AsiaCalling

Home Berita Philippines Dipuji di Luar Negeri, Sutradara Filipina Berjuang untuk Pengakuan di Negeri Sendiri

Dipuji di Luar Negeri, Sutradara Filipina Berjuang untuk Pengakuan di Negeri Sendiri

E-mail Cetak PDF

Download “Busong” dinyatakan sebagai salah satu dari 10 film terbaik  Asia oleh majalah Asian Wall Street Journal, dan digambarkan sebagai film “berskala kecil tapi berdampak besar”.  

Auraeus Solito,  pembuat film independen yang sudah diakui secara internasional adalah sang sutradara.

Ia telah memenangkan berbagai penghargaan dari luar negeri, tapi ironisnya, dia tidak begitu dihargai di negerinya sendiri.

Karena kesulitan inilah, ia berniat untuk pindah ke luar negeri.

Jofelle Tesorio bertemu dengan sang direktur yang baru kembali ke Filipina,  sepulangnya dari festival film internasional.

Musik klasik mengalun keras dari kamar Auraeus Solito.

Di dalam ada dua akuarium besar, yang menampung spesies ikan langka yang ia kembangbiakkan di waktu luangnya.

Dinding kamarnya dipenuhi dengan berbagai poster film festival internasional, film klasik Filipina dan sebagian film karyanya sendiri.

Solito baru saja kembali dari Eropa dan India, dari pemutaran film kelimanya berjudul “Busong”.

“Para pengkritik film di Eropa dan bahkan India sangat menghargai film ini. Di India mereka sangat menyukainya karena mereka sudah paham isunya. Orang-orang zaman dulu yang mengerti cerita kuno ini karena orang-orang ini adalah orang-orang yang spiritual.”

Kata “Busong” berasal dari suku Pala’wan yang diterjemahkan bebas menjadi “karma instan”.

“Busong adalah satu film yang menjadi kenyataan. Saya selalu ingin membuat film ini. Pada intinya film menceritakan konsep Pala’wan soal takdir. Ini sebenarnya bukan karma, karena karma berjalan sepanjang hidup. Busong adalah karma instan dimana Anda harus menanggung akibat dari semua hal yang Anda lakukan. Kalau Anda menjaga dan  merawat lingkungan dengan baik, maka lingkungan juga akan baik kepada Anda. Tapi kalau Anda memperlakukannya dengan buruk, maka alam juga akan memerlukan Anda dengan buruk. Sebenarnya saya menyadari, ini soal penyatuan manusia dengan alam. Saya hanya ingin mengingatkan para penonton bahwa kita semua satu dengan alam. Dan apa yang kita lakukan dengan alam akan mempengaruhi kita dan itulah yang dilupakan masyarakat.”

Film ini membahas pengrusakan lingkungan di provinsi Pulau Palwan, perbatasan ekologi terakhir di negeri itu yang kini terancam rusak karena ada 15 pertambangan beroperasi di sana.

Film “Busong” dimainkan pertama kali di dunia pada tahun lalu, dalam ajang Film Festival Cannes yang bergengsi di Perancis.

Bagi Solito, film ini mencerminkan perjalanan pribadinya.

“Ini seperti satu perjalanan spiritual, karena saya selalu merasa perlu kembali lagi, karena saya merasa belum menjadi bagian dari kota ini. Ketika masih kecil, saya selalu suka alam. Saya senang dengan hutan, binatang-binatang, dan  ikan. Kami pergi ke sana ketika saya masih berusia 5 tahun, dan saya merasa benar-benar menyatu. Para tetua terkesima dengan saya karena sudah hafal setiap tempat keramat di sana meski saya tidak dibesarkan di sana. Ibu saya menceritakan kisah-kisah ini.”

Ibunda Solito berasal dari suku Pala’wan dan menjadi inspirasi utama film ini.

“Pala’wan sebetulnya ironis, ini adalah salah satu kebudayaan tua di Filipina. Secara genetik, kami ada hubungan dengan Manusia Tabon, tulang paling tua yang ditemukan di Filipina. Ironisnya masyarakat kami sendiri tidak menyadari kekunoan mereka. Ada sesuatu yang salah dengan spiritualitas di negeri kami. Mereka punya cara berpikir yang salah. Para penjajah tidak hanya menjajah tanah kami, tapi juga jiwa dan pikiran kami.”

Dan Cannes bukan satu-satunya panggung internasional bagi Solito.

Pada 2005, filmnya berjudul “The Blossoming of Maximo Oliveros” memenangkan puluhan penghargaan, dan dimainkan di lebih dari 30 film internasional.

