunan teh harus mendapatkan hak-haknya.

 

”Saya secara pribadi mengunjungi beberapa diantara mereka di kebun teh. Dan yang yang saya temukan adalah mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Rumah-rumahnya buruk, tidak ada WC, air minum dan fasilitas kesehatannya juga bruruk, tidak ada pendidikan. Tidak ada apa-apa. Dan mereka sudah hidup dalam keadaan seperti ini selama 150 tahun. Mereka adalah kelompok orang yang istimewa. Saya ingin tahu apa mereka punya kelompok buruh. Mereka bilang tidak ada.:”

 

Bekas Sekretaris Buruh, Mafazul Haque mencoba membuat serikat buruh,  tapi kata dia, upayanya gagal.

 

”Dewan  Teh yang semestinya mengawasi  segala kegiatan pembangunan mereka  tidak cukup pintar untuk melakukan hal itu. Departemen Perburuhan semestinya melakukan sesuatu untuk kesejahteraan. Para pegawainya sangat kurang dan kewalahan mengurus berbagai masalah di seluruh negeri ini. Sehingga  mereka tidak bisa fokus kepada para pekerja teh. Karena badan pengawasan  tidak ada, para pemilik perkebunan yang mengatur semuanya.”

 

Tapi seorang pekerja teh yang berapi-api bernama Rambhajan Koiry mulai melakukan gebrakkan.

 

”Waktu itu saya masih di SMU dan pada tahun itu  kami diterpa angin puyuh. Itu terjadi pada tahun 1968. Badai itu menghancurkan semua rumah kami, tapi pemilik perkebunan teh tidak melakukan apapun untuk membangunnya kembali Semuanya takut untuk  mengeluh, tapi saya langsung pergi ke pemiliknya,  dan menyampaikan permintaan para penduduk desa kepada dia. Dalam waktu seminggu rumah-rumah itu dibangun kembali. Dia melakukannya. Saat itulah  saya sadar  kalau kami harus membuat satu serikat pekerja.”

 

Serikat itu tumbuh perlahan-lahan.  Kini, 80  % dari 160 ribu pekerja teh adalah anggota serikat buruh.

 

Rambhajan Koiry pernah sempat dipenjara beberapa kali, karena  sejumlah partai politik, berupaya menggagalkan  serikat buruh itu.

 

”Kami tahu kalau kamu membutuhkan serita pekerja sebagai satu-satunya agen penawar antara para pemilik dan para pekerja dan ini yang ditakutkan pada pemlik.Memang kami sudah berhasil mendirikn serikat buruh tapi para pemilikperkebunan  selalu mencoba berkompromi dengan kami. Mereka menghtilangkan hak-hak kami.”

 

Karena tekanan dari para pemilik dan korupsi, maka upah para buruh dan fasilitas perumahan sangat minim. Tapi serikat itu berhasil membuat  dua permintaan menjadi aturan. Yaitu anak-anak di bawah usia 12 tahun tidak boleh dipekerjakan untuk melakukan  pekerjaan apapun. Dan kalau tiga seperempat pekerja memilih untuk mogok kerja, maka mogok itu dianggap sah.

 

Serikat buruh kini  mendesak supaya sekolah SD di perkebunun  teh  dikelola  oleh pemerintah. Mereka  juga menginginkan ada  sekolah-sekolah  SMU lokal di perkebunan itu.

 

”Perjalanan kami masih panjang, tapi kami meneruskan perjuangan untuk mendapatkan hak-hak kami dan bekerja demi membuat serikat yang lebih kuat.”

 

(**)

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 19 Juli 2010 15:38 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search