AsiaCalling

Home Laporan Khusus Sex workers stories from across asia Jumlah Perempuan Kamboja Yang Bekerja Di Industri Seks Meningkat Akibat Krisis Keuangan

Jumlah Perempuan Kamboja Yang Bekerja Di Industri Seks Meningkat Akibat Krisis Keuangan

E-mail Cetak PDF

Download - Listen 

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan jumlah perempuan Kamboja yang beralih ke industri hiburan demi bertahan hidup, kini kian meningkat akibat perlambatan ekonomi global.


Kamboja telah dihantam keras oleh krisis keuangan global.


Saking parahnya pada tahun ini saja hampir 80 pabrik garmen terpaksa gulung tikar.


Dan para perempuan yang telah kehilangan pekerjaan, kini terpaksa mencari penghasilan di tempat lain.


Simak kisahnya mereka bersama Khortiteh Him di Pnom Penh.


Inilah suasana di daerah hiburan Tultombung, pada pukul lima sore. Para pekerja sedang bersiap untuk berbagai kesibukan malam ini. Berbagai restoran, klub, panti pijat dan karaoke mulai buka.

 

Di salah satu gang kecil di belakang pasar, sejumlah perempuan muda yang mengenakan rok pendek yang seksi tengah berjejer di depan tempat pijat, sambil menunggu para tamu. Salah satunya adalah Sothy, 27 tahun, yang menunggu di depan Panti Pijat 99.

 

“Kadang saya bisa melayani 10 tamu dan di hari-hari lain 12 orang. Saya memijat mereka dan iya setelah itu saya merasa capek setiap hari."

 

Ia mulai bekerja di sini tiga bulan lalu, setelah pabrik garmen tempat ia dulu bekerja, ditutup.

 

“Beberapa tamu memang hanya ingin dipiijat, tapi ada yang memaksa supaya bisa berhubungan seks dengan kami. Saya sudah ketemu dengan tamu-tamu seperti ini sebelumnya. Tapi ini semua ini, tergantung dengan apa yang kami ingin lakukan.”

 

Sothy berasal dari provinsi Kampong Cham. Dia mengatakan, menghasilkan sekitar 80 dolar Amerika atau sekitar 800 ribu rupiah per bulan. Ia menghabiskan uang itu untuk menghidupi keluarganya yang berjumlah delapan orang.

 

Warga desa di Kamboja yang telah mengirim anak perempuan mereka ke kota berharap, anak-anak itu bakal mengirim uang ke kampung mereka.

 

“Di kampung saya tidak ada pekerjaan dan satu-satunya pilihan adalah bertani. Itu pekerjaan yang sulit dan tidak menghasilkan uang yang banyak. Di kota, kami bekerja berjam-jam tapi bisa mendapatkan uang dan makanan yang lebih banyak di sini. Kalau kami sakit, atasan kami akan merawat kami.”

 

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sothy adalah salah satu perempuan yang beralih ke dunia hiburan dan jumlah mereka semakin meningkat.

 

“Kami ingin mencari tahu soal dampak krisis keuangan global terhadap para pekerja pabrik. Hal menarik yang kami temukan adalah, para pekerja garmen masuk ke industri hiburan karena mereka kehilangan pekerjaannya dan kesulitan untuk menemukan pekerjaan baru di pabrik lain.”

 

Lim Tith adalah koordinator PBB yang menangani Proyek Perdagangan Manusia Antar Agen di Kamboja. Ia mengatakan, para perempuan ini terjun ke dalam industri seks karena latar keadaan keluarga mereka yang susah.

 

“Mereka tidak pulang, karena harus kirim uang untuk keluarga mereka. Kadang sebagian keluarga mereka itu sangat tergantung dengan penghasilan mereka itu. Contohnya biaya pengobatan atau sekolah untuk saudara-saudara kandung mereka. Jadi mereka sangat membutuhkan uang dan pekerjaan. Kalau mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan di tempat lain, mereka akan masuk sektor ini.”

 

Kamboja dihantam keras oleh krisis keuangan global. Saking parahnya tahun ini, hampir 80 pabrik telah ditutup dan 20 lainnya bakal menyusul. Berbagai serikat pekerja menyatakan, lebih dari 60 ribu perempuan telah kehilangan pekerjaan mereka.

 

“Ya memang, jumlah perempuan yang bekerja di tempat hiburan semakin meningkat dan kalau kita keliling kota banyak klub yang baru buka juga. Inilah yang kami amati.”

 

Prok Vanny adalah direktur majelis Star Cambodia organiasasi pembela hak-hak perempuan. Dia menjelaskan, para pekerja pabrik ini berpendidikan rendah jadi pilihan mereka sangat sempit.



“Ini adalah masalah yang serius, karena ekonomi adalah prioritas rakyat dan sepertinya menjadi hak rakyat. Kalau ekonomi memburuk bakal berdampak langsung pada masyarakat dan mereka tidak akan makanan. Kalau tidak makan apa yang bakal terjadi dengan mereka? Sementara itu kami bertanya kenapa mereka harus kerja di klub, karaoke atau di rumah bordil? Karena mereka harus makan dan inilah cara mereka untuk bertahan hidup.”

 

Lirik lagu ini mengatakan,' jangan rendahkan kami. Pekerja karaoke tak seperti yang kau pikirkan. Kami juga perlu kehormatan dan martabat.” Inilah lagu yang dinyanyikan oleh sekelompok perempuan yang menuntut hak-hak yang sama.

 

Kamboja adalah salah satu negara paling miskin di Asia Tenggara, di negeri ini lebih 30 persen penduduknya menghasilkan kurang dari 50 sen Amerika atau lima ribu rupiah per hari. Meski negeri ini telah mengalami perkembangan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir khususnya di bidang sewa rumah dan pariwisata, namun masih terjadi ketimpangan sosial.

 

“Kesejangan antara orang kaya dan miskin semakin lebar. Orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.”

 

Tea Phally adalah wakil presiden Otoritas AIDS Nasional.

“Masalah di Kamboja adalah, orang kaya bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan, dan orang miskin terpaksa melakukan pekerjaan apa saja demi uang.”

 

Lim Tith dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, para perempuan yang telah kehilangan pekerjaan mereka akibat perlambatan ekonomi, sangat rentan untuk mengalami penyiksaan.

 

“Karena, para perantara atau pedagang manusia bisa mengambil kesempatan ini untuk menawarkan mereka pekerjaan dan menipu mereka. Bisa juga dijual ke bidang apa saja termasuk seks komersil. Dan kalau mereka tidak bisa menemukan pekerjaan yang layak sekarang ini, maka mereka kembali ke kampung halaman untuk sementara dan menunggu sampai ekonominya membaik, dan setelah itu kembali lagi untuk mencari pekerjaan.“

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 17 Agustus 2009 11:03 )  

Add comment


Security code
Refresh