Para pengkritik memuji film ini sebagai cermin budaya yang unik yang menggambarkan ambigu masalah gay dan lesbian dalam masyarakat Filipina.

“Mungkin karena film-film bertemakan orang gay cenderung mendatangkan banyak uang di Filipina. Itu sebabnya saya tampilkan dalam film laki-laki gay yang jatuh cinta dengan polisi. Laki-laki gay itu sangat menawan dan penyayang. Film ini seperti drama, juga komik. Menurut saya, unsur-unsur seperti itu yang membuatnya menarik dan waktu itu unsur-unsur seperti itu masih segar.”

Tapi suksesnya film ini gagal melejitkan karir Solito di negeri asalnya.

“Itu cerita yang tragis. Meski ini film saya yang pertama berjudul “The Blosomming of Maximo Oliveros” untuk kali pertama laris manis di Filipina, film lokal lainnya yang diluncurkan kesulitan. Bioskop sudah penuh dengan film-film Hollywood. Ini menyedihkan sekali. Sobat saya selalu mengatakan ‘kamu kan sutradara terkemuka di negeri ini, tapi kamu tidak mendapatkan kerjaan, tidak ada yang memberikan kamu pekerjaan.’. Ini menyedihkan, karena kalau Anda lihat sejarah perfilman di Filipina, baru lima tahun terakhir ini para pembuat film muda memenangkan sesuatu. Hanya dalam waktu sepuluh tahun saja kami sudah memenangkan begitu banyak penghargaan. Ini sangat mengecewakan karena negeri kami sendiri tidak menghargainya.“

Solito yakin orang Filipina layak menonton film-film bagus dengan cerita yang pantas.

Itu sebabnya ia menyarankan kepada para pembuat film untuk membuat film dengan ide asli ketimbang menjiplak film-film Hollywood atau Bollywood.

“Saya merasa agak dikhianati ketika saya kembali ke Filipina, karena saya menyadari masyarakat di negeri ini sudah berhenti berpikir. Mereka berhenti memikirkan dirinya sendiri karena begitu terjebak dalam cara bepikir penjajah. Mereka berusaha menjadi orang lain, orang asing, orang Amerika. Mereka sudah berhenti memikirkan akar dari masyarakat adat mereka. Itu sebabnya banyak orang yang merasa tidak nyambung ketika menonton film “Busong” di Manila. Dan saya menyadari sekarang seberapa jauh kita melangkah ke belakang dari keadaan yang kita sekarang ini.”

Tapi film yang berkualitas seperti yang disutradarai Soliot, tidak begitu laris di negerinya sendiri.

Dan film festival Independen Cinemalaya hanya memberikan sedikit kepada para pembuat film indepeden setiap tahunnya.

“Saya menyadari saya tidak bisa mengkompromikan pekerjaan saya. Jadi saya harus menunggu untuk dapat dana yang tepat untuk membuat film-film yang saya inginkan. Kalau Anda tanyakan pada saya apa masalah utama pembuat film independen, saya selalu katakan perbandingan antara pendanaan film dan ide. Ada begitu banyak ide tapi pendanaan tidak kunjung datang.”

Karena dana dan dukungan yang terbatas, Solito berniat untuk pindah ke luar negeri.

“Saya senang sekali tinggal di India. Saya mau tinggal di sana. Setelah saya selesaikan trilogi Pala’wan, setelah saya melakukan tugas untuk suku saya. Mungkin saya bisa libur dan tinggal di India.”

Ia terkesima dengan tanggapan positif para penonton India untuk film “Busong” - ia didatangi petugas keamanan dan kebersihan hotel, khusus untuk memuji filmnya.

“Ini menyedihkan, orang di luar negeri yang bisa melihat apa yang bagus dalam negeri saya. Sekarang saya mengerti mengapa orang-orang meninggalkan Filipina. Saya sudah mengabdi pada ngeri ini dengan kesenian saya,  tapi kalau ini tidak yang bisa membantu meneruskan karya seni saya, sekarang sudah saatnya saya pindah ke luar negeri. Masa-masa bulan madu yang romantis sudah berakhir.”

Solito berencana  pergi ke India untuk membuat berbagai film.

Tapi ia ingin kembali suatu hari nanti dan berharap kalau sudah pulang nanti, bakal ada orang-orang yang menonton film-filmnya.

Terakhir Diperbaharui ( Senin, 05 Maret 2012 10:29 )  

Add comment


Security code
Refresh

Search