AsiaCalling

Home Arsip

Sengketa Antara India Dan Pakistan Setelah Penyerangan Di Mumbai

E-mail Cetak PDF

 

Ketegangan kembali muncul antara India dan Pakistan setelah serangan teoris di pusat Perdangan India, Mumbai, pekan lalu.

Serangan itu menewaskan 173 orang dan ratusan korban lainnya luka-luka.

Pejabat India menyatakan kelompok yang bermarkas di Pakistan lah yang berada di belakang serangan tersebut.

Namun, pemerintah Pakistan membantah terlibat.

Perpecahan ini mengancam proses perdamaian yang tengah berlangsung di antara kedua negara yang sama-sama memiliki senjata nuklir.

Dari New Delhi, Bismillah Geelani menyampaikan laporannya dan dibawakan Doddy Rosadi.

 

Gautam Tiyagi, 22 tahun, datang ke Mumbai beberapa bulan lalu untuk mengikuti pelatihan di Hotel Taj. Ini adalah awal masa depannya yang cemerlang dan sukses. Tapi mimpi itu tiba-tiba berakhir dengan kejam pekan lalu.

Mayat Gautam tiba di rumah orangtuanya di Delhi, disambut warga sekitar dan raungan tangis keluarga yang bingung. Shanti Tiyagi, ibu Gautam menolak untuk menerima mayat itu.

Jangan berikan mayat ini, saya tidak menginginkannya. Itu ucapan sang ibu. Putra saya masih hidup ketika meninggalkan rumah.

Gautam adalah satu dari ratusan korban penyerangan 10 anggota milisi bersenjata otomatis. Mereka mengepung beberapa lokasi di Pusat Perdagangan India selama hampir tiga hari.

Para pemrotes di Gerbang India, Delhi, meneriakkan “Kami menyembah Ibu Pertiwi.”

Seluruh India terkejut atas peristiwa ini dan kesedihan berubah jadi kemarahan pada pemerintah yang dianggap gagal melindungi warga negaranya.

Para analis mengungkapkan sudah ada peringatan serangan akan terjadi dan garis pantai Mumbai sangat rentan diserang lewat laut.

Banyak yang menamakan ini serangan 9 Sepember India. Rohit, pustakawan di Delhi.

“Kami butuh perubahan dari politisi. Mereka mencari suara kami waktu pemilu untuk apa? Agar kami dapat hal ini? Kejadian mengerikan ini terjadi karena mereka tidak melakukan apa-apa. Tak ada yang dilakukan padahal telah banyak kejadian. Kami sudah cukup menderita.”

Selagi Mumbai menunjukan tanda-tanda akan bangkit, pekan ini pemerintah diserang. Tiga menteri mengundurkan diri.

Penyidik mengungkapkan para milisi adalah orang Pakistan, terlatih dan dibayar Badan Intelijen Pakistan, ISI, untuk melakukan serangan.

Pemerintah India secara resmi menuntut tindakan terhadap apa yang mereka sebut “elemen di Pakistan” yang mendalangi penyerangan.

Raghav Sharma, peneliti di Institut Kajian Perdamaian dan dan Konflik, yang berkedudukan di New Delhi.

“Pemerintah telah mempertimbangkan untuk mencabut genjatan senjata yang sudah berlangsung selama lima tahun dan ada pembicaraaan untuk menyebar pasukan di sepanjang perbatasan, rel gantung dan saluran udara.”

Mengulang tekad pemerintahnya untuk menyerang balik, Menteri Dalam Negeri India, Pranab Mukherjee, mengungkapkan tanggapan Pakistan akan menentukan langkah pemeritah selanjutnya.

“Pemerintah India bertekad meyakinkan untuk melindungi kesatuan wilayah India dan hak masyarakat atas hidup damai. Langkah apa yang diambil tergantung dari jawaban pejabat Pakistan.”

Pakistan mengaku tak terlibat dalam serangan itu tapi menegaskan akan mengambil tindakan bila ada bukti keterlibatan mereka.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmood Qureshi, secara diplomatis menjawab ketika diminta komentarnya soal serangan itu.

“Ini situasi serius dan kita jangan membodohi diri sendiri ketika masyarakat India merasa ini seperti peristiwa 9 September bagi mereka. Mereka menganggap ini sangat serius dan menurut saya sebagai pemerintah terpilih yang bertanggung jawab, kami tak bisa melupakan betapa gentingnya situasi ini.”

Perdana Menteri Pakistan, Yousuf Raza Gilani, awalnya setuju mengirimkan Dirketur Jenderal ISI ke India untuk membantu penyelidikan tapi tawaran ini segera ditarik ketika India mulai menuduh ISI terlibat dalam serangan itu.

Zafar Jaspal, ahli strategi di Institut Penelitian Kebijakan Islamabad mengungkapkan Pakistan tersinggung dengan pernyataaan itu.

“Pemerintah Pakistan siap mengirimkan ISI tapi kini ketika ancaman perang datang dari pejabat India tentu pemerintah Pakistan harus meninjau kembali dan memutuskan apakah kita bisa bekerja sama dan sampai batas mana bisa bekerja sama.”

Banyak orang Pakistan merasa tuduhan terhadap Islamabad itu tidak adil, karena negara itu pun saat ini menjadi target kelompok teroris.

Shehar yar Afridi, seoang pengusaha asal kota Barat Laut Peshawar.

“Pakistan sendiri dalam kondisi krisis sehingga bagaimana mungkin Pakistan bisa terlibat dalam serangan semacam itu. Saya heran mengapa India tak menyadari tingkah mereka yang kejam dan keras terhadap Muslim dan Sikh, yang tinggal di India dan Kashmir. Mereka juga bisa melakukannya. Mengapa menyalahkan Pakistan.”

Tapi analis pertahanan India Kolonel Satinder Singh Saini bersikukuh ada bukti keterlibatan Pakistan dan negara itu harus merespon ini dengan positif.

Beberapa pihak prihatin, ketegangan yang terus berkembang akan berubah menjadi konflik terbuka. Bencana besar mungkin akan terjadi di antara kedua negara bersenjata nuklir ini.

Tapi analis politik dari New Delhi, Javed Naqvi, mengatakan Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan perang pecah di antara kedua negara. Terutama karena melanjutkan operasi yang disebut ‘perang atas teror’ di sepanjang perbatasan Afghanistan.

“Kelompok berkuasa di kedua negara sepenuhnya berhutang budi pada Washington DC. Dalam situasi normal, ini akan jadi bahan kririk tapi pada saat ini, itu adalah bantuan besar, paling tidak seseorang akan mengayunkan kayu, pengaruh untuk menjinakkan kedua negara yang punya energi nuklir.”

Kemarahan India atas tragedi itu, ditambah reputasi pemerintah, bisa berarti berlanjutnya ketidakpastian akan membayangi hubungan kedua negara.

Pemerintahan Manmohan Singh mendapat serangan nasionalis Hindu yang menuduhnya lembek dalam menghadapi teror. Dan ketika pemilu tiba, citra lembek terhadap teror ini harus ditebus dengan mahal.

 

Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 29 Juli 2009 10:38 )  

Add comment


Security code
Refresh