AsiaCalling

Home

Memburu Jerat Raja Hutan Sumatera

E-mail Cetak PDF

Download - Listen

Populasi harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat, TNKS, tinggal 130-an ekor.

 

Perburuan telah menyebabkan populasi si belang ini turun drastis.

 

Kini harimau Sumatera masuk daftar hewan yang terancam punah.

 

10 tahun sudah, Tim Patroli Rimba berada di garis terdepan, berusaha memburu jerat yang dipakai untuk menjebak harimau Sumatera.

 

Kontributor KBR68H di Jambi, Muhamad Usman, sempat mengikuti perjalanan tim tersebut ke dalam hutan.

 

Ceritanya dibawakan Malika Febrianti.

 

Pagi itu gerimis membasahi Kota Sungai Penuh, Jambi. Sebuah mobil gardan ganda keluar dari kantor Program Pelestarian Harimau Sumatera, PHS, Kerinci Seblat.

 

Ada lima orang dalam mobil itu. Mereka adalah Tim Patroli Rimba, siap dengan bawaan mereka: ransel besar berisi pakaian serta alat dan bahan masak. Juga alas tidur. Bekal menginap berhari-hari di dalam hutan.

 

“(Mas, ini mau kemana, Mas?) Mau melakukan patroli rutin, Pak, di Taman Nasional Kerinci Seblat di seputaran Danau Gunung Tujuh, Pak. (Ini nanti sampai sana berapa lama?). Sampai di pinggir TNKS kira-kira tiga jam, Pak. (Ini nanti rencananya berapa lama di sana?). Rencananya kita di sana lima hari.“

 

“(Jerat apa saja yang nanti dicari?) Yang utama yang kita cari adalah jerat harimau, yang kedua jerat mangsa harimau seperti rusa, kambing hutan, kijang, dan sebagainya. (Ini hari kan gerimis, apa tidak dibatalkan keberangkatannya?). Biasanya kalau sudah dijadwalkan pimpinan jarang dibatalkan kecuali kalau ada hal-hal yang emergency.”

 

Jerat dipasang pemburu untuk menangkap harimau Sumatera. Jerat dari kawat baja itu akan mengikat bagian kaki dan leher harimau. Sang raja hutan yang masuk dalam perangkap tidak mungkin lagi bergerak bebas. Saat itulah ia dibunuh, lalu diambil kulit, tulang dan taringnya untuk dijual.

 

Mobil hanya mengantar sampai di pingir hutan Taman Nasional Kerinci Seblat. Setelah itu, kami harus berjalan kaki masuk hutan.

 

Hari itu, sasaran Tim Patroli Hutan adalah kawasan sekitar Danau Gunung Tujuh.

 

“Kita kan sebelum berangkat patroli, kita melakukan briefing. Kita ditanyai apakah punya informasi di daerah mana yang dulu banyak ditemukan perburuan dan jerat, sudah lama nggak dipatroli rutin. Kita biasanya feeling atau perkiraan apakah ditempat itu pemburu akan kembali lagi. “

 

Menurut anggota Tim Patroli Rimba, Tholibin, dua tahun sebelumnya, tim pernah menemukan ratusan jerat di lokasi ini. Agustus lalu pun, di sana seekor harimau jadi korban jerat pemburu.

 

Mereka tak hanya mencari jerat harimau, tapi juga heawan-hewan yang jadi mangsa si Raja Hutan. Seperti kijang, babi atau kambing hutan. Hewan-hewan ini juga laku dijual di pasaran. Tim berupaya mencegah supaya hewan-hewan ini tak habis dijerat pemburu.

 

“Seandainya mangsa itu sudah habis, harimau bisa mendekat ke arah pemukiman atau kampung. Dan bisa mengakibatkan konflik dengan manusia. (Apakah sekarang banyak harimau turun ke pemukiman?) Saat ini banyak sekali harimau turun ke kampung, contohnya di Muaro Emat Kabupaten Kerinci sudah terjadi konflik, harimau mengincar binatang ternak penduduk.”

 

Seharian berjalan, matahari hampir tenggelam. Tim sampai di tepi Danau Gunung Tujuh. Anggota tim menyebar mencari kayu di pinggir danau.

 

Hutan berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Ketika berbicara, keluar uap dari mulut. Hawa memang sangat dingin. Karenanya nyaris tak ada suara hewan di malam hari. Hanya terdengar suara air terjun yang berada tak jauh dari tenda.

 

Pagi harinya, datang seorang pencari ikan. Warga Desa Siulak Kecil memang sering mencari ikan di Danau Gunung Tujuh, yang berjarak sekitar 60 kilometer.

 

“(Yang pasang jerat di situ campnya dimana?) Jauh…nggak nampak gak? (Yang masang jerat ngecamp gak di situ?) Iya, tapi jauhh….” 

 

Sampan pun langsung dikayuh menyisir pinggir danau. Tampak bekas semak-semak yang ditebang, biasa disebut rintisan, menandakan bekas dilewati orang. Tim curiga. Sampan ditepikan lalu ditambatkan. Tim patroli lantas menyisir rintisan tadi. Akhirnya, di atas sebuah tebing, tim menemukan tenda.

