AsiaCalling

Home Berita China Pabrik Besar Penyebab Memburuknya Pencemaran Air Di Cina

Pabrik Besar Penyebab Memburuknya Pencemaran Air Di Cina

E-mail Cetak PDF

Download  -  Listen

 

Pencemaran air adalah salah satu masalah lingkungan Cina yang paling parah.

 

Menurut para pemantau lingkungan, pencemaran itu terjadi di hampir 70 persen sungai, danau dan waduk di negara itu.

 

Salah satu penyebab utamanya adalah polusi dari industri.

 

Dan walau pemerintah berusaha bertindak, banyak pabrik yang tidak acuh.

 

Jadi siapa mereka? Seperti yang coba ditelusuri Shuk-Wah Chung, beberapa dari mereka adalah nama-nama yang mungkin Anda kenal dengan baik.

 

Ini adalah hari yang sibuk di toko telepon genggam di Beijing. Model-model baru yang mengkilap keluar dari bawah lemari kaca. Merknya pun akrab ditelinga: Nokia, Sony, LG...dan yang satu ini.

 

Motorola ... adalah salah satu merek ponsel terkemuka di Cina. Tetapi menurut laporan Greenpeace  baru-baru ini, mereka juga salah satu dari pencemar lingkungan terbesar negara itu.

 

Bersama dengan Shell, Nestle dan banyak perusahaan lain dalam daftar 500 perusahaan papan atas Fortune, mereka diduga melepaskan zat kimia beracun ke air.

 

Sejak bulan Mei tahun lalu, pabrik-pabrik harus mematuhi UU Keterbukaan Informasi Lingkungan. Disebutkan, jika mereka melebihi batas polusi, mereka harus membuka informasi itu kepada masyarakat dalam 30 hari.

 

Tapi penyelidikan Greenpeace baru-baru ini menemukan perusahaan-perusahaan ini melanggar hukum karena gagal mematuhinya.

 

Ma Tianjie, Juru Kampanye Toxics Greenpeace menjelaskan bagaimana perusahaan Cina tersebut melakukannya.

 

“Pemerintah di provinsi Hunan menemukan sebuah perusahaan sering melebihi standar pelepasan timbal, kadmium, dan semua logam berat lain. Pencemaran logam berat adalah masalah besar di Cina dan perusahaan-perusahaan seperti ini tidak membagikan informasi pencemaran apa pun kepada publik.”

 

Saya mencoba menghubungi lima perusahaan besar untuk mendapatkan tanggapan mereka, tapi semua menolak untuk berbicara.

 

Sementara ada dua tanggapan balasan melalui email.

 

Motorola menegaskan mereka tidak melampaui tingkat polusi sejak Mei 2008. Sementara raksasa elektronik, Samsung, menyatakan sudah mulai menerbitkan laporan lingkungan hidup tahun ini dan akan memperluas jangkauannya.

 

Tapi Ma Tianjie harus lebih dari sekadar sesuai dengan peraturan pemerintah. Informasi perlu menjangkau mereka yang paling terkena dampak yaitu masyarakat.

 

“Intinya mereka mengkoreksi perilaku pencemaran itu  sehingga mereka merasa tidak memiliki kewajiban untuk membagikan informasi lingkungan lagi. Tapi bagi kami, perlindungan lingkungan tidak hanya antara pemerintah dan perusahaan. Anda masih memiliki tanggung jawab untuk membagikan informasi lingkungan Anda kepada publik sehingga masyarakat dapat memantau atau mengawasi perilaku Anda dalam jangka panjang.”

 

Pencemaran air adalah salah satu masalah yang paling mengancam lingkungan di Cina.

 

Pemerintah Cina menemukan 48 danau besar tercemar serius, dan hampir seperempat penduduk Cina tidak memiliki akses terhadap air minum yang bersih.

 

Geoffery Crothall dari Bulletin Buruh Cina mengatakan dia tidak terkejut dengan laporan Greenpeace.

 

“Kami sudah lama sadar kalau air di Delta Sungai Mutiara sangat tercemar. Sangat umum melihat kanal-kanal dan jalur air yang sangat hitam dan tak mengalir serta berbau busuk. Sama sekali tidak ada yang hidup di air itu tentunya, dan ini melingkupi bermil-mil daerah di sekitar pabrik di Delta Sungai Mutiara.”

 

Ahli lingkungan, Ma Jun, mengatakan jika tidak dilakukan sesuatu untuk mengatasi hal ini, maka sumber daya air Cina bisa segera hilang.

 

”Pencemaran air dan udara adalah masalah serius bagi kami dan jelas perubahan iklim merupakan ancaman yang membayangi. Semua adalah masalah lingkungan besar yang kita perlu atasi. Tapi air agak berbeda dari udara - setidaknya Anda masih memiliki udara untuk bernapas. Namun, dalam hal air, jika kita tetap membiarkan sumber daya air segar dihancurkan, kita akan kehabisan air.”

 

Tapi itu bukan hanya tanggung jawab pabrik-pabrik. Ma Tianjie dari Greenpeace mengatakan pemerintah harus lebih memperkuat peraturannya dengan menekankan aturan Ketebukaan Informasi Lingkungan.

 

“Kami menemukan beberapa biro perlindungan lingkungan daerah tidak memberlakukan peraturan ini sebagaimana mestinya. Misalnya, peraturan mengatakan ketika perusahaan tidak membuka informasi lingkungan sesuai aturan hukum, maka otoritas pemerintah berhak mendenda atau membagikan informasi atas nama perusahaan tersebut. Tapi menurut penelitian kami, tak satu pun dari biro perlindungan lingkungan yang benar-benar berusaha menekan perusahaan untuk membagikan informasi lingkungannya.”

 

Dia menambahkan transparansi yang lebih besar perlu diberikan dalam peraturan, karena banyak biro lingkungan tidak yakin dengan apa yang dianggap sebagai bahan pencemaran utama.

 

Ma Jun setuju, dan ia terkejut betapa sedikit lembaga pemerintah yang sadar hukum.

 

“Beberapa lembaga lokal tidak begitu paham dengan UU baru ini, apalagi pentingnya undang-undang itu. Perusahaan pertama yang menerima surat dari kami, langsung mendatangi badan lingkungan dan pegawai di sana bilang kalau dia tidak tahu soal UU baru itu. Tapi surat kami dengan jelas mengutip UU tersebut dan tampak seperti persyaratan hukum. Jadi mereka mendorong para pencemar mendatangi kami. Ini menunjukkan kurangnya kesadaran akan hal ini.”

 

 
Terakhir Diperbaharui ( Senin, 23 November 2009 13:42 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search