 

“(Pinter juga yang bikin camp tersembunyi begini ya. Kalau misalnya tiba-tiba pemilik ini besok datang?) Ya tinggal kita sate. Kita tanya...jerat pasang dimano...dia jawab gak ada, Pak. Borgol..."

 

Tenda berukuran 3x3 meter beratap plastik, dibangun di balik pepohonan dan semak yang rimbun. Jika dilihat dari bawah tebing, tak ada yang menyangka di sana dibangun tenda.

 

Siapa saja pemburu harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat? Apakah petugas Patroli Hutan berhasil menemukan pemburu satwa langka yang hampir punah ini?

 

Di sebuah ruangan di kantor PHS. Koordinator Tim Patroli Rimba Eko Supriyatno memperlihatkan ember besar. Eko membuka isolasi yang membungkus ember ini.

 

Ini adalah kulit Salsa, harimau Sumatera yang ditangkap PHS Juli lalu karena mengganggu permukiman penduduk di Solok Selatan, Sumatera Barat. Tim memperkirakan harimau di Solok Selatan sudah kehabisan mangsa sehingga harus mencari makan di perkampungan. Karena itulah Salsa ditangkap, cerita Eko.

 

Sebulan kemudian, Salsa dilepasliarkan di kawasan Danau Gunung Tujuh. Namun tak lama, Salsa terperangkap jerat yang dipasang Romi dan Sila. Kedua pemburu ini adalah pemilik empat puluhan jerat dan tenda yang ditemukan tim patroli rimba. Komandan Tim Patroli Hutan Samsul mengatakan, hampir sepuluh tahun lalu ia pernah memergoki dua orang ini sedang berburu.

 

“Pak Sila dan Romi itu beradik kakak, tinggalnya di desa Sungai Keruh, desa di bawah ini. Mulai tahun 2001 lalu aku pernah masuk ke sini, mereka sudah kukasih teguran. (O...jadi gawenya njerat itulah ya?). Ya, nggawenya njerat. (Kenapa tidak ditangkap?). Ya kan dikasih peringatan dulu, siapa tahu mau sadar. Biasanya kita kasih peringatan satu kali, kalau diulangi lagi langsung kami tangkap.”

 

Sayang Romi dan Sila berhasil kabur ketika rumahnya digerebek Tim Patroli Hutan. Meski sampai sekarang masih berstatus buron polisi, keduanya masih terus berburu harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat. Dalam catatan PHS, selain Romi dan Sila, ratusan pemburu lainnya mengincar harimau di TNKS, kata Manajer Lapangan PHS, Dian Risdianto.

 

Di antara para pemburu, ada juga anggota TNI, kata petugas patroli rimba, Slamet sembari menuturkan kasus yang terjadi pada 2007.

 

“Dari Bengkulu Selatan itu ada anggota TNI yang berburu hingga ke Kerinci. Memang di sini ada kaki tangannya yang khusus survey. TNI yang mburu yang ketangkap itu masih satu lichting (angkatan) dengan adik saya. Anggota TNI yang berburu itu memang terlalu dekat dengan komandannya. Jadi dia bebas melakukannya. (KOmandannya tahu gawe dia?) Kalau menurut adik saya yang satu asrama itu ya...memang komandannya ya seperti itu, karena dia yang bisa disuruhnya. (Tapi bisa ditangkap orang itu?). Bisa, ditangkap dia...”

 

Anggota TNI ini sudah ditangkap. Proses hukumnya kini berada di tangan polisi militer. Namun tak lama, si oknum tentara ini sudah berburu harimau Sumatera lagi.

 

“Sekitar akhir tahun 2008 kalo tidak salah, kita mendapatkan informasi bahwa oknum TNI tersebut ditangkap lagi di kawasan Taman Nasional BUkit Barisan Selatan. Dan ia juga ingin melakukan perburuan harimau.”

 

Ribuan jerat disebar pemburu di Taman Nasional Kerinci Seblat yang luasnya 1,5 juta hektar ini. Selama 10 tahun Tim Patroli Hutan bertugas, ratusan jerat sudah ditemukan dan disita, kata manajer lapangan PHS, Dian Risdianto.

 

Program Pelestarian Harimau Sumatera, PHS, Kerinci Seblat diklaim berhasil mengerem penurunan populasi harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat. Penasehat PHS Deby Marir menyodorkan bukti: empat tahun terakhir populasi harimau Sumatera stabil di angka 130an. Selama 10 tahun patroli, tim juga sudah menyerahkan 23 pelaku perburuan dan perdagangan harimau ke polisi.

 

“Selama hutan dijaga oleh kawan TNKS, mereka selalu masuk ke sana, itu populasi harimau Sumatea tidak turun. Kalau kita bergerak masuk hutan...kalau kita bergerak masuk untuk mitigasi konflik, kalau kita bergerak advokasi masyarakat, populasi harimau tidak turun dan di TNKS populasi harimau tidak turun dan di beberapa tempat populasi malah naik sedikit.”

 

Tim Patroli Hutan berharap, setiap kali mereka patroli akan semakin sedikit jerat yang ditemukan di dalam Taman Nasional. Semakin sedikit jerat, berarti jumlah pemburu ikut berkurang. Dan harimau Sumatera bisa menghirup udara bebas.

 

Terakhir Diperbaharui ( Selasa, 09 Februari 2010 14:14 )  

Add comment


Security code
Refresh